Senin ,24 Nopember 2014
Balai Melayu Hotel

Artikel

Multilingualisme dalam Kesusateraan Indonesia Kontemporer

29 Januari 2011 13:08:57

Oleh : Umar Kayam

Bagian Kesatu

Barangkali bukan suatu kebetulan bila Linus Suryadi AG menyelesaikan lirik prosanya, Pengakuan Pariyem, pada tanggal 28 Oktober 1980. Barangkali bukan suatu kebetulan juga bila Rama Y.B. Mangunwijaya menghadiahkan romannya, Burung-burung Manyar, kepada saya dengan coretan “kagem dimas Umar Kayam…” pada tanggal 17 Agustus 1981. Apa yang “bukan suatu kebetulan” dengan tanggal-tanggal tersebut? Kecuali bahwa tanggal-tanggal tersebut adalah tanggal-tanggal yang dianggap “keramat” oleh bangsa Indonesia.

Karena sukses kedua buku tersebut yang telah berhasil memikat perhatian begitu banyak pembaca dalam waktu yang begitu singkat. (Pengakuan Pariyem telah mengalami cetak ulang dan penerbit Djambatan telah memberitahu saya bahwa Burung-burung Manyar cetakan kedua sedang dipersiapkan pula). Bukan. Tanggal keramat suatu bangsa bukankah tidak relevan benar dengan sukses penjualan buku-buku?

Tanggal-tanggal “keramat” itu jadi relevan karena warna dan gaya yang unik dari kedua buku itu. Dengarlah (atau bacalah):

“Pariyem nama saya
lahir di Wonosari Gunung Kidul pulau Jawa
tapi kerja di kota pedalaman Ngayogyakarta
umur saya 25 tahun sekarang
-tapi nuwun sewu tanggal lahir saya lupa
tapi saya ingat betul weton saya:
wukunya Kuningan
di bawah lindungan Bethara Indra
Jumat Wage waktunya
ketika hari bangun fajar

“Ya, ya, Pariyem saya
saya lahir di atas amben bertikar
dengan ari-ari menyertai pula
oleh mbah dukun dipotong dengan welat
tajamnya tujuh kali pisau cukur
bersama telor ayam mentah, beras, uang logam
bawang merah dan bawang putih, gula, garam
jahe dan kencur, adik ari-ari jadi satu
sehabis dibersihkan dibungkus periuk tanah
kemudian ditanam di depan rumah
ya, ya telur: lambang sifat bayi baru lahir
belum bisa apa-apa -murni-
gulang-gulung tergantung pada yang tua
beras dan duwit logam: lambang harap
semoga hidup kita serba berkecukupan
dalam hal sandang, pangan dan uang
bawang merah dan bawang putih, gula, garam
jahe dan kencur: lambang pahit manisnya hidup
yang bakal jumpa dan terasakan, agar:
jangan terlalu sedih bila mendapat kesusahan
jangan terlalu gembira bila mendapat kesenangan
dengan upacara kecil adik ari-ari pun dikubur
di depan pintu sebelah kanan bila bayi laki-laki
di depan pintu sebelah kiri bila bayi perempuan
dipanjar diyan sampai bayi umur selapan….”

(Suryadi AG, 1981)

Dan kemudian yang berikut dari Burung-burung Manyar:

“Pernah dengar “anak kalong”? Nah, dulu aku inilah salah satu modelnya. Asli totok. Garnisun divisi II Magelang (ucapkan: MaKHelang). Bukan divisi TNI dong. Kan aku sudah bilang: totok. Jadi KNIL. Jelas kolonial, mana bisa tidak. Papiku Loitenant keluaran akademi Breda Holland. Jawa! Dan Keraton! Semua tergabung dalam  legiun Mangkunegara. Tetapi Papi minta agar dimasukkan ke dalam slagorde langsung di bawah Sri Baginda Neerlandia saja. (Ratu Wilhelmina kala itu). Tidak usah dibawahi raja Jawa. Terus terang Papi tidak suka pada raja-raja Inlander, walaupun konon salah seorang nenek canggah atau gantung siwur berkedudukan selir Keraton Mangkunegaran. Soalnya, Papi suka hidup bebas model Eropa dan barangkali itulah sebabnya juga, Ibu kandungku seorang nyonya yang, menurut babu-babu pengasuhku, totok Belanda Vaderland sana…… Dan kulit Mamiku putih kulit langsep mulus; nah itu justru bukti Mami bukan totok. Sebab orang Belanda berkulit merah blentong-blentong seperti genjik anak babi. Keterangan kawan-kawanku brandal itu bukan membuatku bangga, sebab untuk anak yang normal, kehidupan brandal anak kalong Inlander jauh lebih heibat daripada menjadi sinyo Londo yang harus necis pakai sepatu, baju musti harus putih bersih dan segala macam basa-basi yang membuatnya menjadi marmut dalam kurungan…….”

(Mangunwijaya, 1981, 3)

Lima puluh dua tahun sesudah Sumpah Pemuda lahirlah Pengakuan Pariyem satu prosa lirik berbahasa Indonesia yang sarat dengan ungkapan-ungkapan Jawa hingga dibutuhkan lampiran penjelasan khusus tentang kosakata Jawa sebanyak 52 halaman. Dan tiga puluh enam tahun sesudah proklamasi kemerdekaan Indonesia seorang pastor Jawa memberi kita sebuah roman yang sangat kontemporer dengan narasi metafora dan kosakata Indonesia-Jawa.

Bagian Kedua

Barangkali “memang” satu kebetulan tanggal-tanggal itu. Dalam kehidupan di negeri yang bernama Indonesia ini memang alangkah sering kebetulan itu terjadi. Seakan-akan tangan Sang Nasib dengan nakalnya harus selalu sering mengutak-atik format kehidupan seseorang.

Kebetulan atau bukan kebetulan Linus Suryadi AG. dan Mangunwijaya pastilah menulis karya dan memilih wahana ungkapan mereka dengan sadar. Keduanya adalah cendekiawan Jawa yang mendapat banyak cicipan budaya Barat. (Meskipun yang seorang mendapatkannya lewat dropout sekolah polisi Sukabumi dan IKIP Sanata Dharma, Malioboro dan pembacaan sendiri sedang yang seorang lewat sekolah Seminarium dan Sekolah Tinggi Teknik di Aachen, Jerman Barat). Keduanya adalah cendekiawan Jawa yang dibesarkan di lingkungan budaya Jawa Mataram II. (Yang seorang di desa Kadisobo, Yogyakarta, yang seorang di kawasan Ambarawa dan Magelang). Dan kemudian keduanya adalah pengamat yang sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Jawa. (Yang seorang lewat profesinya sebagai penyair yang seorang lewat profesinya sebagai pastor desa).

Akan tetapi bersamaan dengan atribut di atas mereka berdua sekaligus adalah juga dibesarkan di alam Indonesia merdeka. Yakni alam suatu negara kebangsaan yang berketetapan untuk menjadi modern dengan bermodalkan ratusan  lingkungan budaya tradisional. Dalam posisi kultur yang demikian, kedua penulis tadi mencoba mendudukkan pemahaman mereka akan berbagai gejala yang nampak dalam masyarakat. Linus Suryadi mengamati stratifikasi sosial Jawa dalam lapisan priyayi dan wong cilik yang ternyata masih berjalan dalam keselarasan yang mengharukan.

Pariyem menerima tempatnya yang ditentukan sebagai wong cilik dalam jaringan keluarga priyayi Cokrosentono dengan rasa ikhlas bahkan syukur. Affair percintaannya dengan anak majikannya yang hanya dikukuhkan dengan penerimaan Pariyem pada keluarga itu sebagai selir diterima oleh Pariyem dengan penuh keikhlasan dan kebahagiaan.

Dalam suatu negara kebangsaan yang muda di mana prinsip egalitarian merupakan idealisme yang terpancar dengan jelasnya dalam UUD dan dasar filsafat yang disusunnya sendiri, pengamatan tentang Pariyem yang nrimo sebagai wong cilik, menarik. Rama Mangun mengamati makna kemerdekaan manusia, bangsa dan negara dalam satu spektrum pencitraan hubungan cinta yang memikat. Juga disini dipertanyakan tempat wong cilik dalam negara yang merdeka itu. Apakah kemerdekaan negara dan bangsa akan sekaligus juga memerdekakan orang-orangnya? Apakah kemerdekaan suatu negara akan berarti pula berhentinya penindasan yang kali ini mungkin akan dikerjakan oleh bangsa itu sendiri?

Dalam mempertanyakan masalah masalah-masalah tersebut, kedua penulis kita tadi sesungguhnya meneruskan tradisi kesusasteraan kontemporer kita. Yakni mempertanyakan relevansi sistem nilai tradisional kita dalam proses kita menjadi suatu negara kebangsaan yang modern. Pertanyaan dan usaha pemahaman itu memang sekarang menjadi jauh lebih rumit dan menarik daripada Siti Nurbaya  dan Salah Asuhan, umpamanya, akan tetapi pada dasarnya mereka mempertanyakan masalah dasar yang sama. Maka adalah menarik untuk melihat bagaimana  dalam mengembangkan pengamatan yang kontemporer, kaya dan lebih rumit itu, mereka memilih bahasa ungkapan yang mereka rasakan paling dekat yakni bahasa Jawa.

Pada waktu tema itu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas dan modern, kedua penulis itu justru memilih wahana yang ditimbanya dari sumur-summur budaya yang tradisional. Gejala apakah ini? Manipulasi bahasa demi untuk pemuasan penciptaan suasana dalam ceritera? Pengakuan akan ketidakmampuan bahasa Indonesia menyampaikan artikulasi yang agak khusus? Pengakuan akan miskinnya khazanah kosakata bahasa Indonesia? Cermin keangkuhan kultural orang Jawa akan kekayaan khazanah kosakata dan kemampuannya bermetafora? Saya tidak tahu apakah rentetan pertanyaan itu mengandung sedikit unsur kebenaran di dalamnya.

Bagian Ketiga

Dalam Konggres Bahasa Indonesia 1954 di Medan, bahasa Indonesia dirumuskan sebagai berikut: Asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu, dan dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhannya dalam masyarakat Indonesia sekarang (Singgih, 1978). Dan bahasa Melayu yang tumbuh dalam masyarakat Indonesia itu adalah bahasa Melayu yang tumbuh dalam masyarakat yang sangatlah majemuknya.

Masyarakat-masyarakat Indonesia adalah masyarakat-masyarakat yang memiliki perkembangan sejarah budayanya sendiri yang berbeda-beda. Maka dapatlah dibayangkan bagaimana bahasa Indonesia itu mau tidak mau akan tumbuh di bawah pengaruh kemajemukan yang demikian dari masyarakat-masyarakat itu. Dalam bahasa lisan, bahasa Indonesia akan tumbuh dengan luwes dan cairnya, menampung berbagai pengaruh dialek dan bahasa daerah.

Dalam bahasa tulis, perkembangan itu agaknya akan mengalami pertumbuhan yang lebih tersendat. Bahasa tulis sebagai wahana penyampaian pikiran yang teratur menurut suatu konvensi ilmu pengetahuan akan menuntut suatu perilaku masyarakat yang sedikit banyak telah terbiasa dengan budaya ilmu pengetahuan modern. Dengan lain perkataan, bahasa Indonesia sebagai bahasa tulis harus mampu berkembang sebagai bahasa ilmu pengetahuan modern.

Bahasa Indonesia akan mengalami perkembangan yang tersendat di bidang ini karena perilaku masyarakat kita sebagai masyarakat ilmu masih ada dalam perkembangan permulaan. Sebagai masyarakat, mambaca pun masyarakat kita masih ada dalam taraf perkembangan yang mula sekali. Padahal pengayaan (enrichment) suatu bahasa (ilmu pengetahuan) sedikit banyak juga ikut ditentukan oleh penyanggaan masyarakat yang membaca itu. Masyarakat membaca adalah masyarakat yang merangsang dialog dari apa yang dibacanya.

Bahasa tulis sebagai wahana pengungkapan kesusasteraan akan tersandung pada penerjemahan gugusan ide dan fantasi yang sangat pribadi dari penulisnya. Gugusan ide dan fantasi yang sangat pribadi ini, biasanya erat sekali berhubungan dengan “budaya ibu” yang dengan sendirinya diungkapkan dalam bahasa ibu. Maka berbahasa Indonesia, yakni berbahasa Melayu yang disesuaikan dengan perkembangan masyarakat Indonesia, dalam kesusasteraan pada hakekatnya adalah menerjemahkan gugusan ide dan fantasi yang tersusun dalam otak kita dalam simbol-simbol bahasa ibu ke dalam bahasa baru yang disebut bahasa Melayu itu.

Masyarakat sastra kita sebagai tradisi adalah masyarakat sastra lisan. Maka sebagai pendukung kesusasteraan ia juga akan merupakan masyarakat yang terbiasa dengan bahasa lisan ibu. Dengan demikian, kesusasteraan Indonesia kontemporer kita sebagai kesusasteraan bahasa tulis juga masih merupakan tradisi yang baru sekali. Bahasa Kesusasteraan adalah “bahasa pilihan” penulis. Penulis kesusasteraan adalah penulis yang mengikuti kaidah keindahan yang ditemukan dan dikembangkannya sendiri.

Kaidah ini ditawarkan baik dalam bentuk gaya bahasa yang memanipulasi maupun dalam bentuk penggarapan alur, perwatakan ataupun pencitraan latar. Masyarakat pembaca yang akan menerima atau menolak kaidah yang ditawarkan itu. Maka sampai dia menemukan dan mengembangkan kaidah itu dia akan bertindak sebebas-bebasnya. Karena itulah, kita berbicara tentang bahasa kesusasteraan sebagai “bahasa pilihan” penulis itu. Bahasa pilihan itu adalah wilayah pribadinya, private domain sang penulis, di mana tidak seorang lain pun dapat mengganggunya sampai dia, sang penulis itu, menerbitkannya.

Mungkin dalam memahami Pengakuan Pariyem dan Burung-burung Manyar kita mesti mempertimbangkan masalah “bahasa pilihan” ini. Linus dan Mangunwijaya telah menjatuhkan pilihan pada bahasa seperti yang telah kita baca dalam kedua buku itu. Itu wilayah pribadi mereka!

Bagian Keempat

Ben Anderson dari Universitas Cornell belum lama ini melemparkan suatu pendapat bahwa penulis-penulis Jawa yang terbaik tidak menulis dalam bahasa ibu mereka tetapi memilih menulis dalam bahasa Indonesia karena mereka melihat bahasa Indonesia sebagai “bahasa pembebasan” mereka. Maksudnya, hanya lewat bahasa Indonesia yang lebih netral, tidak mengenal kerumitan tingkat-tingkat dan bebas dari beban budaya Jawa yang kompleks, penulis Jawa yang paling berbakat itu dapat berkiprah seluas-luasnya mengadakan “polemik budaya” dengan bangsanya. Bila ini benar, bagaimana kita menjelaskan fenomena Pengakuan Paruyem dan Burung-burung Manyar itu? Jelas kedua penulis kita itu dapat dikatakan sebagai penulis-penulis Jawa yang baik. Jelas mereka melaksanakan suatu “polemik budaya” dengan karya sastra mereka. Akan tetapi bahasa pilihan mereka itu adakah semacam bahasa pembebasan seperti diisyaratkan oleh Ben Anderson? Mungkin jawaban kita akan sangat ambivalen. Pada satu pihak kita justru melihat ketidakbebasan kedua penulis itu memakai bahasa Indonesia karena masih perlu mengikatkan diri mereka dengan ungkapan-ungkapan bahasa Jawa. Akan tetapi bersamaan dengan itu juga justru bebas dalam “meng-Indonesiakan” bahasa Melayu itu. Sesudah 53 tahun bersumpah untuk menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia dan sesudah 36 tahun menyatakan diri kita merdeka sebagai bangsa mungkin sekali justru buku-buku seperti Pengakuan Pariyem dan Burung-burung Manyar itu mengajak kita semua mempertanyakan bagaimana kebudayaan itu mesti kita isi. Pertanyaan seperti: apakah bahasa persatuan yang kita junjung bersama itu adalah bahasa persatuan yang akan tertutup bagi perembesan yang kreatif dari berbagai unsur bahasa daerah?

Dengan demikian menyempitkan ruang gerak bagi bahasa pilihan, bahasanya sastrawan? Atau dari sisi lain: seberapa jauh unsur bahasa daerah yang sudah terlanjur memiliki tradisi kuat dan didukung oleh kelompok etnik yang besar dapat dengan “semena-mena” mengadakan perembesan kreatif ke dalam bahasa Melayu itu? Dengan demikian menjadi “diktator bahasa” dalam penentuan sosok bahasa Indonesia kemudian? Dapat juga kita bertanya atau/dengan bahasa Burung-burung Manyar lewat tokoh Larasati: akan cukup merdekakah kita dalam melakukan berbagai pilihan dalam menyatakan jati diri kebudayaan kita lewat ungkapan bahasa? Pertanyaan ini semua sah belaka. Se-sah kehadiran semua unsur yang mendukung kebudayaan Indonesia itu.

Kepustakaan

Anderson, Benedict O.G., “Sembah Sumpah, the Political of Language and Javanese Culture,” dibacakan dalam Pertemuan Multilingualisme in Modern Indonesia, Agustus, Indonesia

Mangunwijaya, Y.B., Burung-Burung Manyar, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1981

Singgih, Amin, Menuju Bahasa Indonesia Umum, Pustaka Jaya, 1978

Suryadi AG, Linus, Pengakuan Pariyem, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta, 1981.

______________________

Artikel ini merupakan ceramah Umar Kayam yang disampaikan dalam Ceramah dan Diskusi Peringatan Hari Sumpah Pemuda/Hari Pemuda ke-53, universitas senelas Maret, Solo, 28 Oktober 1981.


read : 4862

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  




Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 08 1313 9494 58


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
08 1313 9494 58


Profil Penulis

 Online: 174
 Hari ini: 882
 Kemarin : 1.676
 Minggu kemarin : 17.921
 Bulan kemarin : 65.242
  Total : 2.474.480