Sabtu ,20 Desember 2014
Balai Melayu Hotel

Artikel

Pantun Sebagai Cermin Kehidupan Masyarakat Melayu

14 Juli 2010 11:13:20

Oleh: Prof. Dr. Abdul Hadi W.M.


A. Pendahuluan


Setiap bangsa pada umumnya memiliki bentuk pengucapan puitik yang disukai untuk menyampaikan alam pikiran, perasaan, dan tanggapan mereka terhadap kehidupan yang mereka hayati. Orang Jepang memiliki tanka dan haiku, dua ragam pengucapan puitik yang ringkas dengan aturan tertentu. Di Eropa soneta dan kuatrin merupakan bentuk puisi lama yang disukai orang Italia, Perancis, Inggeris, dan lain-lain. Orang Persia menyukai rubaiyat dan ghazal, dua bentuk puisi empat baris dengan aturan dan keperluan berbeda. Orang Melayu memilih pantun dan syair, sekalipun bentuk pengucapan lain seperti gurindam dan taromba (bahasa berirama) juga cukup disukai. Yang terakhir ini mirip dengan mantera.

Sebagai karangan terikat pada aturan persajakan tertentu, pantun memiliki kekhasan. Ia terdiri dari sampiran dan isi. Sampiran berperan sebagai pembayang bagi maksud yang ingin disampaikan, sedangkan isi berperan sebagai makna atau gagasan yang ingin dinyatakan. Walaupun pada umumnya pantun terdiri dari empat baris dengan pola sajak a b a b atau a a a a, tidak jarang terdiri dari enam atau delapan baris. Pantun delapan baris disebut talibun. Pada pantun empat baris, dua baris awal merupakan sampiran, sedang dua baris akhir merupakan isi. Dalam sampiran biasanya yang dinyatakan ialah gambaran alam atau lingkungan kehidupan masyarakat Melayu termasuk adat istiadat, sistem kepercayaan dan padangan hidupnya.

Berbeda dengan syair yang lahir dari tradisi tulis yang muncul bersamaan dengan perkembangan agama Islam, ada ada pertautannya dengan bentuk pengucapan puitik dalam sastra Arab dan Persia; pantun lahir dari tradisi lisan dan tampaknya hanya sedikit dipengaruhi oleh puitika India, Arab, dan Persia. Sebagai bentuk sajak yang mudah diingat dan mudah pula dinyanyikan, hubungan antara sampiran dan isi dalam pantun sejak lama tidka sedikit pula yang berpendapat bahwa hubungannya sebatas persamaan bunyi.

Seperti halnya syair dan gurindam, wilayah penyebaran pantun begitu luasnya di kepulauan Nusantara. Ia tidak hanya digenal dan digemari oleh orang Melayu, tetapi juga oleh suku bangsa lain di Nusantara seperti Aceh, Gayo, Batak, Mandailing, Minangkabau, Lampung, Sunda, Jawa, Madura, Bugis, Makassar, Sasak, Bima, Banjar, dan suku bangsa lain di Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Terkadang timbul pertanyaan: kapankah penyebarannya itu terjadi? Apakah pada zaman sebelum Islam yaitu dalam abad ke-8 sampai ke-11 M ketika bahasa Melayu dijadikan lingua franca di bidang perdagangan. Ataukah pada zaman pesatnya perkembangan agama Islam ketika bahasa Melayu naik peranannya bukan sekadar sebagai bahasa pergaulan dalam perdagangan, tetapi juga bahasa pergaulan antar etnik di Nusantara dalam bidang politik, administrasi, intelektual, dan kebudayaan? Bagaimana pula penyebaran itu berlangsung. Tetapi bagaimana pun dan kapan pun mulai tersebar, pantun memang memiliki daya tarik tersendiri yang memungkinkan luasnya penyebarannya. Ia merupakan bentuk pengucapan puitik yang bersahaja, namun penuh dengan kemungkinan.

Tentu saja selain persoalan-persoalan berkenan dengan keunikan dan struktur lahirnya, dalam makalah ini dibahas juga kedudukan pantun dalam kebudayaan Melayu serta perannya sebagai media yang mencerminkan kehidupan masyarakat Melayu.


B. Sebagai Pengucapan Puitik


Tidak banyak diketahui kapan pantun muncul dan dari akar apa ia dibentuk. Juga tidak banyak diketahui apa arti dari kata-kata pantun sebenarnya. Teks Melayu tertua yang dijumpai dan mulai menyebut pantun sebagai bentuk sajak yang popular dalam masyarakat Melayu ialah teks syair-syair tasawuf Abdul Jamal,  penyair dan sufi Melayu yang hidup di Barus dan Aceh pada abad ke-17 M dan merupakan murid dari Syekh Syamsudin Pasai. Syair Abdul Jamal itu sebutan pantun dengan kata-kata seperti bandun, bantun, dan lantun. Secara tersirat dalam syair itu pantun disebut sebagai puisi yang biasa dilantunkan secara spontan untuk menyindir, berseloroh, dan menghibur diri (Braginsky, 1975).

Dalam beberapa bahasa Nusantara seperti Sasak di Lombok dan Madura di Jawa Timur, kata-kata pantun diberi arti nyanyian. Orang yang menyanyi di Madura dikatakan apantun (berpantun), dan yang dinyanyikan ialah sajak yang dalam Bahasa Melayu disebut pantun. Masuknya perkataan ini dan kebiasaan menyanyikan pantun mungkin telah dikenal pada abad ke-17 M, atau setidak-tidaknya pada abad ke-18 M. Yaitu pada masa tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan Islam, sedangkan bahasa Melayu dijadikan bahasa pengantar sebelum murid menguasai bahasa Arab. Pada abad ke-18 pula mulai banyak kitab dan hikayat Melayu diterjemahkan dan disadur ke dalam bahasa Jawa, Sunda; Madura, dan Sasak (Abdul Hadi W. M., 2005). Dalam kenyataan memang tidak sedikit dari lirik lagu-lagu Jawa, Minangkabau, Sunda, Melayu Betawi, dan lain-lain adalah pantun.

Pengertian pantun sebagai lirik yang dinyanyikan atau nyanyian itu sendiri telah disebutkan oleh seorang sarjana Belanda abad ke-19 M. J. J. de Hollander dalam bukunya Handleideing bij de beoefening der Maleische taal en letterkunde (1893). Hollander mengatakan bahwa yang disebut pantun sebagian besarnya adalah sajak percintaan yang dinyanyikan atau dibaca dengan dinyanyikan secara spontan dan dalam pesta. Dia merujuk pada dua hikayat Melayu, yaitu Hikayat Bikrama Datya Jaya dan Hikayat Bujangga Mahaputra. Dalam hikayat yang pertama ditemukan berulang kali kata-kata seperti: "Segala dayang-dayang pun bersyair dan berpantun dan berseloka." Hollander berpendapat bahwa syair berasal dari sastra Arab, seloka dari sastra India (Sanskerta), sedang pantun adalah nyanyian Melayu asli.

Dominannya tema percintaan itu masih ditemui hingga sekarang. Pantun Melayu yang sangat popular misalnya seperti berikut ini:


Dari mana datangnya linta
Dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke hati

Pantun yang terdapat dalam lagu Betawi "Jali-jali" juga demikian:


Paling enak si mangga urang
Pohonnya tinggi buahnya jarang
Paling enak si orang bujang
Ke mana-mana tiada melarang
 

Di sana gunung di sini gunung
Di tengah-tengahnya bunga melati
Ke sana bingung ke sini bingung
Dua-duanya menarik hati

Di dalam masyarakat Melayu Banjar tema cinta juga dominan dalam pantun. Contohnya seperti berikut:


(Apa guna bermain pelita
Kalau tidak dengan sumbunya
Apa guna bermain cinta
Kalau tidak berani kawin)

Dalam masyarakat suku bangsa Nusantara lain pun demikian. Contohnya adalah pantun Madura tentang seseorang yang ditinggalkan kekasihnya:


Ka bara bara’ kellem arena
Katemor kolare nyangsang
Kaberra’-berra’ le’ atena
Nyalemor ate se posang
 
Ke arah barat tenggelam matahari
Di timur daun nyiur kering bergelantungan
Sungguh berat rasa dalam hati
Merayau-rayau aku kebingungan

Adapun pantun Jawa berikut ini ialah tentang pertemuan seorang pemuda dengan seorang gadis setelah lama tidak berjumpa:


Suwe ora jamu
Jamu godhong mentimun
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan gawe ngelamun
 
(Lama tak minum jamu
Minum jamu daun mentimun
Lama tidak ketemu
Ketemu sekali saya melamun)

Di sini saya petikkan pula dua pantun dalam Hikayat Suluang Merah Muda, yang di dalamnya juga terdapat pantun terkenal “Pulau Pandan jauh di tengah”. Yang pertama:


Selat Dinding tanjung terkucil
Di sini cik Ayub berkedai belanga
Putih kuning pinggangnya kecil
Pipi dicium berbau bunga

Adapun yang kedua tidak begitu ketara sebagai pantun percintaan, yaitu seperti ini:


Terang bulan di laman tangga
Sarang penyengat di dalam padi
Adakah orang semacam saya
Menaruh khianat dalam hati?

Tetapi yang lebih seronok adalah pantun seperti berikut ini:


Ke Teluk sudah ke Siam sudah
Ke Mekkah saja saya yang belum
Berpeluk sudah bercium sudah
Menikah saja saya yang belum

Roman Siti Nurbaya karangan Marah Rusli yang ditulis pada awal abad ke-20 juga penuh dengan kutipan pantun percintaan.

jika betul tema yang dominan pada mulanya adalah sindiran dan percintaan, sejak kapan tema pantun mengalami perluasan? Hollander mencatat bahwa kemungkinan besar setelah pesatnya perkembangan agama Islam. Para ulama dan ahli tasawuf menghendaki sastra tidak hanya mengungkapkan tema-tema percintaan dan pelipur lara, tetapi juga tema-tema sosial dan keagamaan, sehingga selain unsur hiburan sastra juga mengandung unsur pendidikan. Risalah tasawuf Hamzah Fansuri Asrar al-’Arifin, sebagaimana akan dikupas nanti, merupakan satu bukti tertulis. Dalam teks yang disalin pada abad ke-17 M dimuat sebuah pantun yang memuat ajaran tasawuf.

Oleh karena itu beralasan jika muncul anggapan bahwa pantun menjadi bentuk pengucapan puitik yang isi dan temanya kompleks setelah pesatnya perkembangan agama Islam pada abad ke-15 dan 16 M. Hamzah Fansuri sendiri hidup pada abad ke-16 dan murid-muridnya seperti Abdul Jamal mengecam pantun hanya mengemukakan tema-tema berisi percintaan. Begitu pula pembedaan antara sampiran dan isi lantas kian dipertegas, sebab itu sesuai dengan puitika dan estetika yang diperkenalkan orang-orang Islam. Dalam tradisi Islam karangan sastra digambarkan seperti manusia yang terdiri dari dua unsur yang saling berhubungan, yaitu badan dan jiwa/roh. Bentuk lahir atau badan dari karangan sastra disebut surah dan makna batin atau isinya disebut ma’na.

Kaitan perkembangan tema pantun dengan Islam dapat dilihat dari jenis-jenis pantun. Dari segi isi pantun dapat dibagi menjadi: (1) Pantun anak-anal; (2) Pantun cinta dan kasih sayang; (3) Pantun tentang adat istiadat dan cara hidup mayarakat Melayu; (4) Pantun teka teki; (5) Pantun pujian atau sambutan, misalnya dalam menyambut tamu di sebuah majelis; (6) Pantun nasehat, misalnya pentingnya budi pekerti; (7) Pantun agama dan adab; (8) Pantun cerita (lihat juga Harun Mat Piah, 1989: 189-90). Dilihat dari isinya ini jelas pantun mencerminkan kehidupan masyarakat Melayu.


C. Sampiran dan Isi


Kapan pantun muncul dalam sejarah kesusastraan Melayu? Tidak ada sarjana dapat memastikan. Namun ada sebuah bukti tertulis yang saya ketahui, yaitu dalam risalah tasawuf Hamzah Fansuri Asrar al-Arifin (Rahasia Ahli Makrifat). Risalah itu ditulis oleh sang Sufi pada abad ke-16 M, namun naskah yang ada merupakan yang ditulis pada akhir abad ke-17 M. Ada dua rangkap puisi yang mirip pantun dijumpai dalam naskah tersebut.


Kunjung kunjung di bukit tinggi
Kolam sebuah di bawahnya
Wajib insan mengenai diri
Sifat Allah pada tubuhnya
 
Nurani hakikat khatam
Supaya terang taut maha dalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjadi sultan kedua alam

(al-Attas 1970:235)

Pada pantun pertama, pembagian sampiran dan isi jalas. Sampiran berupa lukisan alam. Sedangkan isinya berupa gagasan. Begitu pula pola sajak akhirnya a b a b, seperti pantun pada umumnya. Namun pada pantun kedua perbedaan antara sampiran dan isi samar-samar, sedangkan pola sajak akhirnya a a a a. Yang menarik bahwa hubungan atau kesejajaran makna antara sampiran dan isi cukup jelas pada pantun pertama. Hubungan ini tersirat dalam citraan bukit yang tinggi dengan gagasan tentang diri yang hakiki. Apabila manusia mengenal dirinya yang hakiki atau hakikat dirinya ia akan memperoleh kemuliaan. Kolam merupakan citraan yang dapat dihubungkan dengan cermin, sedangkan tubuh manusia menurut pandangan sufi adalah tempat kita bercermin untuk mengenal sifat-sifat Tuhan.

Hooykaas adalah salah seorang dari sarjana yang meyakini ada kaitan tersembunyi antara sampiran dan isi. Begitu pula Noriah Mohamed. Namun tidka sedikit yang berpendapat bahwa antara sampiran dan isi hanya dihubungkan oleh kesejajaran bunyi. Sutardji Calzoum Bachri

(2006) termasuk yang berpendapat demikian. Malah ia mengatakan bahwa puisi yang sebenarnya dalam pantun adalah sampirannya. Isinya adalah tambahan yang tidak terlalu diperlukan secara estetik. Pantun seperti itu memang tidak sedikit. Kecuali itu terdapat pula pantun yang perbedaan antara sampiran dan isinya samar-samar seperti yang terdapat dalam teks risalah tasawuf Hamzah Fansuri.

Untuk mernbuktikan bahwa antara sampiran dan isi memiliki kaitan makna yang sifatnya tersembunyi, saya ingin memberi contoh beberapa pantun. Pantun yang mengandung nasehat ini terdapat dalam Hikayat Awang Sulung Merah Muda. Pantun ini lahir ketika dia bersemayam dengan istrinya Tuan Putri Dayang Seri Jawa di magun di atas sebuah peterana. Sang putri bertanya nama-nama pulau yang dilihatnya. Setalah menjelaskan pulau Tapai, pulau Keladi dan pulau Sembilan, ada sebuah pulau yang agak jauh yang ditanyakan namanya. Seperti sebelumnya dia menyebut nam pulau itu seraya berpantun seperti berikut:


Pulau Pandan jauh di tengah
Di balik pulau Angsa dua
Hancur badan dikandung tanah
budi baik dikenang jua

Dalam pantun ini jelaslah bahwa sampiran merupakan lukisan tentang alam. Fungsinya ialah sebagai citraan yang membangkitkan cita rasa akan keindahan lahir. Namun bagaimana pun juga citra pulau Pandan jauh di tengah memiliki kaitan arti dengan badan yang hancur dikandung tanah. Yaitu sesuatu yang tersembunyi dari penglihatan mata. Lebih jauh dinyatakan bahwa di depan pulau Pandan terdapat Fulau Angsa dua, yang disebabkan lebih dekat mudah dilihat. Begitu pula dengan budi baik, seseorang yang kita kenal, walaupun sudah tiada. Contoh lain ialah pantun berikut:


Pisang emas dibawa berlayar
Masak sebiji di dalam peti
Hutang emas dapat dibayar
Hutang budi dibawa mati

Kata-kata "Masak sebiji dalam peti" memberi gambaran sesuatu yang tersembunyi seperti budi. Sedangkan kata "Pisang emas dibawa berlayar” menunjukkan sesuatu yang kelihatan seperti halnya orang berhutang emas. Lihat pula pantun berikut ini:


Sudah puas kutanam ubi
Nenas juga dipandang orang
Sudah puas kutanam budi
Emas juga dipandang orang

Dalam pantun ini hendak dinyatakan bahwa orang gemar melihat martabat seseorang berdasarkan penampakan lahir yaitu yang dimiliki. Tetapi lupa kepada sesuatu yang lebih penting yaitu budi sebab tersembunyi, tersembunyi seperti halnya ubi yang tersembunyi dalam tanah. Jadi beda dengan nenas yang tampak di mata. Selain itu, pantun memiliki konteks sosial budaya. Ubi adalah tanaman domestik atau pribumi yang sudah dikenal lama oleh orang Melayu dan tidak sukar mendapatkannya. Tetapi nenas adalah tanaman yang didatangkan dari Amerika Latin pada zaman kolonial. Harga buah nenas jelas lebih mahal dari ubi. ltu sebabnya ia lebih dipandang dibanding budi.


Kelap kelip kusangka api
Kalau api mana puntungnya
Hilang gaib kusangka mati
Kalau mati mana kuburnya

Citraan kelap-kelip pada sampiran masih berkaitan dengan perkataan gaib. Teka-teki apakah orang hilang yang dibicarakan sudah mati atau belum dinyatakan melalui pertanyaan: “Kalau mati mana kuburnya?" Basis pada isi ini punya kaitan dengan basis kedua pada sampiran, "Kalau api mana puntungnya?" Api adalah tanda kehidupan dan puntung tanda kematian. Kubur begitu pula adalah tempat orang mati dikuburkan. Yang menarik ialah sampiran dan isi sama-sama indahnya kendati sederhana.

Contoh lain ialah pantun yang tergolong pantun nasehat atau pantun agama seperti berikut ini:


Kemumu dalam semak
Terbang melayang selaranya
Meski ilmu setinggi tegak
Tidak sembahyang apa gunanya

Kemumu adalah burung yang tidak dapat terbang tinggi seperti burung yang lain pada umumnya. Ia dapat dijadikan perumpaman bagi ilmu dunia, yang walaupun kelihatannya memiliki kekuatan tetapi tidak dapat mengangkat derajat manusia di sisi Tuhan. Di sini pandangan hidup orang Melayu yang jiwanya sudah diresapi ajaran Islam terserlah. Bagi sufi Melayu misalnya sembahyang atau shalat dipandang sebagai mikrajnya orang Islam. Mikraj berarti pendakian atau penerbangan menuju hakikat tertinggi, yaitu Tuhan, yang tidak dicapai semata melalui ilmu pengetahuan rasional.

Contoh pantun lain mengenai kaitan tersembunyi sampiran dan isi dapat ditemui dalam buku Hooykaas (1965) seperti berikut:


Orang berladang orang berhuma
Sebulan sekali pergi ke gereja
Jika kucing tidak di rumah
Tikus menari di atas meja

Menurut Hooykaas ini lahir ketika seorang sarjana sastra Melayu dari Inggris Overbeck pulang ke rumahnya setelah lama bepergian. Ia melihat keadaan rumah yang berantakan. Lantas dia berkata kepada pembantunya seorang pemuda: "Jikalau kucing tidak di rumah, tikus menari di atas meja." Pernyataan itu secara spontan dilontarkan Overbeck dan didasarkan atas kenyataan bahwa di dekat rumahnya tinggal beberapa orang Kristen yang bertani. Sebulan sekali mereka pergi ke gereja. Ketika itulah pemuda tersebut mengambil kesempatan untuk melihat-lihat apakah ada gadis cantik di sana. Jika ada ia akan dirayu bercumbu-cumbuan di rumah tuannya, sehingga rumah tuannya itu berantakan. Sebelum sempat dirapikan kembali, tuannya sudah pulang ke rumah. Isi pantun itu jelas adalah sebuah gagasan yang dinyatakan dalam bentuk perumpamaan. Setelah tahu keadaan di rumah orang Kristen itu setiap bulannya, maka pemuda itu berkata kepada Overbeck: “Orang berladang orang berhuma, sebulan sekali ke gereja.’ Setelah digabung gengan apa yang sebelumnya diucapkan Overbeck kepada pemuda pembatu rumahnya, maka jadilah pantun di atas.


D. Estetika dan Cermin Kehidupan


Sebelum dijelaskan betapa pantun mencerminkan kehidupan masyarakat termasuk alam pikiran dan perasaaan, pandangan hidup dan kepercayaan serta adat istiadatnya, perlu kita lihat ciri-ciri estetik pantun. Melalui hasil penelitian sarjana seperti Winstedt, Wilkinson, van Ophuysen, Hooykaas, Harun Mat Piah dan dan Noria Mohamed, dan lain-lain, kita dapat menjelaskan seperti berikut:

Pertama, pantun pada umumnya terdiri dari empat baris dengan pola bunyi akhir a b a a b atau a a a a. Kendati demikian terdapat pantun yang terdiri dari dua, enam, dan delapan baris. Yang terakhir ini disebut talibun.

Kedua, setiap baris merupakan kesatuan yang terpisah, walau tidak jarang berkesinambungan dengan baris berikutnya. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, yang membayangi isi yang akan dihadirkan. Baris ketiga dan keempat disebut isi, berupa gagasan dan tanggapan yang hendak dinyatakan.

 

Ketiga, baris sampiran dan isi kerap memiliki kaitan arti di samping kesejajaran bunyi.

Keempat, tiap baris pada umumnya mengandungi empat kata dasar dengan jumlah suku kata antara delapan sampai sepuluh.

Kelima, sering terdapat klimaks berupa perpanjangan atau kelebihan jumlah unit suku kata atau perkataan pada bait isi.

Keenam, sampiran pada umumnya berisi lukisan alam yang terdapat di lingkungan sekitar. Ia sering hadir sebagai citraan-citraan simbolik yang dapat menjelaskan pandangan estetik orang Melayu, kedekatan dengan alam dan budaya masyarakatnya.

Adapun ciri batinnya dapat dirasakan melalui makna simbolik dari citraan dan gagasan yang hendak dihadirkan yang merujuk pada pandangan hidup, alam perasaan, gagasan, kepercayaan, dan sistem nilai yang dihayati masyarakat Melayu setelah mereka menganut agama Islam. Ciri batin inilah yang secara keseluruhan mencerminkan kehidupan masyarakat Melayu, khususnya berkenaan dengan estetika, metafisika, dan sistem sosial dan kekerabatan bangsa Melayu. Bagi orang Melayu semua itu saling terkait dan merupakan kesatuan yang tidak terpisa. Ini tercermin dalam pantun ringkas seperti berikut:

Yang kurik kundi, yang merah saga
Yang baik budi, yang indah bahasa

Tidak mengherankan jika Daillie (1988: 6) mengatakan bahwa pantun memberikan gambaran ringkas kehidupan dan alam orang Melayu dalam sebutir pasir. Di dalamnya tergambar semua unsur kehidupan manusia Melayu meliputi tanah, rumah, kebun, ladang, sawah, sungai, laut, gunung, hutan, pepohonan, buah-buahan, binatang, burung, ikan dan lain sebagainya; hal-hal bersahaja dalam kehidupan keseharian. Pantun juga mengekspresikan adat istiadat dan kebiasaan, kearifan, kepercayaan dan perasaan orang Melayu tentang segala hal, termasuk cinta mereka kepada sesama manusia, cinta kasih lelaki dan wanita, serta cinta kepada Tuhan dan Nabi.

Telah diketahui bahwa sampiran dalam pantun sering merupakan lukisan alam yang berfungsi sebagai citraan yang hidup. Gunanya untuk membangun cita rasa puitik. la merupakan hal-hal yang karib dan memiliki arti tertentu dalam kehidupan orang Melayu. Ia juga dipilih dengan pertimbangan tertentu yang matang, jadi tidak sembarangan. Demikian juga gagasan yang disampaikan dalam isi, melekat dalam pandangan orang Melayu yang berakar dalam agama Islam. Misalnya dalam contoh seperti berikut:

Sarung Bugis jadikan selimut
Dibawa orang dari Bintan
Sudah tertulis di Latihul Mahfud
Di dunia ini kita berkawan
 

Pulau sembilan tinggal delapan
Satu merajuk ke Kuala Kedah
Sudahlah nasib permintaan badan
Kita di bawah kehendak Allah

Sarung Bugis umumnya dibuat dari sutra dan merupakan sarung paling mahal dan prestisius di Nusantara. la tentu sudah tidak asing bagi orang Melayu karena kehadiran orang Bugis sudah terjadi sejak lama di kepulauan Melayu. Mereka telah hadir di Aceh sebagai pelaut ulung, bahkan salah seorang laksamana mereka Datuk Seri Maharaja Lela pernah dirajakan di Aceh pada akhir abad ke-16 M. Pada saat yang sama sampiran ini menggambarkan kegiatan pelayaran orang Melayu dan Bugis di masa yang terkait dengan penyebaran Islam.

Citraan pada sampiran pantun juga sering merupakan perbandingan dan perumpamaan, dan tidak jarang merupakan lambang yang merujuk kepada Kehadiran agama Islam membuat orang Melayu kian yakin bahwa apa yang terbentang di alam semesta dan dalam diri manusia itu merupakan ayat-ayat-Nya, artinya tanda yang menakjubkan dari keagungan, keindahan dan kemahakuasaan-Nya. Dengan itu obyek-obyek dalam alam yang dihadirkan sebagai citraan hadir untuk melambangkan sesuatu. Contohnya bunga kemboja adalah lambang kematian karena pohonnya biasa di tanam di komplek pekuburan. Buah limau yang masam melambangkan rasa tidak senang atau penolakan seseorang kepada orang tertentu, misalnya apabila ia diberikan kepada utusan seorang pemuda yang ditolak permitaannya untuk meminang anak gadisnya. Buah delima adalah lukisan tetap bagi seorang gadis yang cantik muda. Sebuah kelapa yang dikorek kumbang adalah tanda seorang perempuan yang telah berhubungan badan dengan seorang lelaki.

Marilah kita lihat pantun yang mengandung perbandingan seperti berikut ini. Yang diperbandingkan ialah gadis yang sudah ternoda keperawanannya dengan mumbang yang dikerat tupai:


Buah kembang buah bidara
Masak serunsai dua runtai
Bersubang disangka dara
Bagai mumbang ditebuk tupai

Buah mengkudu atau jenisnya yang lain pacae, bukanlah buah yang tezat. Oleh karena itu tidak disukai orang kendati mengandung obat. Tetapi buah kandis sangat disukai karena manis.


Buah mengkudu kusangka manis
Kandis terletak di dalam puan
Gula madu kusangka manis
Manis lagi senyuman tuan

Ada juga pantun yang isinya adalah pembelaan diri seorang pemuda bagi perbuatannya yang tidak baik. Dalam sampiran dinyatakan agar menghindari teritip yang tidak berguna untuk dipakai pergi mengail ikan. Pantun ini juga mengandung kritik terhadap seseorang yang mestinya menjadi teladan banyak orang, tetapi ternyata sering melakukan perbuatan tidak baik.


Teritip di tepi kota
Mari berkayuh sampan pengail
Imam khatib tagi berdosa
Bertambah pula kita yang jahil

Buah bidara bukan makanan utama dibanding pisang. Tetapi nasi makanan utama yang diperlukan. Apalagi nasi lemak. la merupakan hidangan istimewa seperti halnya nasi uduk di Jakarta, nasi liwet di Jawa Tengah, dan nasi rawon di Jawa Timur. Tetapi sayang dalam pantun berikut ini kelezatan dan arti nasi lemak menjadi berkurang, sebab dimakan dengan buah bidara, bukan misalnya dengan mentimun.


Nasi lemak buah bidara
Sayang selasih saya turutkan
Buang emak buang saudara
Karen kasih saya turutkan

Demikianlah karena berahinya kepada seorang wanita seorang pemuda sanggup memutuskan hubungan dengan orang tua dan sanak saudaranya. Hal itu memang tidak jarang terjadi, padahal betapa pun hubungan seorang anak dengan ibu dan saudaranya patut dipelihara dibanding menurutkan hawa nafsu.

Lagi sebuah pantun melukiskan pentingnya galah untuk mengambil buah di dahan pohon yang tinggi dan buah yang dimaksud ialah cempedak, yang merupakan buah istimewa bagi orang Melayu dibanding buah sejenis seperti nangka.


Buah cempedak di luar pagar
Ambil galah tolong jolokkan
Saya anak baharu belajar
Kalau salah tolong tunjukkan

Kata tunjukkan ada kaitan dengan jolokkan. Nasehat atau kritik atas suatu perbuatan yang salah adalah ibarat galah yang kegunaannya dapat dijadikan alat untuk mengambil buah yang berharga dan lezat seperti cempedak, yaitu ilmu pengetahuan. Dalam Hikayat Malim Deman terdapat pantun seperti berikut:


Malam ini merendang jagung
Malam esok merendang serai
Malam ini kita berkampung
Malam esok kita bercerai

Makan rendang serai tentu tidak enak dibanding makan rendang jagung. Begitu pula dengan bercerai tidak enak dibanding hidup bersama satu kampung. Di dalam pantun ini tidak dikatakan berumah tetapi berkampung. Ini memperlihatkan bahwa orang Melayu lebih mengutamakan kebersamaan dalam komunitas dibanding hidup tercerai dalam privasi. Perhatikan pula pantun yang mengandung kritik seperti berikut ini:


Apa guna asam paya
Kalau tidak menggulai ikan
Apa guna lagak dan gaya
Kalau bahasa tidak dibicarakan

Bagi orang Melayu budi bahasa lebih penting dibanding lagak dan gaya. Ini selaras dengan adab Islam. Dalam Adab Islam orang menjadi terhormat bukan disebabkan kekayaan dan lagak lagunya. Tetapi karena memiliki pengetahuan, mengenal kearifan, dan dapat menuturkan pikirannya melalui bahasa yang bagus. Kecuali itu dalam mengemukakan pendapat selalu didasarkan pengetahuan yang benar, dan pertimbangan pikiran yang matang. Pantun yang baru saja dikutip menunjukkan pula betapa pentingnya bahasa sebagai sarana untuk meningkatkan kecerdasan. Sayangnya, pengajaran bahasa Indonesia sekarang ini diabaikan dan banyak orang lupa bahwa asal-usul bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu.

Pantun berikut ini mengandung ulangan kata-kata lengkap. Isinya adalah pandangan orang Melayu bahwa tidak patut seseorang itu menyalakan kelahiran. Penyebab burukya nasib seseorang bukan disebabkan takdir, melainkan karena seseorang terlalu jauh berangan-angan dan menurutkan hawa nafsu:


Tidak salah bunga lembayung
Salahnya pandan bila menderita
Tidak salah bunda mengandung
Salahnya badan salah meminta

Pandan menderita karena durinya. Badan menderita karena duri angan-angan dan hawa nafsu. Bunga lembayung dan bunda mengandung sangat sarasi. Bunga lembayung sangat indah. Seorang anak lahir dari kandungan ibu berkat cinta dan kasih sayang. Dalam pandangan ahli tasawuf, cinta terkait dengan keindahan. Sesuatu dicintai karena memancarkan keindahan. Kata-kata al-rahman dan al-rahim yang kita baca setiap harinya dalam kalimat Basmalah mengandung arti cinta. Yang pertama, al-rahman atau Maha Pengasih adalah cinta Tuhan yang asasi (dzatiyah), yang diberikan kepada semua makhluk-Nya. Sedangkan al-rahim atau Maha Penyavang adalah cintanya yang wajib (wujub), artinya wajib diberikan kepada orang yang benar-benar beriman, bertaqwa, dan beramal saleh di jalan Allah. Kata-kata al-rahim diserap ke dalam bahasa Melayu dan diberi arti rahim ibu. Cinta seorang ibu kepada anaknya memang wajib diberikan.

Banyak pantun Melayu berisi paparan tentang nama pulau, gunung, bukit, tanjung, muara, pelabuhan, negeri, dan lain-lain. Misalnya, seperti dalam Hikayat Awang Sulung Merah Muda seperti telah diuraikan. Tidak jarang keindahan pulau-pulau itu dihubungkan dengan keindahan seorang gadis yang dicintai atau budi baik seorang sahabat yang disayangi. Seperti tampak dalam pantun berikut ini:


Tanjung Katung airnya biru
Dibuat anak cerminan mata
Sedang sekampung lagi rindu
Apalagi jika jauh di mata

Kadang pantun dijadikan selingan dalam sebuah cerita, seperti dalam pantun berikut ini:


Mabuk buaya karena kesumba
Destar sebalik ditudungkan
Mabuk hamba karena bercinta
Sebagai penyakit ditanggungkan

Tidak jarang pula pantun dijadikan pembuka cerita. Misalnya yang terdapat dalam permulaan kisah Sabai Nan Aluih dari Minangkabau:


Kait berkait rota saga
Sudah terkait di akar bahar
Terbang ke langit berberita
Tiba di bumi jadi kabar

Pantun-pantun yang saya contohkan ini memperlihatkan wawasan estetika yang tumbuh di dunia Melayu. Di sebalik keindahan lahir itu tersembunyi keindahan batin. Penciptaan sastra terjadi bukan semata disebabkan pengamatan cermat terhadap kehidupan sosial, tetapi didasarkan atas pemikiran dan kearifan. Seperti tersirat pada pantun pembuka kisah Sabai Nan Aluih, keindahan dan kebenaran dicapai oleh penulis melalui proses pengilhaman setelah seorang penulis menempuh jalan ilmu suluk.

Demikian pembahasan saya tentang pantun sesuai dengan pengetahuan yang terbatas. Semoga tidak mengecewakan dan selaras dengan tema yang diminta panitia seminar ini.

_____________________

Makalah ini telah dipresentasikan dalam Seminar Budaya Melayu di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Indonesia, pada tanggal 16-17 Desember 2008.

Prof. Dr. Abdul Hadi W.M. adalah penyair dan guru besar Universitas Paramadina, Jakarta.

Daftar Pustaka

  • Al-’Attas, Syed M. Naquib, (1970). The Mysticism of Hamzah Fansuri. Kuala Lumpur: University of Malay Press.
  • Daillie, Francois-Rene, (1988). Alam Pantun Melayu: Studies  on the Malay Pantun. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan PustaKa.
  • Harun Mat Piah, (1989). Puisi Melayu Tradisional: Suatu Pembicaraan Genre dan Fungsi. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • Hooykaas, C., (11965). Perintis Sastra. Kuala Lumpur: Oxford University Press.
  • Iskandar, Teuku, (1995). Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Brunei: UBD.
  • Noriah Mohamed, (2006). Sentuhan Rasa dan Fikir dalam Puisi            Tradisional. Bangi Selangor: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.

Sumber foto: Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM)

Sumber :http://melayuonline.com/ind/article/read/869/pantun-sebagai-cermin-kehidupan-masyarakat-melayu

 

 

 

 

 

 


read : 38368

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  




Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 08 1313 9494 58


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
08 1313 9494 58


Profil Penulis

 Online: 69
 Hari ini: 127
 Kemarin : 1.043
 Minggu kemarin : 8.916
 Bulan kemarin : 65.928
  Total : 2.513.321