Minggu ,21 September 2014
Balai Melayu Hotel

Artikel

Sastra Melayu pada Pergaulan Anak Muda : Potret Pemakaian Puisi Tradisional Di Kalimantan Barat

07 Mei 2010 10:21:19

Oleh : Dedy Ari Asfar


Pengantar

Secara mendadak saya diminta jadi “pemeran pengganti” untuk berbicara dalam dialog Perkembangan Sastra Melayu pada Pergaulan Anak Muda yang dianggarkan dihadiri oleh gergasi seni dan sastra yang datang dari pelbagai kawasan Indonesia. Tawaran ini langsung saya setujui karena di benak saya tebaran ranting-ranting kayu sedikit telah terkumpul sehingga dapat dimanfaatkan untuk dibakar dan menghangatkan badan yang dingin. Dengan harapan, ranting-ranting kayu dapat beralih fungsi bak selimut bagi manusia yang kedinginan sehingga sedikit demi sedikit dapat menghangatkan suasana.

Ranting-ranting ini tentu semacam fenomena dan tradisi dalam bentuk sastra Melayu yang sampai kini masih ada sehingga elok dijuluki tak lapuk kena hujan dan tak lekang kena panas tetapi terpinggirkan oleh zaman dan “kita” sebagai salah satu pelaku yang berperan membuat tradisi ini antara ada dan tiada. Sastra Melayu biasa kita oposisikan dengan sastra modern dan keduanya mengalami perkembangan yang kadang seiring sejalan dan terkadang pula yang modern meninggalkannya. Mengapa sastra Melayu bisa tertinggal? Mungkin disebabkan sastra Melayu cenderung disebarkan dan diapresiasi dengan lisan sedangkan sastra modern diapresiasi dengan tulisan. Kalau orang sudah bosan berlisan maka tidak akan terdengar dan dapat diulang kembali tetapi kalau sastra sudah ditulis maka orang dapat membaca dan menikmati berkali-kali.

Inilah fenomena sastra Melayu di Kalimantan Barat. Sastra Melayu identik dengan sastra lisan—dan masih menjadikan sastra lisan sebagai sebuah kelisanan primer (Ong 1982) sebagai kontras terhadap kelisanan sekunder yang pada zaman sekarang kelisanannya direpresentasikan melalui media teknologi, seperti telepon, radio, dan tv. Pertanyaannya, bisakah kelisanan primer sastra Melayu berubah menjadi kelisanan sekunder? Semoga tulisan ini dapat menjadi pengantar diskusi kita dalam mengangkat dan menjadikan sastra Melayu untuk tidak saja lisan secara primer tetapi juga secara sekunder terutamanya di kalangan anak muda dengan melihat potret puisi tradisional di kalangan anak muda Kalimantan Barat.


Sastra Melayu dan Globalisasi

Globalisasi bagi sebagian kalangan dianggap “hantu” mengerikan yang harus dihindari karena dapat berdampak tidak baik dan negatif untuk kehidupan masyarakat timur yang masih “perawan” dan kaya dengan adat ketimurannya. Namun, globalisasi sebenarnya tidak selalu merujuk pada sesuatu yang tidak baik tetapi juga dapat berpengaruh positif dalam kehidupan manusia. Globalisasi dapat membuat manusia meretas sempadan apapun dalam perikehidupan manusia, tanpa batas dan ini harus disikapi secara positif—dengan memanfaatkan sisi baik dari globalisasi itu. Yang pasti, globalisasi memang tidak dapat dihindari dan mesti diisi dengan tradisi positif yang dimiliki bangsa ini.

Sastra Melayu merupakan salah satu korban yang menjadi santapan “hantu” ini kalau kita menganggap globalisasi sebagai lawan. Interaksi tanpa sempadan ini sebenarnya dapat memartabatkan juga sastra Melayu di semua kalangan karena kemajuan teknologi sebagai konsekuensi logis globalisasi membuat kita harus berpikir untuk menjadikannya sebagai rekanan simbiosis mutualisme. Oleh karena itu, sastra Melayu harus merebut andil untuk diaktualisasikan dalam khazanah pengetahuan dunia melalui dunia tanpa sempadan ini, yaitu dengan memanfaatkan teknologi informasi dan digitalisasi sastra Melayu ke dalam format yang modern dan canggih.


Potret Ekspresi Individual

Apresiasi sastra Melayu yang bercorak puisi tradisional, seperti pantun dan syair dalam kehidupan anak muda mungkin tidak sedahsyat apresiasi mereka terhadap puisi modern. Pantun dan syair masih dianggap milik orang tua dan hiburan tradisional yang kurang relevan untuk anak muda yang gaul dan keren abis. Lantunan dua genre puisi tradisional tersebut lebih sering diamalkan dalam konteks adat perkawinan dan acara balas pantun dalam siaran radio yang pelakunya rata-rata sudah tidak anak muda lagi. Namun, perlahan-lahan fenomena sekarang menunjukkan sudah ada keinginan dari individu anak muda untuk menggemari genre sastra tradisional ini—tetapi dalam situasi yang  masih terbatas pada sms-sms-an. Hal ini mungkin tidak lepas dari pengaruhi acara lenong dan lawakan dalam media televisi yang kerap menggunakan pantun dan syair dua kerat untuk guyonan sehingga anak muda menjadikannya sebuah tren yang patut ditiru.

Selain itu, memang harus diakui, peminat genre pantun dan syair telah menggunakan telepon genggam untuk saling berbalas, terutama pada saat hari raya idul fitri. Pada masa itu, setiap individu merasa mampu mengeluarkan bahasa-bahasa puitis bak sastrawan profesional kepada teman, rekan, keluarga, saudara, dan kerabat untuk mengucapkan selamat hari raya dan memohon permintaan maaf. Misal

Negeri Melayu adat terpandang
Syariat Islam jadi pegangan
Aidil fitri telah datang
Salah dan khilaf mohon dimaafkan

Jambangan indah lagi berseri
Buat hiasan di Aidil fitri
Sms dikirim pengganti diri
Tanda ingatan tak layu dihati

Sungguh mulia si orang alim
Wajah berseri laksana satin
Wahai teman sesama muslim
mohon maaf lahir dan batin

Kenyataan ini menunjukkan bahwa pantun dan syair masih memiliki tempat di hati masyarakat Melayu. Bahkan seorang anak muda sudah mulai ada yang mengekspresikannya dalam sebuah cerpen dengan gaya ala remaja. Perhatikan contoh beberapa pantun yang saya kutip dalam sebuah cerpen yang berjudul “Ketika Mimpi jadi Kenyataan” berikut ini.1 

Fitri mengirim sms ke cowok pujaannya, yang berisikan pantun,

“Dari mana hendak ke mana
Dari Baghdad hendak ke Birma
Kalau boleh saya bertanya
Yang di situ siapa nama?”

Fitri menanti jawaban dengan tidak sabarnya, akhirnya balasan pun tiba.

“Anak kancil bermain di telaga
Sambil makan buah mentimun
Saya Adit ingin bertanya
Maksud apa berkirim pantun

Karena kehabisan pulsa, Fitri mencoba untuk memakai telepon rumah untuk memakai untuk menelponnya, saking tidak sabarnya.

Bukan pahat sembarang pahat
Pahat asli dari pulau Bali
Bukan sahabat sembarang sahabat
Sahabat sejati ingin aku cari

Bagaimana besi jadi kuali
Sedang besi belum dileburkan
Bagaimana dapat sahabat sejati
Sedang nama tak kamu sebutkan

Ingin kutanam pohon semangka
Tapi takut berbuah nangka
Ingin kusebut sebuah nama
Tapi takut kamu kecewa

Pergi ke pasar membeli jamu
Tak lupa memakai selendang
Bolehkah Adit datang bertemu
Agar kita bisa saling pandang

Sinderalla datang dari Eropa
Disambut dengan iringan gendang
Tak ingin saya berjumpa
Muka saya merah jika dipandang

Zaman sekarang, pantun dan syair memberi warna tersendiri dalam mengekspresikan keinginan dan perasaan seseorang. Pantun mulai mengisi ruang kosong yang memang diperlukan oleh pemakainya. Bahkan, dalam konteks sastra Melayu tradisional di Malaysia, pantun di kalangan anak muda memang sangat digemari dan tidak sedikit keharmonian struktur pantun pun bergeser menjadi estetika si pembuat pantun sehingga tidak taat asas pada aturan pantun lama (lihat Zubir Idris 2001:52—53). Perhatikan contoh berikut.

Buah cempedak di ruang angkasa setan
Ambil Gaban tolong potong setan

Saya suka tengok cerita space cop gaban
Kalau ader orang kacau masa saya tengok cerita gaban
Saya akan lempang orang itu sampai pengsan

Ada duit aku naik teksi
tak berduit aku naik bas
Kalau cari matair janganlah seksi
He he nanti pusing belakang orang lain kebas

Abd. Rahman nama sidia ....
You mengaku buat-buat tak suka
Aku di sini dipedulikan apa
Harap kau bahagia buat selamanya


Potret Ekspresi Komunitas

Apresiasi yang bersifat kelompok atau komunitas dalam bentuk sanggar kesenian yang melantunkan genre pantun dan syair di Kalimantan Barat—sudah ada yang menyemarakkannya. Fenomena ini tampak dalam kelompok kesenian Tundang Mayang Sanggar Pusaka yang ada di daerah Sungai Burung, Kabupaten Pontianak. Kelompok kesenian Tundang ini mampu menarik perhatian penikmat sastra dengan mereformulasi pantun dan syair dengan gerak tari dan alat-alat musik dalam pertunjukkannya secara komunikatif.2

Sanggar ini memberi tempat kepada anak-anak muda untuk terlibat dan berekspresi sebagai personel dalam pertunjukan pantun dan syair yang dimusikalisasi (lihat Habibi 2006). Fenomena ini harus digalakkan sebagai usaha untuk memartabatkan genre Melayu tradisional tersebut agar lebih membumi dalam pertunjukan dan kebanggaan, baik kebanggaan bagi si personel maupun bagi para penikmat atau penonton.


Antara Personal dan Profesional

Saya melihat bahwa ekspresi pantun dan syair sebagai sastra Melayu mendapat tempat, baik secara personal maupun profesional. Persoalannya adalah apakah fenomena yang telah dipaparkan berdasarkan potret individu dan komunitas sudah menjamur dan banyak yang meminatinya? Dan sudah cukup? Saya tertarik meminjam konsep stylized dan nonstylized Amin Sweeney (1987) untuk menghidupkan sastra Melayu di Kalimantan Barat.3

Penutur profesional (stylized) ini dapat diibaratkan dengan pedagang yang mampu menyiapkan barang-barang yang diperlukan oleh pembeli dan ia mampu menciptakan bentuk bahasa yang laku untuk dijual kepada khalayak pendengar atau penikmat pertunjukan sastra lisan dengan memanfaatkan bahasa sehari-hari yang lazim dipergunakan dalam komunitas masyarakat pemilik teks itu (lihat Sweeney 1987:108).

Seorang profesional biasanya, selain mampu memainkan perasaan penonton melalui bahasa, juga dapat menawan para penikmat sastra lisan itu dengan menggunakan alat musik tertentu sebagai pengiring cerita. Pada situasi pertunjukan yang demikian ini, penutur profesional dapat memanfaatkan gerak-gerik tubuh sebagai sarana komunikasi nonverbal kepada penikmat sastra secara maksimum selama pertunjukan sastra lisan berlangsung (lihat Sweeney 1987:187).

Nah, dalam menghidupkan sastra Melayu tradisional—harus dimarakkan dengan cara seni pertunjukan, baik pertunjukan profesional maupun pertunjukan semi-profesional. Pertunjukan profesional tentu diberi penghargaan (reward) dalam bentuk uang, layaknya pertunjukan sebuah grup musik profesional sedangkan semi-profesional memberikan mereka “panggung” untuk tampil dengan memberikan penghargaan dalam bentuk non-materi. Pertunjukan sastra Melayu untuk para pelaku semi-profesional diutamakan kepada anak muda baik secara pribadi maupun secara kelompok. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran dan tekanan psikologis pada kalangan muda bahwa genre sastra Melayu memang secara sosial dan budaya disenangi oleh khalayak ramai sehingga tidak ada kesan hanya sebagai sastra pinggir yang terpinggir dan bukan milik kalangan muda. Apabila ini sudah dilakukan dengan baik maka dengan sendirinya para amatir (personal) akan menjamur karena tren dan pasar sastra Melayu sudah tercipta!


Catatan:

1 Tulisan yang disampaikan untuk bahan diskusi pada Seminar Nasional Temu Kepala Taman Budaya dan Seniman Se-Indonesia. Di Pontianak 2007.

2 Secara kebetulan saya mendapat tugas sebagai juri dalam lomba cerpen tingkat remaja se-Provinsi Kalimantan Barat yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Kalimantan Barat. Cerpen remaja ini menjadi unik karena menampilkan pantun untuk berkenalan dan menyatakan cinta kepada lawan jenisnya.

3 Pemanfaatn media musik dan tari dalam pertunjukkan pantun dan syair memperkaya penampilan mereka untuk menarik perhatian khalayak. Selain itu, pemantun dapat secara spontan berpikir cepat merangkai kata dengan menimbulkan humor sesuai konteks dan atau untuk mengingat bait-bait pantun yang akan diujarkannya. Erik Havelock (1963) mengulas dengan komprehensif bagaimana musik dan pergerakan badan merangsang ingatan melalui pola-pola rentak yang disinkronisasikan dengan suasana naratif dan penyebutan verbal bagi si pelantun.

4 Bentuk stylized lazimnya dituturkan oleh penutur profesional sedangkan nonstylized adalah penutur amatir, yang biasa berbagi tuturan dalam bentuk nonformal dan dalam keadaan biasa-biasa saja.


Bibliografi

Abd. Rachman Abror. 2003. Nilai-Nilai Islam yang Terkandung dalam Pantun Etnik Melayu di Pontianak. Tesis Doktor Falsafah. Kuala Lumpur: Universiti Malaya.

Bauman, Richard. 1978. Verbal Art as Performance. Rowley, Massachusetts: Newbury House Publishers.

Daillie, Francoise-Rene. 1988. Alam Pantun Melayu: Studies on The Malay Pantun. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Dedy Ari Asfar.  2005a. Islamic and Pre-Islamic Culture: The Data of Malay Oral Tradition in Cupang Gading, West Kalimantan. Makalah yang disampaikan dalam konferensi Internasional di Imperial Mae Ping Hotel, Chiang Mai, Thailand pada 7—8 Desember 2005.

Dedy Ari Asfar. 2005b. Etnopuitika: Ilmu Linguistik dan Sastra Lisan di Pulau Kalimantan. Makalah yang disampaikan dalam Kongres Linguistik Nasional di Padang, pada 18--21 Juli 2005.

Dedy Ari Asfar. 2006. “Ungkapan Rasa dan Pikir dalam Pantun Melayu Kalimantan Barat”. Jurnal Tuah Talino 2:1—13.

Foley, John Miles (Ed.). 1981. Oral Traditional Literature: A Festschrift for Albert Bates Lord. Ohio: Slavica Publishers, Inc.  

Habibi. 2006. Teknik Penyampaian Pesan dalam Tundang Mayang Sanggar Pusaka. Skripsi S-1 STAIN Pontianak.

King, Victor T.  1993. The Peoples of Borneo. Oxford: Blackwell Publishers.

Liaw Yock Fang. 1993. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Jakarta: Erlangga.

Lord, Albert B. 1971. Singer of Tales. Cambridge: Harvard University Press.

Muhammad Habibi. 2006. “Teknik Penyampaian Pesan-Pesan Dakwah Melalui Kesenian Tundang Mayang Sanggar Pusaka”. Skripsi S-1, STAIN Pontianak.

Noriah Mohamed. 2006. Sentuhan Rasa dan Fikir dalam Puisi Melayu Tradisional. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.

Ong, Walter J. 1982. Orality and Literacy: The Technologizing of the World. New York: Methuen & Co.Ltd.

Piah, Harun Mat. 1989. Puisi Melayu Tradisional: Satu Pembicaraan Genre dan Fungsi. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Sidek Fadzil dkk (Ed.). 2001. Persuratan Melayu dari Lontar ke Layar. Bangi: Jabatan Persuratan Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia.

Skeat, W.W. 1953. Reminiscences of the Expedition. The Cambridge University Expedition to The North-Eastern Malay States and to Upper Perak 1899-1900. Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society 26 (4):9-147.

Sweeney, Amin. 1987. A Full Hearing: Orality and Literacy in The Malay World. Berkely: University of California Press.

____________________

Dedy Ari Asfar, adalah Peneliti pada Pusat Studi Bahasa dan Masyarakat Borneo, Kalimantan Barat. Dedy Ari Asfar dapat dihubungi melalui email : dedyprim@yahoo.com.

_______________________

Tulisan yang disampaikan untuk bahan diskusi pada Seminar Nasional Temu Kepala Taman Budaya dan Seniman Se-Indonesia. Di Pontianak 2007.

Sumber : Dedy Ari Asfar yang dikirimkan melalaui email ke info@melayuonline.com
(dengan penambahan hyperlink dari MelayuOnline.com)

Kredit foto : Buku koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu

Sumber : http://melayuonline.com/ind/article/read/631/sastra-melayu-pada-pergaulan-anak-muda-potret-pemakaian-puisi-tradisional-di-kalimantan-barat

 

 


read : 6605

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  




Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 08 1313 9494 58


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
08 1313 9494 58


Profil Penulis

 Online: 96
 Hari ini: 2.039
 Kemarin : 1.726
 Minggu kemarin : 13.352
 Bulan kemarin : 62.448
  Total : 2.332.976