Rabu ,26 Nopember 2014
Balai Melayu Hotel

Resensi

Syair Damarwulan

21 Oktober 2010 13:54:43

Judul Buku : Syair Damarwulan

Penulis : Partiningsih

Editor : Shendy Amalia

Penerbit : Adicita Karya Nusa, Yogyakarta

Cetakan : Pertama, September 2008

Tebal : xii + 246 halaman

Ukuran : 0,9 x 22,8 cm


Buku ini sebenarnya merupakan hasil skripsi Partiningsih ketika dirinya kuliah di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bagi pengkaji sastra Melayu, buku ini cukup penting untuk dibaca karena dapat dijadikan sumber referensi dalam mengkaji kebudayaan Melayu yang penuh dengan kisah dan mitos. Pemilihan pendekatan Levi-Strauus sangat sesuai karena memang Strauss sedari semula mendedikasikan kerja-kerja ilmiahnya untuk mengungkap makna mitos-mitos yang berkembang dalam suku bangsa di dunia.


Damarwulan Melayu?

Sebagai sebuah kajian sastra, buku ini sangat menarik dan membuat banyak orang penasaran. Orang akan bertanya, benarkah di tanah Melayu ada kisah Damarwulan? Bukankah kisah ini hanya ada di Jawa? Bagi orang antropologi, khususnya antropologi politik, sekilas tentu akan menduga jika memang ada hal itu pasti dilatarbelakangi oleh sentimen Jawa, sehingga orang Melayu membuat cerita tandingan. Seperti halnya kisah tentang asal nama Minangkabau, salah satu versinya menyebutkan bahwa nama Minangkabau berasal dari kemenangan orang Minang beradu kerbau dengan orang Majapahit. Menang kerbau menjadi Minangkabau.

Akan tetapi, jika membaca karya Partiningsih ini, cerita Damarwulan versi Melayu lebih mirip dengan versi Jawa, hanya bentuknya saja yang berbeda. Versi Jawa ditulis dalam bentuk cerita, sedangkan versi Melayu ditulis dalam bentuk puisi.

Pada umumnya, kisah tentang Damarwulan memang dianggap berasal dari Jawa. Kisah ini berlatarbelakang kejayaan Kerajaan Majapahit tempo dulu. Namun, dalam buku ini Partiningsih menemukan bahwa dalam khazanah kebudayaan Melayu, kisah Damarwulan juga ada, meskipun dalam bentuk syair.

Melalui pendekatan Levi-Strauss, Partiningsih membuktikan bahwa syair Damarwulan Melayu memang penuh cita rasa kebudayaan Melayu, meski nama-nama dalam syair tetap menggunakan nama-nama yang sama dengan kisah versi Jawa. Sebenarnya jika dicermati memang agak aneh, mungkinkah orang Melayu memiliki nama Patih Logender (ditulis Pati), Menakjingga, atau Anjasmara?.


Membaca Melayu

Syair Damarwulan adalah sebuah naskah. Jika demikian, syair ini merupakan sebuah teks yang harus dibaca agar dipahami maksudnya. Pembacaan dilakukan dengan pendekatan Levi-Staruss, yaitu mencoba mencari struktur terdalam pada syair Damarwulan Melayu. Jika sudah ditemukan strukturnya, baru kemudian ditafsirkan berdasarkan konteks kebudayaan Melayu.

Apa yang dilakukan oleh Partiningsih sebenarnya bukan pada syair Damarwulan Melayu ini, akan tetapi lebih pada membaca Melayu, terutama upaya untuk memahami kebudayaan Melayu melalui teks. Apabila di dalam pembacaan ini nantinya terdapat kesalahan, maka hal itu masih wajar. Menjadi tidak wajar jika dalam pembacaaan ini nantinya Partiningsih melibatkan emosinya sebagai orang Jawa yang juga memiliki kisah Damarwulan. Tentu hal ini akan menjadi bias.

Dalam kesimpulannya, Partiningsih tampaknya cukup dapat menjaga perasaan kejawaannya sehingga tidak terlihat rasa Jawa dalam skripsi ini, akan tetapi tetap mengedepankan sisi ilmiah sesuai dengan pendekatan Levi-Strauss. Syair Damarwulan dalam hal ini tampak sebagai sebuah naskah Melayu yang mengajarkan kemandirian, kejujuran, keluarga, dan sikap satria, yang juga diajarkan dalam kebudayaan Melayu. Intinya, syair Damarwulan yang dikupas Partiningsih yang orang Jawa itu tetap mengusung keluhuran budaya Melayu.

 

Yusuf Efendi

Sumber : http://melayuonline.com/ind/bookreview/read/155/syair-damarwulan-dalam-kesusastraan-melayu-sebuah-penafsiran-ala-strukturalisme-levi-strauss

 

 


read : 2565

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  



Other news



Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 08 1313 9494 58


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
08 1313 9494 58


Profil Penulis

 Online: 123
 Hari ini: 1.387
 Kemarin : 1.857
 Minggu kemarin : 17.921
 Bulan kemarin : 65.242
  Total : 2.478.553