Artikel
Pengembangan Imajinasi dan Masa Krisis Anak
14 Juli 2010 11:19:49
Oleh : M Eko Purwanto
Beberapa waktu lalu seminar dan workshop anak, buku, dan dunia dongeng di gelar oleh Japan Foundation di Jakarta (Kompas, 3/3). Seminar dan workshop semacam ini, sering diselenggarakan untuk mengembangkan pemahaman dan metodologi penyampaian dongeng kepada anak-anak. Sosialisasi peran buku cerita dan dongeng terhadap pengembangan imajinasi anak, menjadi sangat perlu, karena terbukti mampu membangun serta mengembangkan kekuatan imajinasi anak. Program pendidikan anak usia dini (PAUD), tidak akan lengkap, jika kurikulum di dalamnya tidak memiliki content tentang dunia dongeng-mendongeng.
Usaha untuk mengiringi proses perkembangan daya pikir masa kanak-kanak di usia dini, tidak bisa lepas dari buku-buku cerita dan dongeng. Pakar-pakar pendidikan, sudah melegitimasi pengaruh yang sangat signifikan, antara buku cerita dan dongeng bagi perkembangan psikomotorik, afektif dan perilaku anak di kelak kemudian hari. Bahkan Einstein sendiri mengatakan bahwa dunia imajinasi lebih penting dari dunia nyata. Karena seluruh penciptaan yang dilakukan manusia berawal dari ranah imajinasinya.
Dalam konteks dongeng dan buku cerita untuk anak-anak, mungkin kita bisa bercermin ke Negara Sakura, Jepang, sebagai negara yang sangat peduli dengan pendidikan kanak-kanak. Bahkan konon khabarnya, ketika Hiroshima dan Nagasaki di bombardir oleh Amerika di tahun 1945 dulu, Kaisar Jepang tidak menanyakan berapa tentara yang masih hidup pada saat itu, tetapi berapa Guru yang yang masih hidup untuk melanjutkan proses pendidikan di negaranya. Inilah bukti seorang pemimpin yang memperhatikan kemajuan bangsa dan negaranya. Sekarang, kita bisa melihat dengan mata kepala kita bahwa Jepang akhirnya mampu mengejar kekalahannya, dimasa perang dunia ke-II, dengan menjadikan negaranya sebagai pionir dibidang teknologi, dan menjadi salah satu negara maju, yang sangat diperhitungkan di seluruh dunia.
Beberapa tahun terakhir ini, film anak-anak dan buku-buku dongeng dari Jepang, menghiasi layar kaca di Indonesia dan toko-toko buku ternama. Hal ini tidak bisa lagi dipungkiri bahwa film Power Rangers, Doraemon, Naruto dan lain-lain menjadi film anak-anak yang sangat digemari di Indonesia. Sementara, masyarakat kita sekarang ini, masih disuguhkan dan dipaksa menyaksikan sinetron-sinetron yang bercerita tentang pengkhianatan, keserakahan, perselingkuhan dan lain-lain. Artis-artis anak-anak masih dipaksa melakonkan cerita-cerita dewasa yang tidak bertujuan kepada pembangunan psikomotorik, afektif dan perilaku anak, secara wajar dan baik.
Masa Perkembangan Anak
Kita sepakat, bahwa semua anak yang lahir tidak membawa pikiran-pikiran orang tuanya, bahkan tidak diwarisi dari orang tuanya. Anak-anak lahir dalam kondisi pikiran kosong, tetapi memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan. Sehingga apa pun yang akan diajarkan kepada anak akan sepenuhnya diserap secara tuntas, tanpa mempedulikan latar belakang keluarga yang melahirkannya. Dengan demikian semua anak, yang baru lahir mempunyai potensi yang sama untuk menjadi pribadi yang sempurna, tergantung proses pendidikan yang diberikannya. Seperti yang dikatakan oleh pakar pendidikan anak dari Italia, Dr Alexis Carrel (1947), yang mengungkapkan bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang paling kaya. Masa ini seyogianya didayagunakan dengan sebaik-baiknya. Tugas pendidik adalah memanfaatkan masa-masa awal kanak-kanak ini tanpa menyia-nyiakannya.
Menurut Maria Montessori, dalam bukunya The Absorbent Mind, 2008, masa kanak-kanak disebut sebagai periode emas pendidikan. Pada periode inilah semua kehidupan pribadi seseorang anak manusia dimulai, dibentuk, dan diarahkan. Seorang anak akan mampu menjadi pribadi dengan kemampuan, keterampilan (skill), dan pengetahuan apa pun sesuai yang diinginkan, jika pada periode pendidikan awal dilakukan dengan tepat dan benar. Maria Montessori membagi perkembangan pribadi anak sampai menjelang dewasa, dalam tiga tahap perkembangan, yaitu usia 0-6, 16-12, dan 12-18 tahun. Semua periode ini merupakan matarantai yang tidak putus dan saling terkait. Jika pendidikan pada periode awal mengalami kegagalan, bukan tidak mungkin pada periode selanjutnya juga mengalami kegagalan. Periode pertama (0-6 tahun) merupakan periode paling sensitif, masa peka, sekaligus usia emas anak dalam menjalani proses pendidikan.
Jika seorang dewasa mempelajari sesuatu dengan kesadaran, mengenai apa yang dibutuhkan, diinginkan, dan dicita-citakan, maka mentalitas orang dewasa itu akan menular kepada anak-anaknya. Dengan kata lain, apapun yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh orang tuanya, maka mentalitas bawah sadar (pikiran bawah sadar) anak akan mengadopsinya dengan daya serap yang sangat tinggi dan ketuntasan yang paripurna. Kita menyebut mentalitas orang dewasa dengan berpikir sadar, sementara mentalitas anak justru sebaliknya, yakni mentalitas tak sadar (bawah sadar). Para ahli pendidikan, menyatakan perbedaan antara daya serap kondisi sadar dan bawah sadar, adalah 20 % berbanding 80%. Artinya dalam kondisi bawah sadar manusia mampu menyerap informasi lebih banyak, yakni 80 % dibanding dalam kondisi sadar, yang hanya 20 % saja. Dari kondisi ini, kecerdasan anak akan menghasilkan kemajuan yang mengagumkan, anak menyerap impresi-impresi pengetahuan dari luar dirinya bukan dengan pikirannya namun dengan hidupnya itu sendiri.
Krisis yang Harus Dilewati
Dalam proses perkembangannya, seorang anak akan mengalami 3 (tiga) masa krisis yang harus dilewati, yaitu : Pertama, krisis oral sensorik (mulut). Krisis ini terjadi saat bayi pada masa menyusui. Pelajaran yang dilewati adalah tumbuhnya dasar rasa percaya diri pada seorang anak. Seorang anak yang memperoleh asupan ASI secara teratur akan memiliki dasar kepercayaan diri yang kuat. Perasaan (afektif) percaya diri anak akan melemah, jika si anak sering mendapati kekecewaan, misalnya kebutuhan ASI yang tidak terpenuhi. Jika krisis ini tidak mampu dilewati akan tumbuh perilaku-perilaku sepeti sinis, tidak percaya diri, pesimistis, selalu kecewa, tidak terbuka, dan selalu merasa gagal atau bersalah.
Kedua, krisis anal maskular (dubur) yang berlangsung pada usia 2 hingga 3 tahun. Pada masa ini anak belajar mengontrol tubuh mereka, khususnya kebersihan dan mobilitas. Latihan membuang ''hajat'' dan membersihkannya merupakan aktivitas yang sering ditemui. Namun lebih dari itu anak belajar berlari, memeluk orang tua, dan mempertahankan mainannya. Kegagalan melewati krisis ini hanya akan menjadikan seorang anak yang memiliki kepribadian seperti robot, malu-malu, peragu, penakut, selalu merasa salah, dan setiap kali itu pula meminta maaf.
Ketiga, krisis genital lokomotor yang berlangsung antara usia 3 hingga 6 tahun. Pada tahapan ini, anak mulai memahami fisiknya, anak mulai bertanya mengapa mereka berbeda dengan lawan jenisnya. Kegagalan dalam melewati fase ini bisa berakibat fatal dalam pertumbuhan psikologisnya terutama yang terkait dengan kehidupan seksual. Seorang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak peka pada bidang seks, takut impoten, memikirkan yang bukan-bukan, dan kadang banyak omong namun tidak berisi. Kegagalan dalam melewati krisis ini bisa jadi gagal dalam melewati krisis berikutnya, yakni krisis atensi, keremajaan, dan kedewasaan muda di usia 18 tahun.
Ketiga krisis ini mau tidak mau, suka tidak suka, harus dilewati oleh seorang anak manusia secara alami. Dengan demikian, seorang anak akan tumbuh menjadi pribadi dengan kemampuan mental yang luar biasa, pribadi yang memiliki inisiatif, penuh ide baru, optimistis, dinamis, ambisius, senang dengan hal-hal baru, produktif, dan segala predikat positif lainnya. Dengan kata lain, krisis ini menjadi sunatullah yang harus dilewati dengan baik, yang akan mengantarkan seorang anak menjadi pribadi yang paripurna.
Akhirnya, paling tidak kita perlu menghubungkan krisis di masa kanak-kanak dengan buku-buku cerita anak dan dongeng, untuk mengiringi kehidupan pikiran dan imajinasi anak. Tentu, kita tidak menghendaki anak-anak kita gagal melewati masa krisisnya. Oleh karena itu, jangan sampai anak-anak kita disuguhkan oleh cerita-cerita dewasa dalam sinetron, yang justru mengganggu perkembangan anak-anak kita melewati masa krisisnya dengan baik. Kita sebagai orang dewasa dituntut untuk memahami kondisi ini, demi proses perkembangan pikiran anak-anak kita.
Sumber Berita: http://www.kabarindonesia.com
Sumber Foto: http://ceritarakyatnusantara.com
Sumber : http://ceritarakyatnusantara.com/id/article.php?ac=10&l=pengembangan-imajinasi-dan-masa-krisis-anak
Tuliskan komentar Anda !
Member login
Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa
Atau
Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra
Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7
atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7
Online | : 55 |
Hari ini | : 638 |
Kemarin | : 5.416 |
Minggu kemarin | : 34.442 |
Bulan kemarin | : 134.890 |
Total | : 7.914.762 |



Online
Hari ini
Kemarin
Minggu kemarin
Bulan kemarin
Total