Artikel
Membudayakan Dongeng untuk Generasi Penerus
14 Juli 2010 11:27:02
Banyak kegiatan di Indonesia yang terhambat -- atau malah harus terhenti -- karena adanya krisis ekonomi yang terjadi beberapa tahun silam. Namun kalau kita ingat, ada satu 'kegiatan' yang tidak terhambat krisis, yaitu perkelahian atau tawuran pelajar.
Dulu, tawuran pelajar atau mahasiswa hanya terjadi sesekali. Itu pun sudah menjadi berita yang menghebohkan. Namun kini, kabar mengenai tawuran pelajar hampir setiap hari kita dengar. Pada jam-jam pulang sekolah tawuran biasa terjadi dengan mengambil tempat di jalan raya. Tak jarang tawuran dimulai dengan teriakan dari dalam kendaraan umum -- bus atau Metro Mini -- yang kemudian berlanjut dengan pengejaran dan pelemparan benda-benda keras.
Bukan hanya peristiwa tawurannya saja yang menyedihkan, tetapi seringkali tawuran itu membawa korban nyawa. Kalau 'hanya' korban cedera saja, kita mungkin masih bisa 'bersyukur', sekalipun itu bukan indikasi yang baik. Tetapi, jika ada nyawa yang harus terenggut karena perkelahian yang tak jelas ujung pangkalnya itu, bukankah kita patut bersedih?
Kecenderungan
Tawuran pelajar yang terjadi sekarang, tampaknya sudah menjadi trend atau kecenderungan di kalangan pelajar. Sering para pelajar ini -- umumnya pelajar SMU dan SMP -- memang sudah menyiapkan segala sesuatu untuk acara tawuran itu. Buktinya, ketika aparat kepolisian berhasil menangkap beberapa pelajar yang terlibat tawuran, di tas mereka ditemukan berbagai senjata. Mulai dari batu, cutter, gunting, golok, hingga samurai.
Melihat itu, kita boleh jadi bertanya-tanya, sebenarnya mereka pelajar atau bukan? Kalau pelajar, bukankah seharusnya isi tas mereka itu buku dan alat tulis, bukan senjata tajam. Namun, jika bukan pelajar, siapakah mereka sebenarnya? Mereka berangkat ke sekolah atau pulang dari sekolah dengan mengenakan seragam sekolah dan menenteng tas.
Tudingan pertama kali kerap dituduhkan kepada sekolah, baik guru maupun metode pendidikan yang diajarkan. Tetapi, kita seharusnya lebih berlapang dada menerima kenyataan bahwa guru-guru di Indonesia, kesulitan untuk berkonsentrasi penuh dalam memberikan pelajaran kepada para muridnya karena harus memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.
Bagi para guru itu, penghasilan dari mengajar di satu sekolah tidaklah memadai untuk membiayai hidup sehari-hari. Mereka harus mengajar di banyak sekolah atau memberikan berbagai jenis les bagi muridnya di luar jam sekolah, demi memperoleh penghasilan yambahan. Bagaimana mereka bisa berkonsentrasi memperhatikan para muridnya jika jumlah murid yang harus diajarnya banyak sekali dan tersebar di banyak sekolah? Lantas, masih layakkah jika para guru itu juga yang harus diminta untuk menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas kebrutalan para muridnya ?
Kemudian kita menoleh kepada sistem pendidikan di Indonesia, kita akan segera menyadari bahwa ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Pendidikan budi pekerti, yang seharusnya menjadi salah satu faktor penting guna membentuk generasi muda harapan bangsa, justru dikesampingkan. Pendidikan agama pun hanya sepersekian dibandingkan dengan materi pelajaran lain yang diterima pelajar. Hasilnya, sekalipun anak-anak Indonesia boleh dibilang pintar karena materi pelajaran yang diberikan padat dan berjejal, tetapi di sisi lain kenakalan dan kebrutalan sikap pelajar pun dominan.
Pada bagian lain, kemajuan teknologi yang begitu pesat telah menambah pengetahuan dan wawasan orang Indonesia -- mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua -- di berbagai bidang. Perkembangan teknologi telekomunikasi dan informasi telah mempersempit dunia. Dalam waktu sekejap, kita bisa mengetahui perkembangan yang terjadi di negara lain melalui internet. Dengan cepat pula, kita bisa mengadaptasi semua itu.
Informasi di layar televisi kita juga luar biasa. Bukan hanya informasi yang penting dan bermanfaat, banyak juga informasi yang justru merusak. Misalnya kekerasan yang ditampilkan di film-film action dan film-film kartun asing. Belum lagi, penayangan acara-acara untuk orang dewasa yang disiarkan pada jam nak masih menonton televisi sehingga anak-anak pun jadi terkontaminasi pikirannya. Pada saat yang sama, orang tua di rumah terlalu sibuk untuk menemani sang anak dalam menyaksikan tayangan-tayangan itu.
Jadilah, tayangan-tayangan itu ditelan mentah-mentah oleh sang anak. Diserap dengan imajinasi dan daya nalarnya sendiri. Tanpa ada yang mengajarinya, anak pun menilai apa yang datang dari luar negeri itu selalu bagus. Pada saat yang sama, anak-anak mempunyai daya imajinasi yang tinggi terhadap segala sesuatu, sehingga apa pun yang dilihatnya akan 'menemani' perkembangan dan pertumbuhan anak itu menjadi pribadi remaja dan kemudian dewasa. Dapat dibayangkan, apa jadinya anak-anak dengan kondisi seperti itu.
Lantas, masih adilkah kita dengan menuding bahwa gurulah yang harus bertanggung jawab atas terjadinya tawuran pelajar atau kenakalan remaja yang lain, seperti keterlibatan dalam penggunaan obat-obatan terlarang atau pergaulan bebas? Sistem pendidikan kita memang belum benar. Itu adalah salah satu potret buram dunia pendidikan kita.
Namun, perkembangan anak-anak yang dilahirkan oleh orang tuanya itu tidak bisa begitu saja diserahkan kepada lembaga yang bernama sekolah, sekalipun ketika itu usia sang anak sudah memasuki masa sekolah. Atas nama apa pun, anak-anak tetap menjadi tanggung jawab utama orang tuanya. Pendidikan dan lingkungan hanyalah faktor pendukung.
Menunggu korban
Ada sementara pendapat yang mengungkapkan bahwa kenakalan remaja -- tawuran, obat-obatan terlarang dan pergaulan bebas -- hanyalah trend anak muda. Artinya, setiap remaja memang pasti akan mengalaminya. Seiring dengan berjalannya waktu, dan remaja itu tumbuh menjadi manusia dewasa, perilaku ini pun akan berubah dengan sendirinya. Ibarat siklus hidup yang sudah rutin, kalangan ini menilai kenakalan remaja itu tidak perlu terlalu dikuatirkan.
Namun ada hal yang dilupakan oleh penganut 'teori' ini. Kemajuan zaman telah menambah pengalaman batin sang remaja, sehingga kenakalan remaja di masa lalu bisa dikatakan berbeda dengan kenakalan remaja zaman ini. Karena perbedaan itu maka hasil akhirnya pun berbeda.
Lihatlah, bagaimana rumah sakit kerapkali dikirimi jenazah remaja berseragam sekolah yang menjadi korban tawuran atau karena over dosis obat-obat terlarang. Lihat pula, betapa panti rehabilitasi bagi para pecandu narkoba semakin penuh, pesantren-pesantren banyak didatangi orang tua yang ingin menyembuhkan anaknya yang telah telanjur menjadi pecandu narkoba. Atau lihatlah, angka aborsi yang tinggi yang dilakukan oleh para remaja putri. Tidakkah kita miris dengan semua kenyataan pahit ini?
Pada bagian lain, kemajuan zaman telah pula 'mengajari' kita untuk semakin berpacu dengan waktu. Waktu adalah uang, seolah hidup ini hanya untuk mencari materi semata. Seakan-akan materi merupakan hal paling penting dalam hidup manusia. Anak-anak yang dilahirkan dengan susah payah -- bahkan telah direncanakan dengan sangat matang oleh para orangtuanya -- pun terabaikan gara-gara orang tuanya terlalu sibuk mengejar materi.
Anak-anak dititipkan kepada baby sitter, pembantu, sekolah-sekolah mahal maupun lembaga-lembaga pendidikan yang memberikan berbagai les, mulai dari les musik hingga latihan bela diri. Tidak heran jika anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang kerapkali tidak dikenali oleh orangtuanya. Setelah terjadi sesuatu yang buruk pada sang anak, barulah orangtua terhenyak. Tetapi, kadang-kadang kenyataan pahit harus ditelan, anak terlambat untuk ditolong. Nasi sudah menjadi bubur dan penyesalan pun tidak berguna.
Tampaknya kita memang harus mengalami banyak contoh dulu untuk sampai pada kesimpulan bahwa generasi penerus yang baik merupakan tanggung jawab utama para orang tua. Dan, kini setelah korban begitu banyak berjatuhan, masihkah kita akan mengelak?
Pertanyaannya kemudian adalah, dari mana kita memulai pembenahan itu. Kita dihadapkan pada kenyataan bahwa segalanya telah begitu kacau dan rusak untuk bisa dibenahi. Pandangan itu tidak sepenuhnya benar. Kita bisa memulai pembenahan itu dari diri kita sendiri.
Para orangtua diharapkan untuk kembali mendekatkan dirinya kepada anak-anaknya. Mendekatkan diri dalam arti fisik maupun psikis. Secara fisik, orangtua seharusnya menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak-anaknya sehingga para orang tua bisa mengetahui dengan cepat perubahan yang terjadi pada anak-anaknya. Secara psikis, orang bisa seharusnya memberikan lingkungan yang baik bagi anak-anaknya melalui pendidikan dan arena berkreativitas yang memadai. Dan untuk itu tidak selalu harus dengan biaya mahal.
Tradisi dongeng
Membicarakan kedekatan antara orangtua dengan anak-anaknya sama halnya dengan membicarakan komunikasi dua arah antara keduanya. Tradisi ini tidak sulit untuk dibangun dan bisa dimulai dengan kebiasaan mendongeng dari para orangtua kepada anaknya.
Di sela-sela kesibukan pekerjaannya atau ketika mengantarkan anak-anak untuk tidur, orangtua bisa menyisipkan nilai-nilai moral melalui dongeng yang diceritakannya. Pesan moral yang ditanamkan sedikit demi sedikit -- seperti prinsip menabung -- akan mengendap dalam memori sang anak sehingga menjadi sesuatu nilai yang akan dibawanya hingga dewasa.
Melalui dongeng yang diceritakan orangtuanya, anak-anak bisa sekaligus mengembangkan imajinasinya. Pada saat yang sama, sang anak bisa bertanya banyak mengenai hal-hal yang menjadi pertanyaan atau pun mengganggu pikirannya. Tidak saja berkenaan dengan dongeng yang didengarnya tetapi juga berkenaan dengan pengalaman hidupnya sehari-hari.
Pada akhirnya, tradisi mendongeng ini akan mempererat hubungan antara para orang tua dengan anak-anaknya. Secara psikologis, anak merasa diperhatikan, disayangi sekaligus dijaga. Ini akan membuat sang anak tumbuh menjadi remaja yang baik dan kemudian menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bijaksana.
Jika sudah demikian, anak-anak tidak akan membutuhkan jalanan untuk melampiaskan rasa ingin tahunya. Anak-anak tidak akan mencari narkoba sebagai temannya dan tidak akan terjerembab dalam pergaulan bebas karena nilai-nilai agama dan pesan moral yang ditanamkan sejak kecil terpatri kuat dalam sanubarinya.
Tentu saja, isi dongengan harus sesuai dengan usia sang anak. Balita umumnya menyukai cerita mengenai binatang. Sedangkan anak-anak usia sekolah bisa diberi dongeng mengenai cerita rakyat dari berbagai daerah yang kaya akan nilai-nilai budaya, semangat kebangsaan dan patrotisme. Sedangkan beranjak remaja, orang tua bisa bercerita mengenai kisah-kisah yang lebih nyata dan ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk itu memang dibutuhkan kerelaan orang tua menyisihkan waktu lebih banyak bagi anak-anaknya. Dibutuhkan kesabaran yang lebih besar dari para orang tua dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari anak-anaknya. Bahkan dibutuhkan jiwa besar para orangtua untuk menyadari bahwa pengetahuannya harus selalu ditambah mengikuti perkembangan sang anak.
Sumber dongeng banyak sekali. Di berbagai toko buku, banyak buku dongeng mulai dari cerita binatang, kisah rakyat dari berbagai daerah hingga sejarah perjuangan bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan. Belum lagi kejadian sehari-hari yang dialami para orang tua yang bisa diceritakan kepada anak-anaknya.
Membudayakan dongeng ini tidak semata-mata menjadi tugas para orangtua. Guru di sekolah pun bisa membantu dengan memberikan tugas kepada muridnya untuk membaca di perpustakaan sekolah mengenai cerita-cerita rakyat dari berbagai daerah. Upaya ini bisa menyemangati sang anak dalam berinteraksi dengan orang tuanya di rumah karena adanya keterkaitan antara kegiatan di rumah dengan tugas di sekolah.
Nilai positif lainnya adalah kelak anak-anak ini pun akan menjadi orang dewasa dan menjadi orangtua. Bekal dari sekolah akan dibawa terus hingga sang anak menjadi orangtua. Begitu terus sehingga nilai positif itu selalu saja ada.
Menanamkan nilai-nilai budaya maupun menyisipkan pesan moral melalui dongeng berdampak sangat luas. Tidak saja sang anak menjadi dekat dengan orang tua dan komunikasi antar keduanya menjadi lancar, tetapi juga menanamkan rasa cinta tanah air. Sekalipun saat ini negeri kita sedang dilanda krisis kepercayaan dan krisis ekonomi, elit politik masih terus berebut kekuasaan, tetapi rasa cinta tanah air yang ditanamkan lewat dongeng akan membantu sang anak menjadi orang yang bijaksana.
Kalau kita mau sedikit berendah hati dan melihat ke belakang, banyak cerita maupun dongeng di negeri ini yang selalu berulang. Kekacauan politik dan panasnya perebutan kekuasaan yang terjadi saat ini, terjadi karena para elit politik tidak pernah belajar dari sejarah dan melupakan dongeng-dongeng legenda yang kita miliki.
Kita punya banyak dongeng yang bisa kita petik pelajarannya, mulai dari Malin Kundang, Lambung Mangkurat, Joko Tingkir hingga Ken Arok-Ken Dedes. Pelajaran yang bisa dipetik pun beragam. Belum terlalu terlambat untuk membenahi semuanya.
Sumber : http://www.asmakmalaikat.com/go/buku/11082000_2.htm
Tuliskan komentar Anda !
Member login
Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa
Atau
Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra
Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7
atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7
Online | : 63 |
Hari ini | : 868 |
Kemarin | : 5.416 |
Minggu kemarin | : 34.442 |
Bulan kemarin | : 134.890 |
Total | : 7.914.992 |



Online
Hari ini
Kemarin
Minggu kemarin
Bulan kemarin
Total