Senin ,27 April 2026
Balai Melayu Hotel

Artikel

Berawal dari mendongeng

14 Juli 2010 11:35:44

Mendongeng untuk anak kebutuhan khusus yang penting adalah membangun suasana nyaman. Alam buku berjudul Read-Aloud Handbook karya Jim Trelease terungkap bahwa ada dua cara efisien memasukkan kata-kata ke dalam benak seorang anak yaitu melalui mata dan telinga.

Sumber terbaik bagi ide dan pembangunan otak adalah telinga. Melalui suara-suara penuh arti yang ditangkap telinga akan membantu anak memahami kata-kata yang didapatkan melalui mata saat belajar membaca. Dengan membacakan buku kepada anak dapat memberikan kepastian, menghibur, menjalin ikatan, memberi informasi atau penjelasan, membangkitkan rasa ingin tahu, dan memberi inspirasi.

Apalagi kalau membaca lantang, orangtua juga mengondisikan otak si anak untuk mengasosiasikan membaca dengan kebahagiaan, menciptakan informasi yang berfungsi sebagai latar belakang, membangun kosa kata, dan memberikan sosok panutan yang gemar membaca. Dengan membaca lantang dapat menjadi katalis bagi anak agar ingin membaca sendiri, dan juga memberi dasar untuk memupuk pemahaman pendengar si anak.

Trelease memberikan lip-tip membaca cerita yang bagus untuk tahap-tahapan umur tertentu yaitu bagi bayi berusia 2 tahun membaca lantang yang ideal bergantung pada bunyinya. Ritme dan irama yang baik, pengulangan berkali-kali, bunyi yang terdengar aneh, dramatis atau mengasyikkan, dibarengi dengan warna-warni yang meriah. Untuk anak usia 2 ulum 2,5 tahun, ide jalan cerita mulai mereka pahami, tetapi belum yang terlalu kompleks.

Untuk usia 3 tahun, plot memainkan peran yang semakin penting untuk menarik perhatiananak atau siswa di kelas. Tantangan muncul ketika anak mendekati usia 8 sampai 9 tahun, dan literatur mereka mulai memiliki nada yang lebih realistis. Plot mulai berpusat pada isu-isu sosial dan emosional yang semakin bertambah kompleksnya.

Menurut psikolog anak Lely Tobing dari Twinkle Star Early Childhood Education Centre, story telling atau yang biasa disebut dongeng memberi banyak manfaat bagi perkembangan anak baik dalam sisi psikologi sosial, afeksi, dan kemampuan intelektual mereka. Manfaat psikologi sosial tampak, saat terjadi hubungan interaksi antara orang dewasa yang bertindak sebagai pencerita dan anak-anak sebagai pendengar. Dari situ menurut Lely terbangun satu kontak emosi antara keduanya yang akan turut mendukung perkembangan psikologi anak.

Dalam hubungan itu anak juga bisa belajar untuk mendengarkan orang lain, berdialog, dan belajar memahami bahwa cerita itu mengandung emosi tertentu atau tidak. Sementara itu, dalam segi intelektualnya, melalui dongeng anak bisa belajar kosakata, mengenal istilah-istilah baru, dan belajar struktur kala yang tentu akan meningkatkan kemampuan berbahasa anak.

Bukan itu saja, kemampuan intelektual anak juga akan terstimulasi melalui dongeng yang akan membuat otak anak terangsang untuk membuat visual parsial, berimajinasi, dan membuat satu deskripsi tentang alur cerita dongeng yang mereka dengar.

Untuk membuat satu dongeng efektif dan memberi manfaat positif bagi anak, Lely menyarankanorangtua atau siapapun pencerita buku dongeng memilih jenis buku yang sesuai. Kesesuaian buku dongeng dipertimbangkan dari target usia anak yang akan jadi pendengar. Jika anak masih berusia 1-2 tahun maka bukuyang sesuai adalah yang banyak mengetengahkan gambar, sedikit tulisan, berukuran sedang, dan ringan.

Ukuran buku yang sedang dan ringan akan mengajarkan anak untuk belajar merawat dan menjaga buku. "Jika anak sudah berusia 2-3 (ahun, maka ceritanya harus lebih kompleks, meski
mereka belum bisa membayangkan sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya," ujar Lely sembari menambahkan jika dongeng bisa mulai diberikan sejak anak usia 6 bulan.

Sebagai seorang pengajar sekaligus pemerhati pertumbuhan anak usia dini, Lely Tobing turut ambil bagian dalam perkembangan anak berke-liiiiiili.iu khusus atau hiperaktif. Meski anak kelompok berkebutuhan khusus perlu mendapat perhatian lebih intensif dibandingkan dengan anak-anak normal lain, bukan berarti mereka tidak bisa mendapatkan fasilitas yang sama dengan anak-anak normal.

Misalnya dalam hal dongeng, menin ni Lely anak-anak kebutuhan khusus juga bisa mendapatkan cerita-cerita menarik dalam dongeng meski porsi, jenis dongeng, dan pola buku do-ngengnya berbeda dengan anak-anak normal.

Anak hiperaktif Dalam hal porsi misalnya, jika anak-anak norma} bisa menerima, membaca, dan mendengarkan dongeng selama 15 hingga 30 menit, anak-anak berkebutuhan khusus hanya mampu menerima waktu mendongeng lebih sedikit sekitar 5-10 menit. Bukan hanya anak hiperaktif saja, anak-anak berkebutuhan khusus karena lemah dalam pendengaran, pengelihatan, atau gangguan bicara, tentu memerlukan pola-pola dongeng yang berbeda dengan anak-anak kebutuhan khusus lain. "Kalau dongeng yang disampaikan kepada anak kebutuhan khusus berkesan.

 

Sumber : http://bataviase.co.id/node/222196

 

 


read : 3967

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  




Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7


Profil Penulis

 Online: 160
 Hari ini: 1.386
 Kemarin : 5.416
 Minggu kemarin : 34.442
 Bulan kemarin : 134.890
  Total : 7.915.510