Artikel
Dongeng Edukatif Gender
14 Juli 2010 11:33:48
Dongeng adalah metode pembelajaran informasi yang merupakan kekayaan budaya bangsa ini. Sebelum era masyarakat mengenal tulisan, dongeng merupakan media penanaman nilai-nilai sosial yang adiluhung oleh para orang tua dan nenek moyang ke generasi penerus.
Dongeng adalah instrumen bagi pengembangan nalar generasi muda, sehingga memiliki konstruksi pemahaman yang nyata (realis) atau imajinatif atas keadaan yang tumbuh dan berkembang di sekitarnya. Pemahaman yang nyata bisa dipetik dari makna dongeng yang dinarasikan dalam sisi pemaknaan pada akhir pengungkapan. Imajinatif karena dongeng mendorong daya kreasi, idealisasi akan harapan pada masa depan.
PM Toh, pendongeng, pernah menyatakan generasi muda Aceh bisa mengenal tradisi, ketokohan, dan cerita tentang kebajikan pada masa lalu karena media dongeng. Meski, pendongeng di Aceh kini menjadi “barang langka” dan susah ditemukan kembali.
Dongeng di berbagai kawasan negeri ini bahkan menjadi sinyal peringatan akan sesuatu yang dianggap mendatangkan tragedi bagi masyarakat. Dongeng tentang “hantu” yang mengisap air laut sehingga air laut di pantai berkurang bagi penduduk Simeleu menjadi tanda bahaya akan kedatangan tsunami.
Terbukti, saat tsunami 26 Desember 2004 yang meluluh-lantakkan Aceh dan berbagai negara, penduduk Kepulauan Simeleu selamat karena memercayai dongeng itu dan lari ke perbukitan.
Sayang, banyak dongeng yang “terjerat” sejarah politik patriarki. Dongeng yang “terjerat” sejarah politik patriarki dan kultur feodalisme menempatkan sosok dan jati diri perempuan dalam cara pandang stereotipe. Perempuan diletakkan sebagai sesuatu yang bermartabat “rendah” dan selalu jadi “biang kerok” drama sosial kemasyarakatan.
Dongeng mistik tentang Nyi Blorong yang merupakan cerita atau mitos tentang perempuan jelmaan ular menciptakan berbagai apresiasi negatif atas perempuan; perempuan yang haus ketidakadilan dan perbuatan semena-mena. Dongeng Malin Kundang, misalnya, menempatkan perempuan sebagai “ibu” yang mudah meletupkan kalimat “nubuat” yang menyengsarakan hidup sang anak. Tak menggambarkan perasaan ibu sebagai pemaaf dan penyayang. Dongeng Malin Kundang sebenarnya menggambarkan hegemoni perempuan di kawasan dengan alur kekeluargaan matrilinial — ibu lebih memiliki kekuasaan psikologis dan kultural ketimbang bapak (laki-laki).
Cerita Tangkuban Perahu meletakkan Dayang Sumbi sebagai perempuan yang tak bersikap keibuan dan lebih mengedepankan unsur egoisme ketika menghadapi drama kehidupan. Banyak dongeng yang masih “sporadis” dituturkan para orang tua di berbagai daerah dengan kandungan makna naratif ambivalen.
Di satu sisi menggambarkan visi kebaikan, di sisi lain tak menempatkan perempuan dalam posisi penghormatan dalam konstruksi pemahaman akan keadilan gender.
Persebaran dongeng yang stereotipe gender di banyak daerah disebabkan oleh pengaruh kultur patriaki masyarakat, yang sampai kini masih berpengaruh secara turun-temurun. Dongeng dengan tajuk “kisah mitologis” yang antikesetaraan gender itu terlestarikan karena dianggap membawa pesan kebaikan, meski bermakna ganda.
Untuk mendidik generasi muda agar bisa mengapresiasi dan menginternalisasi makna progender dalam dongeng, saat ini perlu langkah aktual oleh pegiat pendidikan.
Beberapa hal harus dilakukan. Pertama, perlu riset dan investigasi serta dokumentasi berbagai kekayaan dongeng (cerita rakyat) yang memiliki makna pemuliaan hak perempuan. Itu perlu agar bisa dikoservasi berbagai dongeng yang menempatkan martabat perempuan dalam posisi terhormat dan memiliki nilai pendidikan budi pekerti. Dan, akhirnya bisa dijadikan kompilasi dongeng yang dimasukkan jadi bahan ajar di berbagai ruang pendidikan formal dan nonformal.
Kedua, penutur dongeng kontemporer, termasuk guru, perlu memberikan latar belakang analisis struktural sebelum menceritakan dongeng pada siswa.
Pendongeng bisa menceritakan latar kisah dan ketokohan sehingga siswa dan generasi muda bisa mengambil nilai yang baik dan progender.
Ketiga, perlu gerakan edukasi yang menjadikan dongeng sebagai unsur penting dalam pendidikan dan pembelajaran. Dongeng yang memiliki nilai kearifan lokal dan progender bisa dikreasikan menjadi “bahan ajar” dengan modifikasi yang menarik perhatian siswa. Misalnya, dengan model kartun, animasi, atau bertutur dengan peraga canggih dan modern. (51)
- Ari Kristianawati, guru SMAN 1 Sragen
Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/06/09/112409/Dongeng-Edukatif-Gender
Sumber Foto :hamarayoutube.com/zahwa/
Tuliskan komentar Anda !
Member login
Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa
Atau
Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra
Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7
atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7
Online | : 146 |
Hari ini | : 1.380 |
Kemarin | : 5.416 |
Minggu kemarin | : 34.442 |
Bulan kemarin | : 134.890 |
Total | : 7.915.504 |



Online
Hari ini
Kemarin
Minggu kemarin
Bulan kemarin
Total