Artikel
Menumbuhkan Budaya Gemar Membaca
03 Agustus 2010 10:23:04
MENUMBUHKAN BUDAYA GEMAR MEMBACA
PASCA MAUPUN TANPA GEMPA
Oleh : SRI HANDAYANI
Bobbi DePorter dan Mike Hernacki pernah memperkenalkan istilah AMBAK (Apa Manfaatnya BAgiKu?) dalam bukunya ‘Quantum Learning’. Mereka menyatakan bahwa “AMBAK adalah motivasi yang didapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat dari suatu keputusan.” Kemudian, Hernowo, direktur Mizan Learning Center (MLC) pernah mengemukakan istilah tersebut dalam workshopnya untuk memberikan motivasi kepada orang-orang yang berniat terjun dalam kegiatan membaca dan menulis. Hal tersebut ditujukan agar mereka dapat memahami dan merumuskan tujuan kedua aktivitas itu sebelum melaksanakannya dalam kehidupan. Hernowo berharap seseorang dapat mengalahkan atau minimal mengurangi terlebih dahulu “beban” membaca dan menulis dengan memetik manfaat sebanyak-banyaknya. Sehingga, kita dapat merumuskan bahwa hal pertama yang harus dilakukan dalam menumbuhkan minat baca masyarakat adalah dengan menanamkan pada setiap individu akan pentingnya membaca dalam kehidupan.
MANFAAT MEMBACA
Kita tentu mengetahui bahwa membaca adalah kegiatan sarat manfaat. Karena itulah kemudian muncul slogan-slogan seperti “Buku jendela dunia.”, “Banyak baca, banyak tahu.”, “Baca, baca, baca”, dan lain-lain. Bahkan Barbara Tuchman pernah berkata bahwa “Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku sejarah diam. Sastra bungkam, sains lumpuh.
Pemikiran macet. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancangkan di samudera waktu. Pernyataan ini tentu tidak salah karena pada abad XIII buku-buku di seluruh perpustakaan di Baghdad dibakar termasuk buku-buku pemikiran Islam. Sejak itulah masa kejayaan Islam menjadi surut. Kemudian, muncullah pernyataan bahwa jika ingin mengubah peradaban suatu bangsa, maka bakarlah semua buku dan gantilah dengan buku-buku baru yang sesuai peradaban yang ingin dibangun. Itulah manfaat besar buku secara umum. Secara khusus, Jordan E. Ayan pernah menyatakan dalam bukunya yang berjudul ‘Bengkel Kreativitas’ bahwa membaca memiliki dampak positif
bagi perkembangan kecerdasan, yaitu:
- mempertinggi kecerdasan verbal/linguistik, karena dengan banyak membaca akan memperkaya kosakata,
- meningkatkan kecerdasan matematis-logis dengan “memaksa” kita menalar, mengurutkan dengan teratur dan berpikir logis untuk dapat mengikuti jalan cerita atau memecahkan suatu misteri,
- mengembangkan kecerdasan intrapersonal dengan mendesak kita merenungkan kehidupan dan mempertimbangkan kembali keputusan akan cita-cita hidup, dan
- membaca dapat memicu imajinasi dengan mengajak kita membayangkan dunia beserta isinya, lengkap dengan segala kejadian, lokasi dan karakternya. Manfaat membaca buku yang lain adalah membentuk karakter dan kepribadian. Karena itulah kemudian sering kita mendengar pernyataan bahwa apa yang kita baca sekarang, seperti itulah kita 20 tahun mendatang. Bahkan novel-novel sastra, komik, dan buku-fuku fiksi secara tidak langsung dapat mengubah karakter kita, sesuai dengan image yang ada dalam buku tersebut.
Dalam buku yang sama, Jordan E. Ayan juga menyebutkan bahwa televisi masih amat ketinggalan dibandingkan dengan buku. Televisi merupakan “media pasif” yang tidak mengajak kita berpartisipasi dalam belajar atau berpikir kreatif. Selain itu Joseph Brodsky, peraih Nobel Sastra tahun 1987, pernah menyatakan bahwa salah satu dari kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku adalah tidak membaca buku. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa bangsa yang buruk dan siap menghadapi kehancuran peradaban adalah bangsa yang tidak gemar membaca.
MENUMBUHKAN MINAT MEMBACA ANAK KORBAN GEMPA
Pada dasarnya walaupun statistik mencatat 84% penduduk Indonesia sudah melek huruf, namun menumbuhkan budaya membaca masih merupakan hal yang relatif cukup sulit dalam dunia pendidikan di Indonesia. Ditambah lagi dengan terjadinya gempa yang melanda beberapa kawasan, termasuk Daerah
Istimewa Yogyakarta. Tentu saja hal ini menambah lagi masalah yang dihadapi dalam berbagai hal, termasuk dalam menumbuhkan budaya gemar membaca. Sehubungan dengan hal tersebut, Mary Leonhardt menyatakan bahwa “anak-anak yang menulis cerita dan puisi serta memoar akan membaca
dengan ketelitian dan wawasan yang jauh lebih besar. Mereka memperhatikan bagaimana seorang pengarang menyusun alur cerita, menggambarkan secara rinci karakter seorang tokoh, atau menggunakan teknik-teknik pengibaratan.”
Oleh karena itulah, menulis dapat pula dijadikan alternatif menumbuhkan minat membaca pasca gempa. Hal ini dapat dilakukan pada anak-anak, misalnya dengan meminta mereka menuliskan cerita atau puisi tentang gempa dan melukiskan perasaan mereka. Dapat pula didirikan tenda-tenda baca dengan buku yang disesuai dengan karakter anak. Menurut pengamatan penulis, tenda baca terbukti cukup efektif sebagai tempat belajar, memuaskan gairah membaca, bermain dan berkumpul bagi anak-anak. Peran
tenda baca selain untuk menumbuhkan minat baca anak pasca gempa, juga dapat menjadi alternatif menghilangkan trauma yang mungkin masih menjangkiti anak-anak tersebut. Bagi orang tua, tenda baca juga berperan dalam meringankan tugas mereka dalam mengawasi anak-anak selama mereka
bekerja membangun rumah yang ambruk atau mengerjakan kegiatan lain.
Alternatif lain dapat dilakukan dengan mengadakan bakti sosial berupa sumbangan buku-buku pelajaran dan buku cerita di samping bahan-bahan kebutuhan pokok agar pendidikan tidak terbengkalai. Dalam hal ini (baca: pendidikan), kita perlu menengok sejarah Jepang pada masa lalu. Ketika Jepang diporak-porandakan dengan adanya bom di Hiroshima dan Nagasaki, kaisar Jepang pada saat itu tidak menanyakan berapa korban yang meninggal, namun justru bertanya “berapa jumlah guru yang masih hidup?” Kita dapat mengambil makna historis ini sebagai alat picu untuk bangkit membangun dunia pendidikan, termasuk dalam membudayakan gemar membaca.
UNSUR-UNSUR YANG BERPERAN MEMBUDAYAKAN GEMAR MEMBACA
Menumbuhkan minat membaca pasca gempa maupun dalam keadaan tanpa gempa pada dasarnya tidak jauh berbeda, karena minat baca sudah menjadi salah satu prioritas dalam dunia pendidikan baik pra maupun pasca gempa. Adapun unsur-unsur yang dapat memperlancar perkembangan minat baca masyarakat antara lain:
1. Keluarga
Keluarga adalah elemen terkecil dalam masyarakat. Di lingkungan keluargalah pendidikan pertama kali dilakukan. Oleh karena itu, peran keluarga dalam menumbuhkembangkan minat baca masyarakat tidak dapat dilupakan. Memberikan contoh langsung adalah cara terbaik dalam menumbuhkan minat membaca dalam keluarga. Inilah yang dalam sistem among yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara disebut dengan “ing ngarsa sung tuladha”. Orang tua sebagai pemimpin dalam rumah tangga wajib memberikan contoh (tuladha) secara langsung sehingga anak terbiasa membaca dan mendiskusikan bacaannya dengan orang tua. Orang tua juga harus melatih rasa ingin tahu anak, bukan mendiktenya sehingga anak akan memiliki daya kreativitas yang lebih tinggi. Karena pada dasarnya membaca dapat mengembangkan kreativitas manusia. Selain itu, menumbuhkan minat baca dalam keluarga yang menjadi cikal bakal berkembangnya minat baca masyarakat dapat pula dilakukan dengan membudayakan memberi buku sebagai hadiah.
2. Perpustakaan
Perpustakaan atau library (berasal dari bahasa Latin liber atau libri yang berarti buku) memegang peranan yang sangat penting dalam menumbuhkan minat baca masyarakat. Di perpustakaan masyarakat dapat memperoleh informasi bacaan dan berbagai referensi yang dibutuhkan dengan cepat dan tepat. Peran perpustakaan tidak dapat digantikan oleh internet secara penuh. Dalam iklan handphone di Amerika Serikat, dinyatakan: “What the internet needs is an old-fashioned librarian.
Finding what you want on the web should be as easy as finding a book in a library.” (Apa yang internet butuhkan adalah seorang pustakawan kuno. Menemukan apa yang Anda butuhkan di web seharusnya sama mudahnya dengan menemukan sebuah buku di perpustakaan). Oleh karena itu, peran perpustakaan tetap tidak dapat dipisahkan dari dunia membaca. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh perpustakaan dalam menumbuhkan minat baca, antara lain dengan menambah koleksi-koleksi buku yang ada dengan buku yang menarik minat masyarakat, melengkapi fasilitas perpustakaan dan mewujudkan pustakawan sahabat pelanggan”. kita dapat pula mengambil contoh pelaksanaan kegiatan di perpustakaan SMKN 1 Depok, tempat penulis dulu belajar. Berdasarkan pengamatan penulis, perpustakaan SMKN 1 Depok secara tidak langsung telah mengembangkan minat baca siswa dengan melibatkan mereka dalam kegiatan perpustakaan tersebut. Dengan cara ini para siswa dapat lebih mengetahui cara kerja perpustakaan dan mempunyai rasa memiliki terhadap perpustakaan, sehingga belajar di perpustakaan dirasakan cukup menyenangkan dan mengasyikkan.
3. Pemerintah
Peran pemerintah dalam mengembangkan minat baca masyarakat adalah dengan mendukung dan menyelenggakarakan kegiatan yang berkaitan dengan tujuan tersebut, misalnya: lomba-lomba kepenulisan, pameran dan bedah buku, temu penulis, pelatihan kepenulisan, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan semacam itu harus dikemas semenarik mungkin sehingga masyarakat merasa tertarik dan merasa familiar dengan acara tersebut. Selain itu, pemerintah perlu lebih memperhatikan perkembangan organisasi kepenulisan di masyarakat, sekolah maupun berbagai universitas di daerahnya, karena organisasi-organisasi itulah yang secara tidak langsung ikut mengembangkan minat baca masyarakat pasca gempa.
KESIMPULAN
Langkah pertama menumbuhkan budaya gemar membaca adalah dengan memperkenalkan arti penting membaca bagi kehidupan. Selanjutnya perlu membentuk kebiasaan membaca mulai dari keluarga, dipuaskan dengan fasilitas perpustakaan dan dukungan pemerintah. Perlu ditekankan bahwa dengan membentuk kebiasaan, lama-lama kebiasaan yang membentuk kita. Menjadikan membaca sebagai kegiatan pokok yang setara dengan makan dan minum (harus dilakukan setiap hari) adalah puncak tujuan budaya gemar membaca.
DAFTAR PUSTAKA:
- AYAN, Jordan E. 1997. Bengkel Kreativitas. Bandung: Penerbit Kaifa.
- DE PORTER, Bobbi & Mike Hernacki. 2002. Quantum Learning. Bandung:
Kaifa.
- LEONHARDT, Mary. 2002. 99 Cara Menjadikan Anak Anda Bergairah Menulis.
Bandung: Penerbit Kaifa.
- Majalah Bulanan iMagz edisi Februari 2006.
- http/lib.ugm.ac.id
- http/www.mizan.com
BIODATA PRIBADI
Nama : SRI HANDAYANI
Tempat, tanggal lahir : Sleman,10 Januari 1988
Alamat : Singosutan, Maguwoharjo,Depok, Sleman, Yogyakarta 55282
E-mail : handy_mtc@yahoo.com
Univ/Fak/Jur : UNY/FBS/Pendidikan Bahasa Inggris
NIM : 06202241063
Hobi : Menulis, Membaca
Sumber : http://www.takalarkab.go.id/?pilih=news&aksi=lihat&id=56
Sumber Foto : Sumber Foto : sanggita.wordpress.com
Tuliskan komentar Anda !
Member login
Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa
Atau
Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra
Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7
atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7
Online | : 292 |
Hari ini | : 2.450 |
Kemarin | : 5.416 |
Minggu kemarin | : 34.442 |
Bulan kemarin | : 134.890 |
Total | : 7.916.574 |



Online
Hari ini
Kemarin
Minggu kemarin
Bulan kemarin
Total