Senin ,27 April 2026
Balai Melayu Hotel

Artikel

Ibu Membangun Kebiasaan Membaca

10 Agustus 2010 12:56:06

Oleh Mulyani

“There are werse crimes than burning books. One of them is not reading them (Tak membaca buku adalah kejahatan. Mirip dengan membakar buku).”

- Josep Brodsky, sastrawan peraih Nobel

Ironis. Kini, anak-anak terjerembab sebagai penikmat berbagai teknologi digital, seperti televisi, telepon genggam, video game, dan internet. Sampai-sampai mereka melupakan membaca, yang sangat penting untuk membentuk karakter dan kecerdasan. Tak urung, Pramoedya Ananta Toer dalam buku Saya Terbakar Amarah Sendirian pun menuding saat ini masyarakat tak lagi punya budaya membaca. Mereka lebih senang menonton televisi dan tak punya keinginan menambah ilmu. Sedemikian rendahkah minat baca masyarakat kita? Data statistik dari Kepala Perpustakaan Nasional Dady P Rachmanata bisa jadi rujukan. Dia menyodorkan data, betapa sedikit pengunjung perpustakaan di seluruh Indonesia. Dan, di antara sedikit pengunjung itu hanya 10%-20% yang meminjam buku.

Jika diasumsikan para peminjam itulah yang punya kebiasaan membaca, berarti tingkat kebiasaan membaca masyarakat kita baru 10%-20%. Padahal, di negara-negara maju angka itu mencapai 80%. Kita tahu, kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kebiasaan belajar yang dimanifestasikan oleh kemauan membaca dan menyerap informasi. Kebiasaan dan kemampuan membaca memberikan sumbangan penting bagi pembentukan pengetahuan, keluasan wawasan, dan kecerdasan. Selain itu, kebiasaan dan kemampuan membaca berpotensi meningkatkan angka melek huruf yang secara langsung menentukan kualitas bangsa. Jadi jika bangsa ini mau maju dan berkualitas, harus ada upaya konkret dari pemerintah dan masyarakat untuk mendongkrak minat baca.

Gerakan Indonesia Membaca yang dikampanyekan pemerintah, beberapa waktu lalu, patut disambut gembira. Rupanya pemerintah sadar membangun bangsa ini tak cukup dengan mendirikan pabrik, menyediakan lapangan kerja, dan sejenisnya. Namun juga meletakkan kerangka dasar budaya membaca, karena itu berkait dengan tingkat kualitas sumber daya manusia. Secara teoretis, ada hubungan positif antara minat baca dengan kebiasaan membaca dan kemampuan membaca. Minat baca rendah menjadikan kebiasaan membaca rendah. Kebiasaan membaca rendah menjadikan kemampuan membaca rendah. Maka, jangan kaget, bila World Bank dalam salah satu laporan pendidikan, “Education in Indonesia - from Crisis to Recovery” (1998), melukiskan begitu rendah kemampuan membaca anak-anak Indonesia.

Dalam laporan itu, dengan mengutip hasil studi Vincent Greanary, disebutkan siswa kelas VI SD Indonesia berada di urutan paling akhir (dengan nilai 51,7), setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0), dan Hong Kong (75,5). Itu berarti, kemampuan membaca siswa kita paling buruk dibandingkan dengan siswa dari negara-negara lain. Tantowi Yahya, Duta Baca Indonesia, dalam seminar “Pengembangan Minat Baca dan Pemberdayaan Perpustakaan” meyakinkan betapa penting peran keluarga, terutama ibu, dalam membangun budaya baca pada anak. Berdasar data sebuah riset di AS disebutkan, bapak yang membacakan buku pada anak hanya 15%, sedangkan ibu 76%, dan lain-lain 9%.

Dari sanalah budaya baca melekat kental hingga anak tumbuh dewasa dan menularkan ke generasi berikutnya. Tak mengherankan jika masyarakat membaca di AS tumbuh subur. Begitu pula di negara maju lain, seperti Jepang. Mereka sudah lama menyelenggarakan gerakan “20 minutes reading of mother and child”, gerakan yang menganjurkan ibu membacakan buku yang dipinjam dari perpustakaan selama 20 menit sebelum anak tidur. Berangkat dari fakta itu terlihat betapa sentral peran ibu dalam menumbuhkan minat baca anak. Karena itu tak salah jika kampanye tersebut melibatkan organisasi ibu atau wanita, seperti Dharma Wanita dan PKK, agar efektif mencapai tujuan. Kampanye terus-menerus melalui pertemuan Dharma Wanita dan PKK pasti membawa perubahan budaya baca di keluarga.

Lebih cerdas bila setiap pertemuan PKK atau Dharma Wanita, selain diisi urusan seremonial juga digelar berbagai buku yang dapat dibaca dan dipinjamkan untuk anak-anak di rumah. Perpustakaan kota atau rumah baca bisa membantu memberikan kemudahan akses dan fasilitas peminjaman buku. Dan, yang tak kalah penting, mengubah kebiasaan mendongeng menjadi kebiasaan membacakan buku, terutama untuk anak di bawah lima tahun yang belum bisa membaca. Kebiasaan membacakan buku pada mereka sebelum tidur, misalnya, menambah pengetahuan dan merangsang imajinasi dan perkembangan intelektual anak serta menanamkan kebiasaan membaca pada mereka.

Memang kebiasaan membaca tak terbentuk segera dan serta merta. Kebiasaan itu terbentuk melalui proses terus-menerus dan berlangsung secara gradual. Salah satu cara efektif adalah menularkan kebiasaan membaca. Pada dasarnya salah satu kemampuan awal dan utama anak-anak adalah meniru perbuatan orang-orang di sekitarnya. Karena itu, membaca harus menjadi komitmen bersama seluruh anggota keluarga. Dan, ibu sebagai pemeran utama. (51)

- Mulyani, guru SMP Muhammadiyah 04 Semarang

 

 

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/06/30/114983/Ibu-Membangun-Kebiasaan-Membaca

 


 


read : 4108

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  




Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7


Profil Penulis

 Online: 255
 Hari ini: 2.763
 Kemarin : 5.416
 Minggu kemarin : 34.442
 Bulan kemarin : 134.890
  Total : 7.916.887