Senin ,27 April 2026
Balai Melayu Hotel

Artikel

Mengembangkan Budaya Membaca Pada Siswa Sekolah Menengah

11 Agustus 2010 14:11:31

Cosa Rinaldy Ardiananda

A. Pesoalan Membaca

Sebuah TV swasta memberitakan bahwa penjualan buku Harry Potter terjual melebihi 326 juta eksemplar di lebih 35 negara di dunia. sebuah rekor pernjualan yang menakjubkan dari sebuah hasil karya Joanne Kathleen Rowling, dan mengubah si pengarang dari orang yang biasa-biasa menjadi salah satu orang terkaya di daratan Inggris. Menurut informasi dari www.detik.com, buku tersebut memiliki tebal 896 halaman dan dijual dengan harga Rp. 225.000,-, dan saat ini menjadi bacaan favorit bagi jutaan anak Inggris dan Amerika (termasuk di Indonesia juga). Harus kita akui dan kita kagumi fenomena tersebut, karena tingkat bacaan yang tinggi dari anak-anak Inggris dan Amerika. Buku tersebut berisi mengenai cerita kegelapan dunia sihir. Namun demikian, buku tersebut mampu mengantarkan kepada dunia pencerahan dari revolusi bacaan pada saat ini (Lidus Yardi, S.Pd.I). mengapa demikian ? sebab fenomena ini akan mengembalikan anak-anak dari dunia televisi dan komputer ke dunia buku.

Persoalan membaca akan selalu mengemuka, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia, yaitu pada aspek menimbulkan minat dan cara membaca yang baik. Mengambil hikmah dari fenomena Harry Potter di atas, akan memberikan salah satu jawaban berupa rasa keingintahuan yang tinggi dari para pembacanya mengenai cerita tersebut. Ide cerita dari dari JK Rowling yang dituang pada Harry Potter itulah yang membuat hasil karyanya menarik setelah para pembaca menyimaknya secara keseluruhan. Kami berpendapat sama dengan saudara Lidus, bahwa tingkat keingintahuan dan penasaran yang tinggilah sehingga buku tersebut dibaca dan memaksa untuk mengetahui kisah-kisah selanjutnya dalam episiode mendatang. Dari sikap ingin tahu itulah timbul sikap konsentrasi membaca dan tingkat fokus bacaan yang baik.

Persoalan klasik yang sering mengemuka dalam setiap persoalan membaca adalah mengapa dalam membaca karya-karya ilmiah sering membosankan dan berkecenderungan mata akan cepat lelah ? Namun tidak demikian dengan membaca sebuah cerita. Mungkin karena tingkat keingintahuan pada cerita lebih baik dibandingkan dengan dengan bacaan ilmiah. Namun demikian, semakin tinggi usia seseorang, maka tingkat keingintahuan dan tingkat bacaannya pun semakin meningkat. Namun persoalan yang paling urgensi adalah bagaimana memupuk rasa keingintahuan anak pada bahan bacaan menjadi lebih baik lagi. Dalam perkembangan peradaban saat ini bahan bacaan lebih tefokus pada buku. Namun kekuatan buku tidak akan pernah dirasakan apabila hanya dijadikan pajangan saja, tanpa pernah disentuh untuk dibacanya.

Data pada Badan Pusat Statistik, menyebutkan bahwa data angka buta huruf di Indonesia semakin menurun, walaupun dalam kenyataannya ada sekitar 18,7 juta penduduk Indonesia tidak bisa membaca sama sekali, ditambah ada sekitar 250-300 ribu anak SD putus sekolah. Sebuah organisasi internasional, yaitu IEA (International Educational Achievement) pada tahun 2000 menempatkan kemampuan membaca anak SD di Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 39 negara yang disurvey. Atau terendah diantara negara-negara ASEAN lainnya. Dengan data tersebut, maka tidak heran apabila tingkat kemampuan pendidikan di Indonesia sedemikian rendahnya. Dalam hal pendidikan, survei The Political and Economic Risk Country (PERC), sebuah lembaga konsultan yang berkedudukan di Singapura pada tahun 2001, menempatkan Indonesia pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia yang diteliti.

Pesoalan lain yang cukup mencuat mengenai membaca adalah persoalan penyediaan buku bacaan (penerbitan buku) yang dikaitkan dengan pengembangan minat baca. Indonesia masih mengalami beberapa kendala. Pertama, jumlah penerbit dengan jumlah penduduk Indonesia masih sangat timpang sekali. Dalam setahun, dunia mampu menerbitkan lebih dari satu judul buku, sedangkan negara Indonesia hanya mampu 5 judul buku saja. Menurut data International Publisher Association yang berkedudukan di Kanada, menyebutkan negara Inggris merupakan negara dengan penerbitan yang terbanyak, mencapai lebih dari 100 ribu judul buku. Bahkan pada tahun 2000 saja mencapai 110.155 judul buku. Posisi kedua dipegang oleh Jerman dengan rata-rata penerbitan judul buku berjumlah 80.779, ketiga dipegang oleh negara Jepang dengan 65.430 judul buku, dan keempat adalah Amerika Serikat. Indonesia pada tahun 1997 pernah menghasilkan lima ribuan judul buku, tetapi pada tahun 2002 tercatat hanya sekitar 2.700 judul buku saja. Sungguh sangat jauh sekali bila dibandingkan dengan produksi penerbitan buku tingkat dunia.

Kondisi lainya yang mencuat sehubungan dengan minat membaca bangsa Indonesia adalah minimnya jumlah perpustakaan. Menurut data dari Deputi Pengembangan Perpustakaan Nasional RI (PNRI), dari sekitar 300.000 SD hingga SMA, baru 5% saja yang memiliki perpustakaan. Bahkan diduga hanya 1% dari 260.000 SD yang memiliki perpustakaan, juga baru sekitar 20% dari 66.000 desa/kelurahan yang memiliki perpustakaan memadai (Kompas, 25/07/02).

Persoalan perpustakaan sekolah tidak hanya dari penyediaannya saja, namun menyakut kualitas buku yang menjadi isi perpustakaan. Sebagai contoh, pertama, adanya perpustakaan sekolah hanya sebatas sebagai syarat untuk kepentingan akreditasi belaka. Sekolah akan senantiasa mengadakan perpustakaan ketika akan diakreditasi, sehingga mengadakan ruangan dadakan yang diperuntukkan untuk perpustakaan. Kedua, buku yang tersedia, sebagian besar atau hanya sebatas buku-buku paket saja untuk kepentingan KBM semata. Buku-buku lain sebagai buku penunjang atau pengayaan nyaris tidak ada sama sekali atau jumlahnya sangat minim. Maka tidaklah heran apabila perpustakaan sekolah akan semakin termarjinalkan, atau bahkan seperti layaknya sarang uka-uka (sepi pengunjung).


Minat baca siswa terhadap buku pun akan hilang seiring dengan pergantian kurikulum. Ketiga, petugas perpustakaan yang kurang giat dalam menjalankan tugas perpustakaan. Menurut hasil pengamatan pada sekitar 10 sekolah di Bandung, ada beberapa perpusatakaan sekolah yang buka hanya ketika waktu istirahat saja, sedangkan ketika jam masuk, maka perpustakaanpun akan tutup kembali. Keempat, pendanaan yang kurang memadai bagi terlaksananya aktivitas sebuah perpustakaan. Perpustakaan merupakan inti dan jantungnya pendidikan bagi sebuah sekolah. Arsip ilmu terletak pada buku, sedangkan buku sudah semestinya terkonsentrasi dan tersedia pada perpustakaan. Semakin bervariasi kuantitas buku pada perpustakaan sekolah, semakin tergairahkan minat baca dan minat kunjung ke perpustakaan.

B. Minimnya Minat Baca

Membaca merupakan kegiatan dan kemampuan khas manusia dan tidak bisa dimiliki oleh makhluk apa pun di dunia ini. Walapun demikian kemampuan dan minat membaca tidak terjadi dengan sendirinya, diperlukan proses pembiasaan yang rutin sebagai wujud dari timbulnya minat membaca. Ketidakpedulian minat baca pada kita boleh jadi disebabkan oleh kesenjangan perjalanan budaya bangsa kita dari budaya praliterer ke budaya pascaliterer, tanpa melalui masa literer (Muh. Muslih).

Masyarakat Indonesia pernah mengalami budaya lisan saja, tanpa adanya budaya menulis apalagi membaca tulisan (prasejarah). Budaya masyarakat Indonesia saat ini langsung menuju pada budaya masyarakat yang tidak hendak membaca seiring dengan masuknya teknologi telekomunikasi, informatika, dan broadcasting. Akibatnya masyarakat kita lebih suka dengan kebiasaan menonton televisi daripada membaca. Kondisi ini diperparah lagi dengan semakin banyaknya orang tua yang tidak memperhatikan intensitas aktivitas membaca anaknya, yang disebabkan oleh kesibukan pekerjaan. Kesibukan orang tua ini mengakibatkan mereka tidak memiliki cukup waktu dan energi untuk mendongeng atau mendekatkan anaknya pada buku. Kondisi lainnya adalah materi pelajaran yang termuat dalam kurikulum nasional sangat mengekang ruang gerak guru dalam berimprovisasi dan berkreasi pada materi. Akhirnya mereka terpaku hanya pada satu buku paket wajib saja.

Dampak yang dirasakan saat ini adalah terjadinya penurunan minat baca pada siswa. Dampak tersebut dapat berupa : pertama, orang yang tidak memiliki kebiasaan membaca dipastikan akan tertinggal informasi yang bersifat ilmiah. Buku berbeda dengan dengan televisi, televisi hanya memberikan informasi (walaupun yang bersifat ilmiah) terbatas dan parsial, sifatnya tidak kekal, tergantung pada orang yang menikmatinya, dan berkecenderungan mudah terlupakan. Kadar keilmiahan sebuah buku dapat dipertanggungjawabkan, dan bisa dibaca kapanpun juga bila si pembaca mau. Informasinya relatif tetap dan sistematis. Sebuah anekdot mengatakan bahwa guru SD sangat pintar dan serba tahu bila dipandang oleh muridnya. Hal disebabkan oleh si guru tersebut memiliki kebiasaan membaca berbagai informasi yang bersumber dari buku atau televisi.

Kedua, orang yang jarang membaca akan kalah bersaing dengan orang lain yang lebih sering membaca. Persaingan ini dapat meliputi apa saja, baik dari segi kecakapan dalam menghadapi masalah, bisnis, agama, ataupun persaingan lainnya. Sejarah membuktikan bahwa Julius Caesar sangat sulit sekali menaklukan Mesir, bahkan pasukannya sempat terjepit. Tentara Mesir sangat kuat sekali menghadang kekuatan Sang Kaisar yang disebabkan oleh kebiasaan tentara Mesir dalam membaca buku. Mereka mengetahui berbagai macam strategi pertempuran dari hasil membaca buku di perpustakaan besar yang sangat diagung-agungkannya. Tentara Mesir baru kalah dalam pertempuran setelah Julius Caesar membakar perpustakaan orang Mesir tersebut.

Ketiga, orang yang tidak memiliki kebiasaan membaca akan terkucilkan dalam pergaulan. Kesan pertama pembicaraan yang akrab diawali apabila lawan bicara enak diajak bicara. Kemenarikan pembicaraan akan terlihat apabila isinya berbobot dan berkesinambungan, dan itu diperoleh apabila komponen para pembicara memiliki cukup bahan yang diperoleh dari hasil membaca. Indikator ini akan terlihat apabila dalam sebuah kumpulan orang membahas sebuah persoalan, maka kuantitas pembicara setiap orang akan berbeda, dan disanalah akan terlihat orang yang memiliki kebiasaan membaca dan yang tidak.

Keempat, orang yang tidak memiliki kebiasaan membaca akan berpandangan skeptis terhadap pendapat orang lain. Pendapat orang lain akan senantiasa dikesampingkan, dan menganggap pendapat sendirilah yang paling benar. Kelima, orang yang tidak memiliki kebiasaan membaca, dipastikan dia tidak akan pernah mampu mengungkapkan permasalahan atau ide-ide dalam bentuk tulisan. Tulisan yang sistematis dan bermakna dapat dihasilkan oleh orang yang memiliki literatur bacaan yang memadai.

Seperti halnya kegiatan pembelajaran yang lain, upaya menumbuhkan minat baca juga akan lebih mudah dan efektif apabila dilakukan sejak kanak-kanak, sejak dini, dan sejak saat ini. Ini artinya orang tua sangat dituntut keikutsertaannya. Orang tua harus memastikan bahwa kecintaan akan membaca adalah tujuan pendidikan yang terpenting untuk meningkatkan ketertarikan anak.

Apabila telah tercipta ketertarikan akan minat membaca, maka akan terasa manfaat yang diperoleh dari bacaan tersebut. Manfaat yang bisa diperoleh diantaranya memperkaya pengetahuan dan informasi, hidup akan lebih bermakna di dalam setiap pergaulan, mampu menghargai orang lain, tidak apatis, dan yang terutama dapat terampil dalam menulis mengenai ide atau gagasan yang dimiliki agar mampu digunakan oleh orang lain yang membaca tulisan kita.

C. Pemberdayaan Budaya Membaca di Sekolah

Budaya membaca tidak terjadi dengan sendirinya, perlu proses pengenalan, pembiasaan, atau bila perlu sedikit paksaan agar menjadi sebuah kebiasaan. Pada tataran sekolah, perlu dibentuk sebuah sistem pendidikan yang menimbulkan kegairahan belajar dan membaca. Perangkat inilah yang nantinya secara psikologis memaksa berbagai komponen sekolah untuk memiliki kebiasaan membaca atau bahkan menulis sekalipun.

Proses pembiasaan membaca dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya :

  1. Memberikan reward pada siswa atau guru. Reward pada siswa dapat berupa nilai plus bagi siswa yang melaporkan hasil bacaanya pada guru mata pelajaran yang bersangkutan. Laporan dapat dinyatakan dengan lisan dalam bentuk presentasi buku yang telah dibacanya dihadapan guru atau siswa lainnya. Tujuannya adalah agar dapat memancing siswa lainnya untuk memiliki kebiasaan membaca. Reward pada guru dapat dilakukan oleh kepala sekolah langsung atau melalui wakil kepala sekolah urusan kurikulum melalui penghargaan dalam bentuk apapun yang relevan dengan guru yang besangkutan, misalnya pujian atau ucapan terima kasih yang diumumkan pada forum-forum tertentu. Atau waktu khusus dalam pertemuan-pertemuan tertentu, dimana guru tersebut mampu mempresentasikan hasil bacaannya kepada guru lainnya. Kegiatan ini selain membiasakan agar guru memiliki sikap yang ilmiah, edukatif, dan profesional sebagai ciri dari sebuah lingkungan institusi pendidikan moderen.
  2. Lomba membaca pada even tertentu yang dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya. Lomba semacam ini dapat ditujukan bagi semua siswa atau siswa perwakilan kelas. Even lomba membaca ini dapat diadakan pada saat kegiatan porseni akhir semester setelah ulangan umum atau pada saat menyambut Bulan Gemar Membaca. Pelaksanaan lomba membaca ini tidak hanya membaca, tetapi sekaligus mengingat dan menyimak bacaan yang dipresentasikan, yang kemudian diuji oleh tim penilai (juri).
  3. Melengkapi perpustakaan, baik secara kuantitas maupun kualitas buku yang akan disediakan. Kelengkapan perpustakaan yang lainnya adalah menggenjot petugas perpustakaan agar bertugas secara profesional dan mau meningkatkan kualitas pribadi intelektualitasnya melalui keikutsertaanya dalam seminar atau lokakarya perpustakaan. Kelengkapan perpustakaan lainnya adalah dengan melengkapinya dengan fasilitas internet (cyber library), tentunya dengan berbagai perlengkapan komputer yang memadai. Apabila tercipta perpustakaan yang ideal, maka dipastikan jumlah pengunjung perpustakaan akan semakin meningkat dan perpustakaan akan kembali pada hakekat semula sebagai gudangnya ilmu bagi masyarakat sekolat tersebut.
  4. Mewajibkan kepada semua kalangan civitas akademika sekolah untuk mau menulis. Langkah awal pelaksanaan program ini adalah dengan memberikan surat tugas untuk menulis apa saja pada awal semester kepada guru secara bergiliran (misal setiap semester diberikan surat tugas kepada 6-8 guru) oleh kepala sekolah atau wakil kepala sekolah urusan kurikulum. Setiap satu bulan menjelang akhir semester, tulisan guru tersebut dikumpulkan dan diperiksa oleh tim guru (ahli) yang ditugasi untuk mengumpulkannya. Setiap tahunnya, tulisan tersebut dibundelkan menjadi satu sebagai arsip sekolah dan disimpan di perpustakaan atau dipublikasikan, sehingga dapat dibaca dan diambil manfaatnya oleh siapa saja. Lebih jauh lagi dapat digunakan sebagai bekal akreditasi sekolah selanjutnya. Setiap tulisan tersebut dimungkinkan untuk diberi reward juga, misalnya dalam bentuk finansial bagi pengembangan bahan bacaan untuk tulisan guru itu selanjutnya. Bagi siswa dapat diwajibkan menulis apa saja yang direkomendasikan oleh guru mata pelajaran atau wali kelas dan diakomodasikannya dalam Majalah Sekolah yang diterbitkan setiap periode tertentu. Reward bagi tulisan siswa yang dimuat, dapat berupa nilai plus yang diberikan oleh masing-masing guru mata pelajaran yang bersangkutan dengan isi tulisannya atau oleh wali kelasnya langsung.
  5. Dibuat sebuah acara khusus yang berisi kegiatan presentasi setiap tulisan guru secara berkala. Tujuannya adalah agar kita dapat mengetahui berbagai ide atau gagasan-gagasan guru melalui tulisan yang dibuatnya itu sebelum atau setelah dipublikasikan. (Corida090306).

 

Sumber : http://geocorida.blogspot.com/2008/11/budaya-membaca_02.html

 

Sumber Foto : uniprof.wordpress.com/


read : 9294

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  




Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7


Profil Penulis

 Online: 249
 Hari ini: 2.737
 Kemarin : 5.416
 Minggu kemarin : 34.442
 Bulan kemarin : 134.890
  Total : 7.916.861