Senin ,27 April 2026
Balai Melayu Hotel

Artikel

Kearifan lokal & strategi budaya

18 Agustus 2010 14:42:05

Bambang Sadono, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah

Bung Karno (BK) merumuskan dengan sistematis strategi pembangunan sumber daya manusia. Dengan konsep Trisakti, dasar dan target pembangunan (baca: revolusi) ditetapkan, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Dari mana memulainya ?

Konsep BK ini menarik jika dikaitkan dengan Sibernetika Talcott Parsons—teori tentang interaksi antara kebudayaan, sosial dan politik, dalam perubahan masyarakat. Perubahan sosial (revolusi, pembangunan, reformasi, restorasi) dipandu oleh teori nilai dan teori energi (power). Parson merumuskan secara berurutan jika dilihat dari teori power mulai dari subsistem ekonomi, politik, sosial dan budaya. Jika dibalik dari teori nilai, berurutan mulai sub sistem budaya, sosial, politik dan ekonomi.

Sibernetika Parsons ini memudahkan untuk memahami sistem budaya dan dampaknya pada sistem ekonomi dan politik suatu bangsa. Amerika Serikat yang mengembangkan budaya liberalisme—menjunjung tinggi kebebasan dan hak asasi manusia—diterjemahkan dalam politiknya sebagai demokrasi, trias politika dan dijaga dengan rule of law. Sistem ekonominya bersifat kapitalistik, ekonomi pasar dan  free competition.

Bagaimana dengan Indonesia? Berhasilkah kita merumuskan strategi budaya—kristalisasi nilai yang akan membentuk subsistem politik dan ekonomi. Apakah Pancasila, solidaritas atau gotong royong, religiusitas, sudah bisa diterjemahkan dalam cara kita berpolitik, misalnya dalam berdemokrasi dan bernegara hukum? Di bidang ekonomi, bisakah berdikari diterjemahkan dalam kemandirian, swasembada dan cinta produksi dalam negeri? Mochtar Lubis melukiskan dalam satu kalimat, wajah lama tak karuan di kaca, sedang wajah baru belum jua jelas.

Transformasi budaya
Jika menggunakan basis identifikasi Mochtar Lubis—misalnya budaya feodal—wajar saja jika kemudian di dunia politik muncul gaya yang otoritarian (Soekarno maupun Soeharto). Koentjaraningrat menyebut, mentalitas tidak mengutamakan mutu, tidak hemat, suka menerabas, tidak percaya diri, kurang disiplin, dan kurang bertanggung jawab. Dari karakter yang tidak menghargai proses—ingin cepat menerabas ke hasil—akan menghasilkan ekonomi yang tidak efisien dan berbiaya tinggi. Akibatnya daya saing rendah dan tergantung pada produk impor

Melihat persoalan transformasi budaya ini, maka harus dilakukan identifikasi nilai-nilai budaya yang positif dan signifikan dengan cita-cita bangsa. Sambil mengurangi karakter yang negatif, harus terus dirancang dan diperkuat nilai-nilai yang signifikan pada proses mencapai tujuan, apakah dengan istilah revolusi, pembangunan, reformasi atau restorasi.

Transformasi budaya menjadi keniscayaan karena peradaban yang berjalan cepat. Menurut Alvin Toffler, gelombang budaya pertama yang disebut sebagai gelombang pertanian berlangsung antara 8.000 tahun sebelum masehi hingga sekitar tahun 1.700 setelah masehi, selama ribuan tahun. Gelombang kedua, budaya industri, sampai pertengahan abad 20, sekitar 300 tahun. Gelombang ketiga, budaya teknologi tinggi, komputer, chip, satelit dan sebagainya diduga akan berlangsung lebih singkat.

Budaya Jawa
Budaya Jawa sangat potensial untuk menjadi jangkar dalam membangun budaya nasional. Bukan saja karena merupakan komunitas terbesar di Indonesia, tetapi akar dan aset kebudayaannya memang cukup kaya dan sebagian masih hidup di tengah masyarakat. Kritik sebagai budaya yang feodalistis, yang lamban, bisa saja diterima sebagai nilai-nilai yang harus diperbarui.

Tetapi ajaran-ajaran mengenai filsafat, etika, kepemimpinan, budaya Jawa tergolong kaya. Psikologi Jawa misalnya, telah dikembangkan oleh Ki Ageng Suryomentaraman. Ajaran budi pekerti dan kepemimpinan, masih hidup dalam buku-buku seperti Wulangreh tulisan Pakubuwono IV, atau Wedhatama tulisan Sri Mangkunegoro IV. Ajaran kepemimpinan Hastha Brata diadopsi sebagai kepemimpinan ABRI.

Ajaran kearifan, seperti keluwesan bergaul (manjing ajur-ajer), sikap sederhana (nrima ing pandum), tidak ambisius (semeleh) adalah ajaran yang memudahkan orang Jawa dalam menempatkan diri dalam komunitas nasional yang lebih luas. Budaya pada akhirnya akan memengaruhi kehidupan sosial, politik dan ekonomi seperti Teori Parsons.

Mengembangkan kebudayaan tak cukup hanya mengurus bahasa dan kesenian, jika budaya yang bersangkutan benar-benar ingin jadi rujukan nilai bagi sistem sosial, politik, maupun ekonomi. Termasuk dalam kasus budaya Jawa. Kalau ideologi, filsafat, bisa dimasukkan dalam sistem religi, maka masih banyak kekayaan Jawa yang bisa dibongkar dan dimanfaatkan.

Belum lagi soal ajaran moral, kepemimpinan, manajemen, kesenian dan sebagainya. Wayang dan batik, sebagai salah satu bentuk budaya Jawa bahkan sudah diakui sebagai aset dunia. Sarananya adalah pendidikan, termasuk penelitian dan media baik cetak, elektronik, cyber, dan sebagainya.

Kearifan lokal adalah strategi budaya. China bisa mengandalkan kedokteran dan obat-obat tradisionalnya. Bagaimana dengan jamu kita? Italia, China, Jepang, dan Thailand, kulinernya menguasai citarasa dunia. Bagaimana dengan gudeg, rawon, pecel, bisakah jadi menu internasional? Karate Jepang, Kungfu China bisa jadi diplomasi olah raga di mana-mana, bagaimana dengan pencak silat kita?

 

 

Sumber : http://www.solopos.com/2010/kolom/kearifan-lokal-strategi-budaya-21129

 


read : 4608

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  




Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7


Profil Penulis

 Online: 301
 Hari ini: 2.784
 Kemarin : 5.416
 Minggu kemarin : 34.442
 Bulan kemarin : 134.890
  Total : 7.916.908