Selasa ,09 Juni 2026
Balai Melayu Hotel

Info Terkini

AdiCita Menjawab Tantangan Industri Komik Indonesia

21 April 2010 09:44:26

Jogja memang tempat berkumpulnya banyak penerbit, bahkan dalam skala nasional sekalipun- yang memiliki keberanian untuk mencoba melirik potensi komik Indonesia dan mencoba mengangkatnya. Alasannya adalah persaingan komik impor yang sangat kuat di pasar dalam negeri.

 

Adalah Adicita sebuah penerbit yang buku-bukunya sudah berlangganan mendapatkan penghargaan Adikarya IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) Award memiliki inisiatif dan misi kepedulian akan dunia komik nasional tersebut. Sebagai langkah awal, Adicita  telah meluncurkan komik Pampil karya Joey dari studio Swacomsta. Menerbitkan komik lokal bisa dibilang tindakan yang berisiko, namun Mahyudin Al Mudra, direktur Adicita punya pemaparan lain.

 

“Kalau membangun usaha penerbitan hanya menyusun atau menghitung angka-angka demi mengejar profit materi semata, maka sudah lama saya amit mundur dari dunia yang begitu njlimet dan unpredictable ini. Mungkin disinilah takdir dan garis hidup saya, memimpin dan mengelola penerbit buku. Sebuah usaha yang saya yakini mempunyai misi yang sangat mulia, yaitu menyebarkan ilmu dan mencerdaskan  kehidupan bangsa, “tutur Mahyudin.

 

Penerbit Adicita merupakan bagian dari Yayasan Adicita Karya Nusa yang menaruh kepedulaian terhadap pencerdasan bangsa, serta berupaya menjembatani hubungan antar subkultur dan mengembangkan sifat produktif dalam modernisasi. Peranan yang nyatapun diwujudkan Adicita melalui even komik, yang masih jarang keberadaanya terutama di jogja, seperti SEKOIN (Seyogyanya Komik Indonesia) pada 3-4 Februari lalu di Benteng Vredeburg. Rangkaian acara SEKOIN masih berlangsung dalam Lomba Mengkomikkan Jogja hungga akhir April 2004

 

Romantisme Komik

 

Di era 80-an, komik Indonesia bisa dibilang berjaya. Romantisme akan masa jaya komik Indonesia di tahun 80-an itu masih teringat jelas dikalangan para pembacanya. Hal ini bisa dimaklumi karena saat itu tidak ada media hiburan lain seperti televisi, VCD player dan lain-lain. Melihat pasar dan nilai ekonomis dari bisnis komik kala itu, orang-orang tiba-tiba saja berbondang-bondang mengalihkan usahanya ke penerbitan komik.

 

Tapi zaman berubah, dan persaingan yang memang selayaknya harus ada menggeser posisi komik nasional. Para penerbit musiman pun kembali ke usaha masing-masing seperti sebelumnya. Dan generasi 90-an, ketika persaingan media makin kentara, nasib komik Indonesia seperti mati segan hidup tak mau. Tak ada lagi pemodal yang mau menerbitkan komik. Luar karena selain tidak repot prosesnya juga dinilai lebih berkualitas. Di sinilah sakan-akan hubungan industri dan komik lokal terputus.

 

Namun dalam kenyataannya komik Indonesia yang kurang terekspos tetap mempunyai penggemar sendiri. Hal ini terbukti dari animo masyarakat terhadap pemeran-pemeran yang diadakan secara kolektif oleh para komikus muda yang mencoba mencari celah untuk tetap eksis. Benturan-benturan modal, etos kerja dan persoalan manajemen dan distribusi nampaknya masih menjadi hambatan bagi para seniman-kreator, khususnya komikus, untuk mejangkau pasar lebih luas. Komik Indonesia masih sangat kurang mendapatkan kesempatan untuk dikenal orang.

 

Budaya Komik

 

Harus kita akui apresiasi masyarakat khususnya anak-anak serta remaja terhadap bacaan komik di indonesia cukup besar. Hal ini bisa kita lihat dari membanjirnya komik-komik impor di tanah air yang laris manis. Komik merupakan sebuah mesia massa yang sangat potensial dan efektif bagi penyebaran isu, informasi, pembentukan wacana dan budaya, sekaligus sebagai media kreatfi yang menghibur. Kehadirannya kini pun sudah menjadi barang kebutuhan di masyarakat. Bahkan pengaruhnya yang demikian besarpun dapat pula kita temui pada para penggemarnya. Komik yang beredar di Indonesia adalah komik impor yang tidak semua muatan didalamnya tidak sesuai budaya kita. Akan tetapi yang lebih disayangkan adalah bangsa kita belum memiliki “budaya komik” itu sendiri.

 

 

Sumber            : Koran Bernas

Hari/tgl : Minggu 7 April 2002

Hal                   : -

 

 


read : 4630

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  




Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7


Profil Penulis

 Online: 73
 Hari ini: 805
 Kemarin : 1.007
 Minggu kemarin : 4.956
 Bulan kemarin : 48.107
  Total : 7.981.357