Sabtu ,02 Mei 2026
Balai Melayu Hotel

Info Terkini

Jadikan Buku Sebagai Kebutuhan

21 April 2010 13:46:41

Ada lingkaran setan yang menjadi penyebab mengapa buku (cerita) anak-anak menjadi begitu terabaikan dan terpuruk. Lingkaran setan itu adalah rendahnya minat baca, daya beli (kemauan) yang relatif kecil, kecilnya apresiasi terhadap pengarang dan juga serbuan buku-buku asing yang konon lebih menarik. Padahal segmen anak-anak ini begitu besar, namun, sayang tidak banyak penerbit yang melirik pasar potensial ini sehingga kondisi perbukuan untuk anak-anak semakin memprihatinkan.

 

Untuk mengurai lingkaran setan tersebut dan seputar permasalahan dunia buku anak-anak serta bagaimana agar minat bacanya bisa terdongkrak, berikut petikan wawancara Agus Ruyanto dengan Mahyudin Al Mudra, Dirut Penerbit AdiCita Grup, yang memiliki komitmen dan konsen dengan penerbitan buku anak-anak.

 

AdiCita dikenal sebagai penerbit yang memiliki komitmen dan konsen terhadap penerbitan buku anak-anak, bahkan berbagai penghargaan telah diraih. Bisa dijelaskan apa yang mendasari dan mendorong Anda untuk menerbitkan buku cerita anak-anak?

 

Ada dua alasan subyektif dan obyektif. Subyektifnya adalah sejak tahun 1995/96 saya mengalami keprihatinan yang amat sangat ketika saya berkunjung ke toko buku. Ternyata sangat sedikit penerbit yang sungguh-sungguh ingin masuk ke penerbitan anak. Ada memang, tetapi sekedar pameran saja. Kemudian dari ratusan terbitannya ada beberapa judul buku anak atau yang dipesan pemerintah tapi sangat sedikit bacaan yang asli Indonesia, ataupun buku-buku saduran yang betul-betul memperhatikan aspek sosio kultural masyarakat Indonesia. Nah… dari alasan subyektif ini saya berabikan diri masuk segmen pasar anak. Jadi adanya keprihatinan dan keinginan untuk mendampingi anak terutama pra TK, TK dan SD.

 

Obyektifnya, kami yakin bahwa dari segi pasar, segmen anak-anak sangat besar sehingga dengan itu belanja anak, jumlah sekian kali sekian kita ambil sekian prosen itu tak kalah besarnya. Kami mencoba lebih dulu mendahului dari beberapa penerbit yang menggarap buku anak. Kami memulai dengan idealisme.

 

Ada berapa faktor yang menyebabkan buku nak-anak kita memprihatinkan yaitu rendahnya minat baca, kecilnya daya beli, kecilnya apresiasi terhadap pengarang, enggannya penerbit melirik buku anak-anak serta gempuran buku asing. Mungkin bisa Anda urai masalah yang saling terkait ini?

 

Wah…ini pertanyaan borongan. Jadi begini ya, kalau dikatakan pasar anak kecil sangat salah karena kalau dilihat dari jumlah sekolah justru terbanyak pada usia belajar SD-SLTA, terutama SD. Jadi, mengerucut yang paling kecil SMU. Dengan begitu pasar buku untuk anak sangat besar. Hanya saja tidak mudah untuk masuk kesana, jauh lebih susah baik dari segi substansi, cara penyajian, grafisnya, maupun nilai ideologisnya harus diperhatikan karena dengan begitu anak akan mudah terpengaruh atas keinginan untuk meniru. Sehingga untuk terjun ke buku anak-anak jauh lebih sulit daripada buku dewasa.

 

Nah…mengapa penerbit belum banyak melirik? Ya..kalau penerbit melirik ini memang belum karena seperti saya katakan bahwa buku anak-anak jauh lebih sulit. Tetapi kalau penerbit asing sangat berkonsentrasi. Di AS saja lebih dari 150 penerbit yang bergerak dalam buku anak-anak. Dan mereka merupakan penerbit yang sangat besar seperti di Malaysia, Singapore, Jepang dan Inggris. Jepang adalah kiblat baru buku anak-anak. Dalam sepuluh tahun terakhir buku anak-anak sangat luar biasa. Kalau di Indonesia memang belum dilirik tapi kalau luar negeri sangat ditekuni.

 

Apakah minat baca atau daya beli yang rendah? Ini sangat sulit seperti mana yang lebih dulu telur atau ayam. Tapi dikatakan minat baca rendah juga tidak ya….terbukti di toko buku, perpustakaan, anak-anak sangat antusias membaca seperti di Gramedia. Kadang-kadang saya terharu ya, karena mereka harus diusir pelayan. Kalau dikatakan daya beli rendah juga relatif ya, karena harga buku jauh di bawah harga kaset. Kaset anak-anak begitu meledak, VCD, animasi. Jadi bisa dilihat kalau satu kaset oplahnya bisa 300 ribu bahkan ada yang dapat platinum. Ini belum pernah terjadi pada buku. Antara minat baca yang memang belum tinggi ditambah dengan daya beli yang belum tinggi (bukan rendah) memang lengkap sudah penderitaan penerbit. Beaya produksi tinggi sementara daya beli menurun. Ada prioritas-prioritas di luar buku ini. Ternyata pemerintah, masyarakat masih rendah untuk menggiatkan minat baca. Yang penting adalah komitmen kita semua untuk menjadikan buku sebagai kebutuhan pokok khususnya pada usia dini.

 

Artinya eli masyarakat sangat mampu hanya kebutuhan buku sangat rendah, disisi lain produksi buku anak-anak relatif kecil. Ini sungguh ironis dimana pasar begitu besar tetapi produksi (kualitas/kuantitas) begitu kecil? Bagaimana dengan negara tetangga?

 

Ya…secara kuantitatif judul buku anak-anak yang terbit belum banyak. Jauh sekali di bawah negara-negara Asean baik buku-buku umum, buku anak-anak, manajemen, buku dewasa, buku bacaan ataupun pelajaran. Kemudian dari segi kaulitatif apalagi. Secara khusus lebih sedikit lagi seperti judul yang terbit untuk anak asli Indonesia. Kita belum bicara kualitas, bicara kuantitas saja sangat sedikit untuk anak-anak. Tambah lagi yang kualitas, syukur-syukur yang asli Indonesia. Sekarang kan serbuan buku-buku anak baik yang saduran ataupun yang terjemahan itu banyak sekali.

 

Rendahnya produksi buku tersebut apakah juga dipengaruhi oleh rendahnya apresiasi penerbit terhadap pengarang sehingga menghambat kreatifitas san produktifitas pengarang untuk membuat buku yang berbobot?

 

Harus diakui bahwa perolehan dari penulis jauh lebih kecil dibanding profesi lainnya seperti penulis di media massa, misalnya. Dimana sekali nulis bisa mendapatkan Rp 500 ribu. Sedangkan untuk buku harus ditulis dalam waktu lama, mendalam dan sebagainya. Itupun kalau jadi terbit harus menunggu 6 bulan setelah buku beredar. Karena siklus dari uang naskah, naskah ke buku, buku ke pasar dan kembali ke uang lagi itu antara setengah sampai dua tahun. Jadi, dibutuhkan satu pengorbanan dari penulis, sebab kalau bukunya meledak tak perlu lagi memeras pikiran. Tetapi memang, penerbit juga alami kesulitan terlebih waktu terakhir ini karena komponen buku ini lebih banyak pada komponen impor seperti film, plate, tinta, sparasi, sehingga harganya sangat fluktuatuf dengan nilai dolar. Kita tak mungkin menurunkan harga buku.

 

Satu-satunya jalan adalah mengurangi laba perusahaan dan mengurangi royalty atau menekan upah yang sebenarnya. Jadi komponen buku apalagi yang berwarna begitu terpengaruh. Di sinilah sulitnya penerbit. Di satu sisi kita diminta untuk menjual buku yang bagus dari segi substansi, penyajian, desain grafis, sesuai tingkatan umur, merangsang kreatifitas anak, ilustrasi harus imajinatif, dan harus murah. Buku diatas harga Rp 10 ribu tak laku, meskipun banyak yang mampu beli baju anak yang bermerek dengan harga ratusan ribu. Tapi untuk beli buku seharga Rp 20 ribu harus mikir dan sudah pasti tak mau. Di sini kendala kami.

 

Sebenarnya daya beli relatif tinggi tetapi karena dorongan ortu yang rendah maka konsumsi buku menjadi rendah. Apa yang harus dilakukan untuk mendongkrak minat baca ini?

 

Sebenarnya daya beli relatif cukup untuk bangsa Indonesia, karena buku tak mahal-mahal amat dibandingkan produk untuk anak-anak lainya. Jadi relatif terjangkau. Minat baca juga relatif cukup. Hanya awareness, kesadaran kita untuk menjadikan buku sebagai kebutuhan, menjadikan pembaca sebagai kebiasaan (needs). Itulah yang belum tumbuh.

Padahal buku adalah makanan rohani yang ‘bergizi’ untuk pembentukan karakter, moral, anak sejak usia dini. Tidak ada perhatian. Nah….itulah yang seringkali kami prihatin. Disinilah kami mencoba untuk menerbitkan buku anak-anak, dengan tidak banyak gembar-gembor tapi berbuat terus, menerbitkan buku anak-anak. Sekesil apapun kita masih berbuat sesuatu untuk negeri ini. Ya..saya sebagai penerbit ingin yang profesional, yang bertanggung jawab. Dan hingga kini telah terbit sekitar 500 judul buku, 400 diantaranya adalah buku anak-anak.

 

Keberpihakan pemerintah sendiri terhadap penerbit buku anak-anak bagaimana?

 

Jangankan buku anak-anak ya, kepada penerbit buku (umum) saja masih sangat kecil, apalagi pada buku anak-anak. Bahkan pada pendidikan itu sendiri. Jika kita lihat dari komposisi dari APBN, berapa persen untuk pendidikan. Katanya 11 persen. Ya..itu sudah luar biasa, padahal luar negeri seperti negara tetangga 25-35 persen. Namun dari komposisi 11 persen itu separuhnya kan untuk belanja rutin seperti gaji pegawai, pembangunan fisik dan lain-lain. Buku ini hanya sebagai pelengkap saja, wangun-wangun.

 

Keberpihakan itu kan harus diwajibkan dalam bentuk belanja pendidikan (buku) yang memadai. Tetapi anggaran pendidikan lebih banyak untuk pembangunan, perbaikan. Utnuk buku sangat sedikit, dan saya yakin tidak ada 10 persen dari belanja pembangunan. Namun saya tidak mau mengeluh terus. Padahal penerbitan ini satu usaha yang tak pernah ada subsidi, tetapi selalu kena pajak sejak dari beli kertas, ketika jadi buku kena PPn, kemudian ketika dijual kena pajak PPn. Jadi kena pajak ganda. Ini ajaib ya. Produk intelektual kok kena pajak ganda sementara banrang-barang mewah bebas gitu lho.

 

Perjuangan IKAPI sudah bertahun-tahun, menghadap Habibie (ketika menjabat presiden) saat munas dulu. Ketika dengan lantangnya Habibie mengatakan No Tax Education. Kita bertepuk tangan saat itu. Namun begitu menghadap dirjen pajak buntu, sampai Habibie lengser sekarang kena pajak ganda. Dari sini bisa dikatakan keberpihakannya belum ada.

 

 

Sumber            : TABLOID MADANI

Hari/tgl : 6/17-26 Oktober 2001

Hal                   : 4

 


read : 6687

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  




Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7


Profil Penulis

 Online: 223
 Hari ini: 1.961
 Kemarin : 2.076
 Minggu kemarin : 40.093
 Bulan kemarin : 147.519
  Total : 7.930.519