Resensi
Peristiwa 2 September 1985 Tragedi Riau Menegakkan Demokrasi
31 Mei 2011 15:21:25
| Judul Buku |
: |
Peristiwa 2 September 1985 Tragedi Riau Menegakkan Demokrasi |
| Penulis |
: |
St. Zaili Asril et al., |
| Penyelaras Bahasa |
: |
Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M.,et al., |
| Penerbit | : |
Adicita Karya Nusa, Yogyakarta |
| Cetakan |
: |
Pertama, Desember 2004 |
| Tebal |
: |
x1vii + 267 halaman |
| Ukuran |
: |
1,3 x 21,1 cm |
Buku ini berkisah tentang perisitiwa politik, yaitu pemilihan Gubernur Riau pada tanggal 2 September 1985. Peristiwa ini dinilai bersejarah sekaligus heroik tetapi juga kelabu. Bersejarah karena perisitiwa ini dianggap sebagai tonggak demokrasi di Riau di mana saat itu negara masih dikuasai rezim Orde Baru. Heroik karena calon yang tidak diunggulkan, Ismail Suko, dapat mengalahkan calon yang direstui oleh Orde Baru, yaitu gubernur incumbent, Imam Munandar. Kelabu karena pada akhirnya atas desakan rezim Orde Baru, gubernur terpilih harus mengundurkan diri dan gubernur pilihan penguasa pusat yang kembali berkuasa.
Buku ini dapat dikategorikan sebagai buku sejarah karena ditulis dengan runtut berdasarkan terjadinya perisitiwa, proses yang terjadi didalamnya, orang-orang yang terlibat, dan gambaran suasana yang mencekam. Sebagai sebuah saksi sejarah, buku ini layak diapresiasi dengan baik, yakni dibaca, dipahami, dan dan direnungkan.
Semangat Putra Daerah
Meskipun hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, namun peristiwa 2 September 1985 itu dianggap sebagai tonggak sejarah demokrasi di Riau yang perlu untuk dikenang. Rezim Orde Baru yang gagah perkasa dan nyaris tak tertandingi ternyata dapat dikalahkan rakyat Riau yang menginginkan daerahnya dipimpin oleh putra daerahnya sendiri.
Semangat para putra daerah Bumi Lancang Kuning inilah sebenarnya yang ingin diapresiasi melalui buku ini. Perasaan terhegemoni oleh penguasa pusat menjadi dasar anak-anak Riau untuk menentukan nasibnya sendiri. Riau yang kaya akan sumber daya alam, seperti minyak dan kelapa sawit, dilihat oleh putra daerah hanya dikeruk dan hasilnya hanya dinikmati oleh orang-orang dari pusat, yaitu orang-orang seperti Imam Munandar, sang gubernur (hal 27).
Oleh anak-anak muda Riau, pemilihan gubernur periode 1985-1990 dianggap sebagai momen untuk menunjukkan bahwa Riau tidak ingin lagi dipimpin oleh gubernur pilihan pusat. Ismail Suko, yang saat itu menjadi anggota DPRD Riau, dicalonkan secara “sembunyi-sembunyi” oleh para anggota DPRD yang tidak setuju Imam Munandar berkuasa lagi.
Sejatinya, Ismail Suko keluar sebagai pemenang dalam pemilihan Gubernur Riau tersebut, terpaut tiga poin di atas Imam Munandar. Kemenangan Ismail Suko tentu saja disambut gembira oleh segenap rakyat Riau karena ternyata dominasi pusat. Dapat dikalahkan. Sejak itu, semangat pembaharuan mereka semakin terpantik, masa depan yang cerah untuk Riau menjadi harapan yang membuncah.
Mendung Kelabu itu Runtuh
Kemenangan Ismail Suko disambut gembira oleh putra daerah dan seluruh masyarakat Riau waktu itu. Momen bersejarah dan heroik itu tercipta di bumi yang selama ini diperas oleh pusat. Minyak dan hasil bumi lainnya diambil oleh penguasa dan hanya dinikmati oleh para koruptor. Sementara Riau dan masyarakatnya sendiri terseok-seok di jalanan yang masih belum banyak di aspal.
Namun apa daya, ternyata taring Orde Baru masih kuat, tembok penguasa masih sulit tetap ditembus. Selang beberapa hari setelah hari perhitungan itu, Ismail Suko dipanggil ke Jakarta untuk menemui Wakil Presiden Sudarmono. Konon, Ismail Suko didesak untuk mengundurkan diri dan dijanjikan jabatan lain. Orde Baru menginginkan agar Gubernur Riau tetap dipegang oleh Imam Munandar. Ismail Suko yang orang sipil pun takluk. Gubernur Riau diampu lagi oleh Imam Munandar lagi yang anggota TNI. Riau kembali kelabu dan rakyat pun menangis.
Rakyat Riau tidak tahu bahwa sebenarnya di pemerintah pusat telah terjadi persaingan antara Sudarmono dengan LB Moerdani untuk menjadi nomor satu di tubuh TNI dan menjadi orang dekat Soeharto. Sudarmono ternyata lebih direstui Soeharto daripada Moerdani. Pemilihan gubernur Riau dijadikan lahan untuk membuktikan diri-melalui partai Golongan Karya tentunya-orang-orang yang ingin dekat dengan Soeharto (hal yang sama juga terjadi di berbagai daerah, aik dalam pemilihan kepala daerah). Pengunduran diri Ismail Suko dan naiknya kembali Imam Munandar merupakan kemenangan Soedarmono atas rival terberatnya LB. Moerdani.
Riau sekarang Riau yang Malang
Persitiwa 2 Spetember 1985 hendaknya janganlah hanya cukup diketahui saja. Saat ini, Riau masih bergulat dengan kemiskinan dan problem kerusakan yang dahsyat. Dalam konteks ini, peristiwa bersejarah itu sebenarnya dapat dijadikan tonggak oleh para putra daerah yang saat ini sudah berkuasa, untuk terus berjuang membuat Riau menjadi lebih baik.
Namun, tampaknya Riau yang sekarang belum lepas dari kemalangannya. Otonomi daerah yang bergulir selepas runtuhnya orde baru justru melahirkan ”raja-raja kecil” dari para putra daerah sendiri. Bahkan, media massa saat ini banyak yang memberitakan bahwa Gubernur Riau Rusli Zainal terlibat dalam kasus korupsi anggaran daerah.
Kenyataan ini tentu saja sangat memprihatinkan. Apa yang diperjuangkan pada tanggal 2 Spetember 1985 itu tampaknya justru melahirkan euforia yang beringas dari putra daerah untuk mengeruk sumber daya alam Riau untuk dinikmati sendiri. Jika sudah demikian, tampaknya mental dan keseriusan berpolitik untuk kesejahteraan bersama itu lebih penting daripada putra daerah atau bukan.
Yusuf Efendi
Other news
Tuliskan komentar Anda !
Member login
Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa
Atau
Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra
Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7
atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7
Online | : 39 |
Hari ini | : 346 |
Kemarin | : 5.416 |
Minggu kemarin | : 34.442 |
Bulan kemarin | : 134.890 |
Total | : 7.914.470 |



Online
Hari ini
Kemarin
Minggu kemarin
Bulan kemarin
Total