Resensi
Arab Melayu
31 Mei 2011 16:01:42
| Judul Buku |
: |
Mengenal Tulisan Arab Melayu |
| Penulis |
: |
M. Irfan Shofwani |
| Penerbit | : |
BKPBM dan Adicita, Yogyakarta |
| Cetakan |
: |
Pertama, 2005 |
| Tebal |
: |
ix + 59 halaman |
| Ukuran |
: |
14,2 x 20 cm |
Masih ingatkah Anda dengan huruf Arab pegon? Bagi mereka yang pernah nyantri di pondok-pondok pesantren salaf mungkin sangat mengenal huruf Arab yang satu ini. Meskipun wujudnya memakai aksara Arab, pembacaannya menggunakan tata bahasa Indonesia karena sejatinya huruf Arab pegon memang berasal dari bahasa Melayu yang penulisannya menggunakan aksara Arab.
Membedakan huruf Arab pegon dengan huruf Arab asli sangat mudah. Penulisan Arab pegon menggunakan semua aksara Arab Hijaiyah, dilengkapi dengan konsonan abjad Indonesia yang ditulis dengan aksara Arab yang telah dimodifikasi. Modifikasi huruf Arab ini dikenal sebagai huruf jati Arab Melayu, berwujud aksara Arab serapan yang tak lazim. Misalnya, untuk konsonan ‘ng‘, Arab pegon menggunakan huruf ‘ain dengan tiga titik di atasnya. Sedangkan untuk konsonan ‘p‘, diambil dari huruf fa‘ dengan tiga titik di atasnya dan sebagainya. Selain itu, huruf Arab pegon meniadakan syakal (tanda baca) layaknya huruf Arab gundul.
Sejarah penulisan Arab pegon di Nusantara diperkirakan ada sejak tahun 1200 M / 1300 M seiring dengan masuknya agama Islam menggantikan kepercayaan Animisme, Hindu, dan Budha. Di kalangan orang Malaysia, huruf Arab Pegon ini dikenal dengan sebutan tulisan jawi, sementara orang Jawa sendiri justru menyebutnya sebagai huruf Arab pegon. Banyak orang Jawa mengira bahwa huruf Arab pegon itu hanya milik orang Jawa saja karena penggunaannya sudah mentradisi di pesantren-pesantren salaf di Jawa. Bahkan, hingga kini komunitas santri di pesantren-pesantren salaf masih menggunakan huruf Arab pegon ini dalam memahami teks-teks Arab dan kitab kuning yang penerjemahannya memakai huruf Arab pegon.
Di kalangan yang lebih luas, huruf Arab pegon dikenal dengan istilah huruf Arab Melayu karena ternyata huruf Arab berbahasa Indonesia ini telah digunakan secara luas di kawasan Melayu mulai dari Terengganu (Malaysia), Aceh, Riau, Sumatera, Jawa (Indonesia), Brunei, hingga Thailand bagian selatan (hlm. 9). Tak heran, jika kita membeli produk-produk makanan di kawasan dunia Melayu (Malaysia, Thailand Selatan, Brunei, dan beberapa wilayah di Indonesia) dapat dipastikan terdapat tulisan Arab pegon dalam kemasannya.
Sayangnya, huruf Arab pegon kini tak lagi dikenal oleh masyarakat luas. Padahal, menurut sejarahnya, huruf Arab pegon telah digunakan secara luas oleh para penyiar agama Islam, ulama, penyair, sastrawan, pedagang, hingga politikus di kawasan dunia Melayu. Pergeseran penggunaan huruf Arab pegon menjadi huruf Rumawi dimulai saat Kemal Attaturk yang dikenal dengan sebutan Bapak Turki Modern menggulingkan kekuasaan Khalifah Utsmaniyah terakhir, Sultan Hamid II pada tahun 1924. Kongres bahasa yang diadakan di Singapura pada 1950-an memperkuat kedudukan huruf Rumawi. Salah satu keputusan dalam kongres tersebut menghasilkan pembentukan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia yang mempelopori dan mengompori penggunaan abjad Rumawi. Saat itulah hampir semua penerbit koran, majalah, dan buku dengan terpaksa mengganti aksara Arab pegon dengan huruf Rumawi (hlm. 12).
Buku ini sengaja dihadirkan guna memperkenalkan kembali huruf Arab pegon yang mulai asing di hadapan masyarakat umum. Untuk itulah, penulis buku ini mengemas tulisannya dengan sistematika yang apik dan mudah dimengerti, sehingga layak disebut sebagai buku ajar Arab pegon. Tata cara pelafalan, mulai dari vokal, konsonan, hingga diftong Arab pegon diulas dengan cermat. Tak hanya itu, buku ini juga memberi ulasan tata cara baca yang praktis, dilengkapi dengan latihan soal. Di bagian akhir buku ini disertakan pula contoh naskah kuno ”Hikayat Hang Tuah” yang bertarikh 1882 terbitan Melaka, Malaysia, dan juga syair lawas ”Gurindam Duabelas” karya Raja Ali Haji dari Pulau Penyengat, Riau tahun 1847, serta naskah kuno lainnya yang diabadikan dalam tulisan Arab pegon (hlm. 43-54).
Oleh : Nanum Sofia (Mahasiswi S2 Psikologi UGM)
Other news
Tuliskan komentar Anda !
Member login
Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa
Atau
Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra
Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7
atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7
Online | : 39 |
Hari ini | : 39 |
Kemarin | : 5.416 |
Minggu kemarin | : 34.442 |
Bulan kemarin | : 134.890 |
Total | : 7.914.163 |



Online
Hari ini
Kemarin
Minggu kemarin
Bulan kemarin
Total