Resensi
Kepak Sayap Sang Garuda
25 Juni 2011 14:31:09
| Judul Buku |
: |
Kepak Sayap Sang Garuda |
| Penulis |
: |
Sulis Setyawati |
| Penerbit | : |
Mitra Gama Widya, Yogyakarta |
| Cetakan |
: |
Juni, 2003 |
| Tebal | : |
vii + 111 halaman |
| Ukuran | : | 14,3 x 20,1 cm |
Selain penuh misteri, Gunung Merapi yang terletak di utara Kota Yogyakarta banyak memberi inspirasi, salah satunya buku kecil ini. Buku berjudul Kepak Sayap Sang Garuda karya Sulis Setyawati, seorang guru di SLTP Negeri 1 Kalibawang, Kulonprogo, Yogyakarta, ini penting untuk dibaca. Bagi Anda para guru, pecinta lingkungan, dan mereka yang peduli dengan upaya pelestarian alam, perlu membaca buku ini.
Secara umum, buku ini mengisahkan tentang petualangan dua orang sahabat, Gandung dan Kelik. Suatu ketika, keduanya secara tidak sengaja menemukan seekor elang Jawa (spizaetus bartelsi) yang tertembak oleh pemburu (h. 13). Burung yang juga dikenal dikenal sebagai Garuda tersebut kemudian dibawa pulang, diobati, dan dipelihara. Penemuan ini berlanjut pada petualangan keduanya mengungkap perburuan satwa yang dilindungi di hutan Merapi.
Dalam buku ini Anda akan mendapatkan pembahasan tentang berbagai hal yang berhubungan dengan aktivitas Gunung Merapi, seperti wedhus gembel beraksi (h. 35) dan duka-cita melanda desa (h. 45). Kedua hal ini memberi pesan akan pentingnya memahami atau mewaspadai perilaku Merapi sebagai gunung yang masih aktif. Di satu sisi, gunung Merapi dirasakan oleh masyarakat sebagai berkah kesuburan. Akan tetapi, di sisi lain juga berbahaya, karena dampak letusannya bisa mengakibatkan jatuhnya korban.
Buku ini cocok dibaca oleh anak-anak sekolah dasar dan menengah karena ditampilkan dengan gaya bercerita sehingga tidak membosankan. Padahal, buku ini juga berisi prinsip-prinsip dasar Geografi dan IPA yang terkadang dianggap sebagai pelajaran yang sulit dan membosankan. Oleh karena itu, buku ini cukup tepat jika diajarkan dengan cara dibacakan di depan kelas. Para murid akan belajar menulis cerita, belajar menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan sekaligus memahami ilmu Geografi dan IPA secara menyenangkan.
“Melawan” Mitos
Buku ini juga mengajarkan kepada kita untuk “melawan” mitos, yaitu dengan merasionalkan cerita menakutkan yang berada di masyarakat, dalam hal ini berhubungan dengan Gunung Merapi. Dalam buku ini diceritakan, bahwa di hutan Merapi terdapat sebuah area yang setiap orang tidak boleh memasukinya, area itu disebut dengan alas tutupan, artinya hutan yang ditutup (h. 21). Hutan itu ditutup karena masyarakat percaya bahwa ada siluman harimau di dalamnya. Namun, suatu ketika, Gandung dan Kelik justru mendapatkan keterangan dari penjaga hutan bahwa alas tutupan merupakan daerah suaka marga satwa. Di dalamnya terdapat beberapa jenis flora dan fauna yang dilindungi, bukan tempat siluman harimau seperti yang diceritakan.
Mitos siluman harimau itu ternyata sengaja diciptakan dengan tujuan agar orang tidak sembarangan dan berburu satwa dan atau mengambil tanaman yang dilindungi di alas tutupan. Namun, sayangnya orang hanya mempercayai cerita tersebut tanpa berusaha membuktikannya. Melalui buku ini, penulis mengajak untuk “melawan” mitos menakutkan itu. Buku ini kian menarik karena petualangan Gandung dan Kelik semakin seru. Gandung harus berjuang keras membebaskan Kelik yang disandera para pemburu di alas tutupan karena ternyata, keangkeran alas tutupan justru dimanfaatkan oleh para pemburu untuk dijadikan markas mereka.
(Yusuf Efendi/Res/72/06-2011)
Tuliskan komentar Anda !
Member login
Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa
Atau
Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra
Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7
atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7
Online | : 37 |
Hari ini | : 49 |
Kemarin | : 5.416 |
Minggu kemarin | : 34.442 |
Bulan kemarin | : 134.890 |
Total | : 7.914.173 |



Online
Hari ini
Kemarin
Minggu kemarin
Bulan kemarin
Total