Resensi
Berutang pada Rakyat
21 Oktober 2010 13:33:00
Judul Buku : Berutang pada Rakyat
Penulis : Chaidir
Peyelaras : Mahyudin Al Mudra dkk
Penerbit : Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Mei 2002
Tebal : xxi + 187 halaman
Ukuran : ,0,9 x 19,9 cm
Jika kita menilik posisi Chaidir saat ini, yang menjabat sebagai ketua DPRD Riau, maka buku berjudul Berutang pada Rakyat ini paling mungkin pas untuk merepresentasikan dirinya. Sangat wajar dan mungkin “wajib” jika seorang pejabat berbicara tentang masalah utang kepada rakyat. Dalam buku ini, Chaidir memang seolah-olah sedang melakukan solilokui atau berdialog dengan dirinya sendiri tentang apa yang sudah dilakukannya sekarang, atau yang akan dilaksanakannya besok, atau rencana masa depannya untuk rakyat Riau dan Indonesia.
Untuk itu, membaca buku ini sangat penting bagi para wakil rakyat karena buku ini dapat menjadi salah satu alat pengingat untuk mengontrol diri sendiri. Kelapangan Chaidir dalam menguraikan pandangan-pandangannya juga membuat kesalahan-kesalahan kecil buku ini seperti tak terasa – misalnya, kata “berhutang” pada cover ditulis dengan huruf “h” sementara di dalam buku, kata ini ditulis dengantanpa menggunakan huruf “h” (yang merupakan ejaan yang benar).
Janji dan Utang
Utang bagi sebagian orang memang sangat mengganggu, bahkan bisa berujung pada bunuh diri. Misalkan seseorang berutang uang di bank dan kemudian tidak bisa membayar. Dia akan mengalami stres, atau malu, lalu gantung diri. Namun, bagi sebagian orang yang lain, utang justru dianggap “wajib” karena dengan berutang mereka menjadi bertambah semangat dalam bekerja. Para pedagang di pasar-pasar tradisional sering mengatakan bahwa mereka harus berutang karena utang yang banyak membuat mereka mampu berangkat lebih pagi ke pasar. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa logika subsistensi pedagang ini dikomodifikasi oleh para rentenir atau lintah darat untuk menghisap uang para pedagang kecil tersebut.
Bagaimana jika wakil rakyat yang berutang? Memang wakil rakyat pernah berutang? Bukankah mereka semua orang kaya karena kalau tidak kaya, tidak mungkin mereka mampu mencalonkan diri sebagai wakil rakyat pada saat pemilihan?
Memang benar bahwa wakil rakyat adalah orang kaya. Akan tetapi bukan berarti bahwa mereka tidak punya utang. Silakan tanya kepada mereka, berapa uang yang harus mereka setor kepada partai dan mereka anggarkan untuk membuat stiker, spanduk, kaus, dan membayar tukang salon atau tukang foto agar wajah mereka layak untuk dipajang di perempatan jalan. Selain utang-utang finansial, para wakil rakyat justru punya utang jauh lebih berat, yaitu utang janji. Utang janji ini mereka nyatakan ketika mereka berbusa-busa merayu rakyat agar mencoblos dirinya dalam kampanye pemilu.
Pada saat itu, janji kesejahteraan, jaminan kesehatan, pendidikan gratis, kemudahan mencari kerja, dan sejuta janji lainnya, mereka obral dengan “bunga” yang menggiurkan. Sayangnya, sebagian bahkan seluruh dari janji tersebut hanya manis di bibir, tapi pahit di kenyataan. Janji itu tidak ditulis dalam batu prasasti sehingga ketika usai pemilu, rakyat bingung ketika hendak menagih janji tersebut. Janji yang ditulis di kertas, bahkan dibubuhi tanda tangan, materai, dan stempel saja dapat dikhianati, apalagi yang hanya di bibir (hal 15).
Utang janji itu sebenarnya lebih berat darpada utang uang itu sendiri, tetapi salah kaprahnya (untuk menyebut tidak tahu malu) para wakil rakyat itu justru menganggap utang janji lebih mudah dibayar daripada utang uang. Bukankah rakyat memang cepat lupa dan gampang dibohongi, apalagi setelah dikasih kaos dan stiker?
Berharap pada Budaya dan Tuhan
Ketika rakyat sulit membuktikan bahwa wakil rakyat itu berutang dan berkhianat dengan tidak mau membayar utang itu, lantas apa yang harus dilakukan oleh rakyat? Protes dengan cara demo, bakar-bakar, menjarah, membunuh wakil rakyat yang berjanji itu, atau menduduki gedung rakyat hingga mereka lengser? Semua cara di atas sepertinya sudah pernah dicoba oleh rakyat negeri ini, namun wakil rakyat tetap saja lupa janjinya. Mereka itu tetap mabuk dan lupa daratan.
Manusia memang tempatnya salah dan lupa, namun tak elok rasanya menyandarkan kesalahan yang ada kepada kedua kata itu. Khazanah budaya Melayu mengajarkan, jika pemimpin tidak dapat lagi dipegang kata-katanya, maka kembalilah ke budaya.
Besarlah batang sagu bertampin
Bila dikerat mati ujungnya
Besarlah hutang para pemimpin
Dunia akhirat kan ditanggungnya (hal vii).
Selain belajar kepada budaya, berserahlah kepada Tuhan. Hanya kepada Tuhan dan budaya saja manusia bisa berkeluh kesah dan berserah diri karena jelas Tuhan tidak mungkin mengkhianati janji dan budaya adalah simbol, artefak, dan rangkaian petuah yang dapat mengembalikan manusia kepada kebaikan.
Suku bangsa Melayu sebagai sebuah suku bangsa besar perlu berbesar hati karena kebudayaan Melayu menjaga mereka dari kebiadaban pemimpin mereka. Pujangga dan orang-orang bijak Melayu telah mengajarkan bagaimana cara menjadi pemimpin rakyat yang baik. Jika demikian, sangat tidak elok jika ada orang yang menjadi pemimpin Melayu yang berutang namun tidak mau membayar janjinya pada rakyat.
Yusuf Efendi
Sumber : http://melayuonline.com/ind/bookreview/read/143/berutang-pada-rakyat
Other news
Tuliskan komentar Anda !
Member login
Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa
Atau
Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra
Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7
atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7
Online | : 47 |
Hari ini | : 329 |
Kemarin | : 5.416 |
Minggu kemarin | : 34.442 |
Bulan kemarin | : 134.890 |
Total | : 7.914.453 |



Online
Hari ini
Kemarin
Minggu kemarin
Bulan kemarin
Total