Senin ,27 April 2026
Balai Melayu Hotel

Resensi

1001 Sadam

21 Oktober 2010 13:41:44

Judul Buku : 1001 Sadam

Penulis : Chaidir

Editor : Mahyudin Al Mudra, SH., MM dan Ir. Tuti Sumarningsih, ST., MT

Penerbit : Adicita Karyanusa, Yogyakarta

Cetakan : Pertama, Januari 2004

Tebal : xxxiv + 326 Halaman = 360 Halaman

 

Suatu ketika terdapat dua orang yang saling berdebat. Orang pertama menyatakan: “Ketika manusia berinteraksi secara sadar dengan lingkungan tempat hidupnya pasti akan mengalami kegelisahan.”

Orang kedua membantah: “Apakah hidup layak digelisahkan?”

Orang pertama menjawab lagi: “Lho bukankah hidup ini dalam tahap tertentu memang masalah sehingga harus digelisahkan?”

Orang kedua membantah lagi: “Ah tidak, itu kan karena politik?”

Orang yang pertama menjawab lagi dengan sigap: “Bukankah semua manusia ini memang berpolitik? Misalnya bagimana agar terlihat menarik maka manusia mempolitiki orang lain dengan mengecat rambut atau memakai anting. Atau agar terlihat Melayu, maka seseorang sering mengutip pepatah dalam setiap ucapan dan tulisannya.”

Orang kedua membantah lagi: “Jika demikian halnya, maka manusia harus mempunyai acuan dalam berpolitik, acuan tersebut adalah keadilan.”

Perdebatan dua orang di atas menggambarkan bagaimana orang berbeda-beda dalam memandang realitas. Lebih jauh hal itu memperlihatkan bahwa orang berbeda dalam memandang hidup.

Kegelisahan adalah sikap simpati atau empati terhadap berbagai problematika hidup di lingkungan sosial yang dianggap tidak sesuai dengan pikiran sesorang. Kegelisahan dapat menyangkut lingkungan sekitar yang dekat dengan seseorang, bisa juga terhadap kondisi dunia secara keseluruhan. Tidak dapat dipungkiri, melalui televisi dan internet, apa yang terjadi di belahan dunia lain, secara cepat diketahui oleh orang lain yang berjarak ribuan kilometer.

Secara umum, kegelisahan dapat diekspresikan dengan dua bentuk, yaitu verbal dan nonverbal. Verbal yaitu berupa protes dengan ceramah, kotbah, nasehat, kritik atau bahkan caci maki lewat mulut. Nonverbal biasanya diekspresikan dengan protes, demo, tulisan, pamflet, gerakan sosial, atau bahkan revolusi bersenjata. Semua ekspresi ini serba dimungkinkan untuk Negara Indonesia yang menganut faham demokrasi, di mana setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapat yang berbeda dengan penguasa karena hal itu dilindungi secara konstitusi.

Kegelisahan yang disuarakan baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal, bisa jadi hanya dianggap angin lalu oleh penguasa yang haus kekuasaan. Ibarat berteriak di padang pasir tentu saja tidak ada yang mendengar, kecuali angin dan sahara yang panas. Namun apakah dengan alasan ini kita berhenti berteriak? Jika berhenti, siapakah yang akan mengontrol penguasa?

Tentu saja tidak. Rakyat harus terus meneriakkan kesewenang-wenangan penguasa yang tidak peka terhadap penderitaan rakyat. Berteriak tidak harus dilakukan dengan demo dan protes di jalan raya. Protes dapat dilakukan dengan cara menulis.

Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, tulisan telah menginspirasi banyak orang untuk ikut menyuarakan ketidakadilan penguasa. Soekarno, Sjahrir, Hatta, Soe Hok Gie, Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer dan banyak sekali penulis Indonesia, menumpahkan segala ide dan ketidakcocokanya dengan penguasa di masanya. Para pahlawan itu mencoba mengajak manusia Indonesia untuk menyadari bahwa kesewenang-wenangan itu harus dilawan karena hal itu bertentangan dengan kehidupan itu sendiri.

Di zaman sekarang ini, ketika Indonesia tidak lagi dikuasai penjajah asing, masih perlukah protes dengan tulisan itu? Tentu saja masih sangat perlu. Bagaimanapun sebuah pemerintahan harus dikontrol. Pengontrolan tidak harus dilakukan oleh lembaga yang mewakili rakyat seperti MPR dan DPR. Sistem kontrol juga dapat dilakukan oleh setiap orang yang hidup di negeri ini dan menyadari bahwa dalam kebijakan penguasa terdapat masalah yang harus dikontrol.

Pengarang 1001 Sadam tampaknya telah melakukan ini.melalui buku ini. Pengarang tampak ingin mengungkapkan kegelisahannya melihat karut marut kehidupan politik dan penderitaan rakyat Indonesia dan Riau khususnya. Di mata Chaidir, apa yang terjadi di Indonesia menarik untuk ditulis dan itu sangat berkait erat dengan kebijakan penguasa, seperti bencana banjir dan asap yang selalu melanda hutan Riau (hal 97).

Kegelisahan Chaidir terkesan sangat tidak beraturan, tampaknya dia hanya menulis sesuai dengan apa yang dirasakan tidak nyaman dalam hati dan fikirannya. Proses ini sungguh sangat natural, alamiah dan tampak jujur. Kegelisahan Chaidir melayang dari Amerika sampai Irak. Dari Lelah sampai Inul. Atau dari politik sampai kebudayaan. Sebenarnya satu hal yang ingin disampaikan oleh Chaidir adalah bahwa segala permasalahan yang terjadi di dunia ini seperti jalin berkelindan. Atau dalam bahasa Fritjof Chapra dalam bukunya The Tao of Physic dikatakan segalanya saling berkaitan. Apa yang terjadi pada seseorang sebenarnya juga berkait dengan orang banyak. Seperti apa yang terjadi pada TKI berhubungan dengan sentimen negatif orang Indonesia terhadap Malaysia. Atau apa yang terjadi pada Saddam sangat berkait erat dengan sentiment negatif umat Islam terhadap Barat.

Melayu sebagai sebuah suku bangsa besar tentu juga mempunyai masalahnya sendiri. Dalam konteks ini kebudayaan Melayu yang dikenal luhur diharapkan dapat menjadi pengingat dan pemersatu puak Melayu. Apa yang diajarkan oleh Hang Tuah dan pepatah-pepatah hidup Melayu yang terkumpul dalam kitab Tunjuk Ajar Melayu diharapkan dijadikan petunjuk oleh seluruh penguasa Melayu dalam menjalankan roda pemerintahannya. Kebudayaan melayu merupakan pelajaran hidup yang dahsyat. Sejatinya dengan mempelajari Tunjuk Ajar Melayu tidak ada penguasa Melayu serta daerah Melayu yang rakyatnya menderita. Atau dengan kata lain tidak mungkin penguasanya masuk penjara.

Namun buku ini menyimpan kesan agak negatif. Kesan itu tidak muncul dari tulisan atau dari berbagai tema yang diangkat dalam buku ini. Kesan itu justru muncul dari latar belakang penulis yang ketua DPRD Provinsi Riau. Dengan latar belakang ini pembaca akan mudah menghubungakan dengan kepentingan penulis agar dicitrakan positif di tengah citra negatif anggota DPR-MPR umumnya. Akan tetapi sikap positive thinking hendaknya selalu didahulukan. Bagaimanapun buku adalah sumber ilmu, baik untuk mengetahui ilmu yang baik maupun yang buruk. Tugas pembacalah untuk jeli memilah dan memilih informasi yang disajikan dalam buku. Seperti dalam sebuah pepatah dikatakan: Jika keluar dari mulut gadis cantik tetapi tetapi itu kotoran maka buanglah, sebaliknya meskipun keluar dari pantat ayam jika itu telur maka ambilah. Dalam konteks ini, untuk menuju kehidupan yang demokratis memang dibutuhkan orang-orang yang kritis dan cerdas.

Yusuf Efendi

Sumber : http://melayuonline.com/ind/bookreview/read/137/1001-sadam

 

 


read : 4439

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  



Other news



Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7


Profil Penulis

 Online: 109
 Hari ini: 921
 Kemarin : 5.416
 Minggu kemarin : 34.442
 Bulan kemarin : 134.890
  Total : 7.915.045