Senin ,27 April 2026
Balai Melayu Hotel

Resensi

Panggil Aku Osama

21 Oktober 2010 13:42:27

Judul Buku : Panggil Aku Osama

Penulis : Chaidir

Penyelaras : Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M., et al.,

Penerbit : Adicita Karya Nusa, Yogyakarta

Cetakan : Pertama, Mei 2002

Tebal : xxix + 179 halaman

Ukuran : 0,9 x 19,9 cm

Buku karya Chaidir ini masih berisi pandangan-pandanganya tentang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Sebagai ketua DPRD Riau yang memiliki banyak ruang yang luas untuk mendapatkan informasi, wajar jika Chaidir menuliskan informasi tersebut.

Justru menjadi tidak wajar jika yang terjadi adalah sebaliknya. Hal itu akan mendatangkan sebuah kecurigaan dan pertanyaan: apakah para pejabat itu tidak peka dengan keadaan rakyat (meskipun menulis itu berkait dengan hobi dan kemampuan seseorang)? Untuk itu, buku ini perlu dibaca, minimal untuk mengetahui kondisi daerah (khususnya Riau) menurut orang yang memperjuangkannya.

Pada awalnya, buku ini merupakan kumpulan esai dan kolom Chaidir yang tercerai-berai di tabloid Mentari, yang terbit di Riau, sepanjang tahun 2001. Namun, dalam buku ini, tulisan-tulisan tersebut disusun sedemikian rupa sehingga tampak seperti perjalanan hidup yang “diinginkan” oleh Chaidir, yaitu membaca, berbicara, berperilaku, dan berserah diri kepada Tuhan. Ini adalah pola tulisan yang juga tampak pada tiga buku Chaidir lainya, yaitu Membaca Ombak, 1001 Sadam, dan Berutang pada Rakyat.

Sehubungan dengan itu, dalam tulisan-tulisannya, Chaidir tampak ingin berbagi informasi dan terkadang juga solusi terhadap masalah-masalah di atas, khususnya pada bagian satu, dua, dan tiga dalam buku ini. Di sisi lain, pada bagian tokoh, Chaidir tampak ingin bercermin diri dengan tokoh-tokoh yang ditulisnya (salah satunya Osama Bin Laden). Namun, pada buku Panggil Aku Osama ini, Chaidir ingin mengingatkan pejabat rakyat agar peka dengan masalah yang dihadapi rakyat, khususnya pejabat di pemerintahan Riau.

Budaya dan Kebudayaan

Budaya secara umum termanifestasi dalam tiga sisi kehidupan manusia, yaitu ide, perilaku dan material atau artefak. Ketiga komponen tersebut merupakan bagian inti dalam kehidupan manusia. Karena ketiganyalah sejarah manusia sejak prasejarah (sebelum adanya tulisan) hingga sejarah (setelah manusia bisa menulis) terus berlangsung. Merujuk pada ketiga komponen itu pula, saat ini sering terdengar istilah kebudayaan.

Kenapa ketiga komponen itu disebut kebudayaan? Karena, di dalam ketiganya terdapat nilai. Inti dari kebudayaan adalah nilai. Manusia tidak akan mencipta, berkarya, dan merasakan sesuatu jikalau pada sesuatu tersebut tidak ditemukan nilai atau makna yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupannya. Singkat kata, sejarah kehidupan manusia sangat bergantung pada ide manusia dalam berperilaku dan melahirkan serta meninggalkan jejak-jejak (artefak) dalam kehidupan. Jikalau baik idenya, maka akan menghasilkan perilaku dan meninggalkan jejak-jejak yang baik pula, begitu pula sebaliknya. Itulah yang disebut dengan peradaban.

Apakah nilai itu pasti baik, sehingga budaya itu juga pasti baik? Tentang hal, ini para budayawan dan filosof berbeda pendapat. Akan tetapi, mayoritas budayawan dan filosof bersepakat, bahwa budaya pasti baik, karena di sana ada nilai yang dianut. Jika tidak baik, maka nilai-nilai tersebut tidak mungkin dianut oleh manusia. Sebagai contoh, budaya manusia membuang sampah pada tempatnya. Kegiatan ini selalu dilakukan karena manusia menemukan nilai kesehatan dalam aktivitas tersebut.

Hal tersebut juga berkaitan dengan keinginan dasar manusia, bahwa semua manusia berkeinginan agar kualitas hidupnya lebih baik. Sebaliknya, budaya tentu tidak mungkin buruk, karena jika tidak baik (buruk), maka itu bukan budaya atau kebudayaan, tetapi kebiasaan. Sebagai contoh adalah kebiasaan menilep uang rakyat.

Jika merujuk pada konsep di atas, maka judul tulisan pada halaman 14 buku ini tidaklah tepat, karena jika instan atau keinginan cepat sukses tanpa melalui proses yang tidak wajar dianggap buruk, maka itu bukan budaya melainkan kebiasaan buruk.

Berdasarkan uraian di atas, maka sering terdengar kebudayaan adiluhung atau kebudayaan luhur. Pada ide, perilaku dan artefak, diharapkan manusia dapat belajar terus menerus agar kehidupannya menjadi lebih baik (luhur). Jika manusia tidak dapat belajar, maka itu adalah salah satu sinyal bahwa kebudayaan sebuah bangsa akan punah. Yang ada hanya kebiasaan-kebiasaan masyarakatnya, yang selalu berubah sesuai dengan keinginan sesaat dan keinginan segelintir kelompok manusia (penguasa). Tidak salah jika Faucoult pernah mengatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah penguasa, sehingga kebudayaan manusia adalah kebudayaan penguasa.

Melayu yang berbudaya

Bangsa Melayu adalah salah satu suku bangsa di negeri ini yang memiliki jejak-jejak peninggalan kebudayaan yang luhur. Salah satu hasil dari kebudayaan Melayu yang terkenal adalah karya sastra pantun. Pantun-pantun tersebut dikarang oleh tokoh-tokoh Melayu yang bijak di zamannya. Tersebutlah kumpulan karya sastra pantun seperti Gurindam Dua Belas atau Tunjuk Ajar Melayu. Oleh orang Melayu, kedua karya tersebut dianggap masterpiece yang luhur dan dibanggakan karena keduanya mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan yang baik atau menjadi manusia yang berbudaya.

Namun, apakah cukup dengan berbangga saja? Tentu saja tidak. Karya hanya akan menjadi karya yang terlipat di meja kemudian hancur berdebu jika tidak dibaca dan diamalkan. Melayu yang berbudaya tentu saja menuntut puak-puak Melayu, khususnya para pemangku kuasa, untuk membumikan kebudayaan Melayu dalam kehidupan bermasyarakat.

Problematika sosial yang terjadi di Riau sebagai salah satu negeri Melayu menuntut pula untuk dipahami dan dijadikan kerja bersama. Kerjasama antara rakyat dan penguasa sangat penting. Melalui buku ini, Chaidir mencoba mengingatkan kembali puak-puak Melayu di Riau agar peka terhadap permasalahan yang terjadi di daerah tersebut meskipun harus belajar dari Osama.

Yusuf Effendi

Sumber : http://melayuonline.com/ind/bookreview/read/145/panggil-aku-osama

 


read : 5061

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  



Other news



Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7


Profil Penulis

 Online: 77
 Hari ini: 628
 Kemarin : 5.416
 Minggu kemarin : 34.442
 Bulan kemarin : 134.890
  Total : 7.914.752