Rabu ,17 Juni 2026
Balai Melayu Hotel

Info Terkini

Cerita Rakyat di Sumbar Mulai Hilang

14 Juli 2010 11:09:56

Padang, Sumbar - Kerusakan lingkungan alam dan sosial di sejumlah wilayah di Provinsi Sumatera Barat terkait dengan mulai pudarnya cerita rakyat dan fabel mengenai harimau. Hal itu terungkap dalam sebuah diskusi di Padang, Senin (29/3). Hadir dalam diskusi itu penggiat Kelompok Studi Sastra dan Teater Noktah, Syuhendri. Selain itu, ada Nina Rianti dan Aprimas dari Taman Budaya Sumbar. Menurut Nina, pudarnya cerita rakyat yang diwariskan secara lisan itu mulai terjadi sejak dekade 1990-an. Ia mengatakan, hal itu tidak lepas dari siaran televisi yang pilihannya semakin banyak dan langsung masuk serta memengaruhi kehidupan warga sehari-hari.


Peran televisi sebagai media hiburan pun mulai menggantikan cerita-cerita rakyat yang berpusat seputar fabel mengenai harimau. ”Kalau dulu, kan, ada bakaba (berkabar) yang dibawakan sambil bermain rebab atau saluang,” ujar Nina sembari mengatakan, ada kemungkinan regenerasi budaya tutur dengan penceritaan legenda dan mitos lokal itu tergantikan dengan kebiasaan menonton televisi. Syuhendri menambahkan, cerita mitos dan cerita rakyat berupa fabel mengenai harimau tumbuh subur di seluruh wilayah Minangkabau. Hal itu terjadi baik di daerah luhak, yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Minangkabau di daerah pegunungan, dengan Agam, Tanah Datar, dan Limapuluh Kota sebagai wilayah-wilayahnya, maupun daerah rantau yang merupakan tempat perkembangan budaya di daerah pesisir. ”Manifestasinya dalam kehidupan adalah bentuk-bentuk tarian dan silat untuk bela diri,” kata Syuhendri.


Namun, imbuh Syuhendri, yang paling penting adalah mitos yang masih hidup sampai saat ini soal hubungan orang Minangkabau dengan harimau. Syuhendri mengatakan, pada zaman dulu ada semacam perjanjian antara manusia dan harimau untuk saling menjaga keseimbangan alam dan lingkungan sosial. Jika salah satu pihak di antaranya melanggar, akan ada konsekuensi yang harus ditanggung. ”Kalau manusia yang melanggar, misalnya di kampung itu ada perzinahan, maka akan ada binatang ternak yang mati diterkam harimau. Demikian pula jika alam dirusak.


Jika harimau yang salah dan menerkam manusia tanpa sebab, biasanya harimau akan menyerahkan diri,” kata Syuhendri. Aprimas menambahkan, cerita dan mitos yang diwariskan lewat budaya tutur dan berperan menjaga keseimbangan alam serta lingkungan sosial itulah yang kini relatif mulai tergantikan dengan kebiasaan menonton televisi. Nina mencatat, setidaknya kini tinggal wilayah Kabupaten Sijunjung dengan kesenian ba’ombai di Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII, yang proses regenerasinya masih berjalan baik. (INK)

 

Sumber:kompas.com


Sumber Foto : kompas.com

 

Sumber : http://ceritarakyatnusantara.com/id/news.php?ac=65&l=cerita-rakyat-di-sumbar-mulai-hilang

 


read : 5363

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  



Other news



Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7


Profil Penulis

 Online: 138
 Hari ini: 1.334
 Kemarin : 1.812
 Minggu kemarin : 10.059
 Bulan kemarin : 48.107
  Total : 7.994.501