Info Terkini
17 Mei sebagai Hari Buku Nasional
14 Juli 2010 11:08:05
Jakarta, Kompas – bangsa Indonesia sampai saat ini masih dihadang oleh dua pilihan, antara mempertahankan tradisi (lisan) dengan menjawab tuntutan informasi, yang berarti harus banyak membaca. Pergumulan yang terjadi sejak 32 tahun lalu itu bisa dikatakan sampai sekarang belum juga selesai, sehingga kebiasaan kita masih didominasi tradisi percakapan panjang dan sedikit membaca.
Demikian Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar saat mencanangkan tanggal 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional, di Jakarta, Jumat (17/5) malam.
Ide adanya Hari Buku datang dari masyarakat perbukuan guna memacu minat baca masyarakat Indonesia, sekaligus menaikkan penjualan buku. “Kami ingin agar peringatan Hari Buku seperti Valentine’s Day, di mana pada hari itu setiap orang memberi sebuah buku kepada orang lain,” jelas Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Arselan Harahap beberapa waktu lalu.
Malik Fadjar menyadari, membuat masyarakat gemar membaca memang agak sulit dilakukan, terutama kepada generasi muda kita yang terlanjur didominasi sistem komunikasi dengan telepon, namun sedikit membaca lembaran buku. Tetapi, karena strategisnya fungsi membaca, mendorong Malik mengajak manusia Indonesia agar gemar membaca. Selain mengetahui perkembangan termodern, dengan membaca buku kita juga bisa meramalkan masa depan.
Pada kesempatan itu, Ikapi menyerahkan penghargaan Adikarya Ikapi 202 yang dipilih dari 202 buku anak dan remaja terbitan tahun 2001 dari 19 penerbitdi Indonesia. Menurut ketua Dewan Juri Adikarya Ikapi 2002 Riris K Toha Sarumpaet, secara umum buku yang diterima panitia tampak semarak dengan ragam jenis mulai dari fiksi realistik (termasuk seri lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati, seri budi pekerti, seri anak beriman), biografi, petualangan, bacaan bergambar; buku bacaan dwi-bahasa, hingga cerita misteri dalam bahasa Inggris.
Apa yang tersaji, dari segi penanganan fisik, bentuk buku yang masuk makin meriah. Misalnya dengan warna, ilustrasi, jenis kertas kulit atau pengemasan. Lebih khusus, pada sastra anak, dari sudut desain, grafis dan ilustrsi ditemukan kualitas beragam dengan penggayaan estetika lebih berani. Akan tetapi, pada sastra remaja, dapat dikatakan tak ada kemajuan kualitas perwajahan kulit dan cetakan yang asal wah, namun isi halaman buku tadi digarap secara serius.
Ditinjau dari isi, walau tema baik, tetapi halangan terbesar yang ditemukan adalah soal bahasa. Kalimat-kalimat yang kaku dan steril dengan kosa kata terbatas menjadi gambaran buku umum yang masuk. “Hal itu ditambah dengan kelemahan dalam penanganan alat sastra,” jelas Riris.
Pemenang pertama Adikarya Ikapi 2002 kategori buku bacaan anak adalah Lautan Susu Coklat (Renny Yanuar, PT Grasindo); kategori remaja Santri tengik (Varuni Dian Wijayanti, PT Adicita Karya Nusa).
Untuk ilustrasi dan perwajahan, kategori anak diraih buku berjudul Masa Kecil Putra Sang Fajar (Tatang Rukyat dan Sutarjo); kategori remaja diraih Santri Tengik (Wid NS, Victor A Wijaya dan Eri Andwiatwani).
Sumber : Kompas
Hari/Tgl : Senin, 20 Mei 2002
Hal : 9
Other news
Tuliskan komentar Anda !
Member login
Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa
Atau
Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra
Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7
atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7
Online | : 80 |
Hari ini | : 807 |
Kemarin | : 1.007 |
Minggu kemarin | : 4.956 |
Bulan kemarin | : 48.107 |
Total | : 7.981.359 |



Online
Hari ini
Kemarin
Minggu kemarin
Bulan kemarin
Total