Info Terkini
Yuk, Kampanyekan Budaya Membaca!
26 Juli 2010 13:58:47
Hari Buku Internasional tiap 23 April sudah ditetapkan. Namun imbauan untuk mencintai buku itu tidak serta merta dapat menyuburkan minat baca. Memang cukup sulit menanamkan kegemaran membaca jika anak "terlambat" mengenal buku.
Buku adalah jendela pengetahuan. Begitu kata pepatah karena buku dianggap dapat memperkaya wawasan. Lebih dalam lagi, sumber-sumber bacaan terbukti mampu menstimulasi konsep berpikir, mengasah perasaan, dan mengembangkan kemampuan berbahasa anak. Manfaat yang lebih luas, anak dapat belajar mengungkapkan ide, pikiran, dan perasaannya dalam bentuk tulisan sebagai hasil olahan membaca.
Sayangnya, menurut DR. Seto Mulyadi, Psi. Msi., minat baca anak usia sekolah dasar (SD) jika dirata-ratakan ternyata masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah intervensi yang begitu kuat dari televisi. Belum lagi pengaruh video game yang secara cepat dapat "menghipnotis" mereka, selain belum adanya kesadaran orang tua untuk menyajikan berbagai bahan bacaan kepada anak. Akhirnya, anak menjadi sosok yang awam terhadap buku. Sementara, "Budaya membaca seharusnya dikampanyekan mulai dari rumah," kata Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak ini.
Menanamkan minat baca tak hanya terhadap buku tapi juga majalah, koran dan internet. Khusus mengenai internet, anak-anak yang bersekolah di perkotaan rata-rata memang sudah mengenalnya. Bahkan beberapa sekolah menyediakan fasilitas teknologi canggih ini. Anak bisa "berkelana" di alam maya mencari berbagai informasi yang menarik sehingga dapat memuaskan rasa ingin tahunya, yang tentu saja di bawah pengawasan orang tua atau guru.
MENGENAL ANEKA BACAAN
Lebih baik lagi, saran Kak Seto, anak dikenalkan pada bahan bacaan sejak bayi. Toh perlengkapan bayi tak mesti selalu botol susu tapi juga bisa berupa buku-buku yang menampilkan warna dan gambar yang menarik. Aktivitas mendongeng yang dilakukan orang tua juga merupakan bagian dari upaya mengenalkan buku. Diharapkan anak akan lebih menyukai dan akrab dengan buku ketika menginjak usia batita. "Kalau buku baru mulai dikenalkan ketika anak berusia SD memang akan sulit," aku Kak Seto.
Bahan bacaan yang diberikan tentunya harus disesuaikan dengan perkembangan usia dan intelektual anak. Di kelas 1-2 SD, berikan kepadanya buku-buku cerita bergambar sepeti komik yang mengisahkan legenda rakyat, dongeng binatang, dongeng Cinderella atau Pinokio. Kalaupun anak mau bahan bacaan jenis yang lain, tentu boleh-boleh saja. Pokoknya beri kebebasan pada anak untuk memilih bacaan yang menurutnya menarik. Jika anak mengalami kesulitan membaca, ayah, ibu atau kakak sebaiknya ikut membantu. "Pada akhirnya membaca menjadi suatu kebiasaan dan tradisi yang positif," ujar Kak Seto pula.
Selanjutnya, anak kelas 3-4 SD dapat dikenalkan pada bahan bacaan yang agak "berat" seperti buku ilmiah. Contohnya, buku tentang penemuan lampu oleh Thomas Alfa Edison. Anak dapat membaca tentang riwayat hidup sang penemu. Atau anak disuguhi bacaan mengenai sepak terjang Alexander Graham Bell sehingga berhasil menemukan telepon. Lewat buku-buku semacam itu, anak bisa menyimak bagaimana kisah hidup atau suka duka mereka. Dengan
kata lain, "Minat ilmiahnya memang perlu terus didorong."
Untuk anak kelas 5-6 SD, guru dapat mengajak murid mendiskusikan isi buku yang dibaca. Mereka dapat berdiskusi secara kelompok dan melakukan semacam studi literatur. Bahkan anak mulai dapat belajar membuat karya tulis bersumber dari buku-buku, internet dan bahan bacaan lainnya. Di rumah, anak dapat belajar mengarang dan bahkan membuat sebuah buku sederhana. Mintalah anak membuat ilustrasi gambar dan menuliskan apa yang ada dalam pikirannya. Misalnya, tentang cerita perjalanan wisata sekolah. Dengan begitu anak jadi tak sekadar membaca, tapi juga dapat membuat buku sendiri.
Di sekolah, setiap guru mata pelajaran hendaknya berkampanye agar anak suka membaca. Jadi, tak hanya dilakukan oleh guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Guru matematika atau mata pelajaran lainnya dapat memberikan tugas berkaitan dengan aktivitas membaca. Misalnya, untuk mata pelajaran matematika anak diminta untuk membaca buku cerita tentang riwayat hidup penemu rumus phytagoras. Artinya, guru dituntut lebih kreatif mengaitkan antara mata pelajaran yang diajarkan dengan aktivitas membaca murid.
Buku-buku berbahasa asing juga sebaiknya mulai diperkenalkan. Beberapa SD yang menerapkan sistem bilingual tentunya menyajikan bahan bacaan berbahasa Inggris. "Bahan bacaan apa pun jenisnya dan bahasanya dapat dijadikan sahabat yang menyenangkan bagi anak."
JIKA TAK SUKA MEMBACA
Lalu bagaimana jika anak enggan membaca buku? Memang, seperti diakui Kak Seto, banyak anak yang terlambat diperkenalkan dengan bahan bacaan. Cara mengatasinya, berikan bahan bacaan yang diminati dan disenanginya. Kalau anak suka komik, jangan dipaksakan untuk membaca buku cerita yang lain.
Yang penting bagaimana menyiasati supaya anak gemar membaca. Kemudian, sesekali anak yang belum suka membaca diajak ke toko buku. Dengan begitu barangkali anak tertarik dan mulai mengoleksi bahan bacaan favoritnya. Kalau sudah terpikat dengan bahan bacaan, bisa dilanjutkan dengan kunjungan ke perpustakaan. "Yang patut diingat, biarkan anak memilih sendiri. Jangan pernah mendikte atau memaksa anak untuk membaca."
Sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan06264-01.htm
Other news
Tuliskan komentar Anda !
Member login
Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa
Atau
Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra
Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7
atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7
Online | : 144 |
Hari ini | : 1.201 |
Kemarin | : 1.531 |
Minggu kemarin | : 12.883 |
Bulan kemarin | : 47.161 |
Total | : 8.202.214 |



Online
Hari ini
Kemarin
Minggu kemarin
Bulan kemarin
Total