Info Terkini
Rendah, Minat Membaca dan Menulis
30 Juli 2010 10:21:57
Masih rendahnya minat membaca dan menulis akibat kesalahan dalam penyusunan dan penerapan kurikulum di lembaga pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan kurikulum dan pengadaan sarana di lembaga pendidikan harus berubah total. Perpustakaan dan mata pelajaran (mapel) tersendiri untuk membaca dan mengarang dapat menjadi solusi guna peningkatan minat baca tulis.
"Saat ini pola pendidikan lebih banyak dongeng atau berbicara daripada menulis atau membaca. Guru kerap berdongeng, padahal dongeng itu sudah dilakukan dan berulang setiap tahunnya," ungkap budayawan Ajip Rosidi dalam workshop dengan tema "Peranan Surat dalam Memajukan Budaya Tulis Indonesia" di sela-sela kegiatan pameran buku di Gedung Landmark, Kamis (6/8). Turut menjadi pembicara lainnya, Direktur PT Galamedia Bandung Perkasa (GBP) M. Ridlo 'Eisy, dengan moderator Dhipa Galuh Purba (wartawan majalah seni budaya).
Ironisnya, lanjut Ajip, tidak ada lagi inovasi dalam mendongeng. Tak jarang yang terjadi adalah pengulangan. "Maka wajar jika bangsa kita ketinggalan jauh dari India. Semua yang kita lakukan dan ikuti dalam pola pembelajaran itu akibat pemerintah pun melakukan pengulangan," ucapnya.
Sebagai contoh, dalam pelaksanaan ujian nasional (UN), pemerintah pada tahun '60-an telah meniadakan UN karena dianggap tidak efektif. Namun ternyata, sudah empat tahun ini pemerintah kembali mengadakan UN. Pemerintah diharapkan punya political will untuk melakukan perubahan tersebut.
"Perombakan total tidak hanya pada kurikulum. Tetapi juga harus pada pengadaan sarana. Setiap sekolah diwajibkan memiliki ruang perpustakaan. Lalu siswa diwajibkan untuk membaca dan menulis kembali apa yang ada di dalam perpustakaan (buku, red). Yang tentunya harus didukung guru untuk mau membaca apa yang dibuat siswanya," tuturnya.
Hal senada dikatakan Direktur PT GBP M. Ridlo 'Eisy. Ia bahkan menyebutkan bahwa sebaiknya pendidikan mengarang dan membaca, tidak lagi diintegrasikan pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Agar lebih efektif untuk merangsang minat baca, sebaiknya dijadikan mata pelajaran pendidikan tersendiri, yakni mata pelajaran mengarang dan membaca. "Menulis itu berawal dari membaca. Alangkah baiknya jika memang menjadi mapel terpisah," ucapnya.
Media massa sendiri, sebenarnya sudah berupaya membantu meningkatkan gairah menulis. HU Pikiran Rakyat misalnya, beberapa waktu lalu menyediakan kolom khusus untuk para Pramuka, baik pembina maupun siswanya untuk berpartisipasi. Bentuk tulisan tidak dibatasi, bisa apa saja. "Namun, ternyata dalam perjalanannya tidak mulus. Jumlah yang menulis tidak seperti yang diharapkan. Akibatnya, kolom itu ditiadakan. Padahal kalau lahan itu disetarakan dengan iklan, harganya bisa mencapai Rp 20 juta-Rp 30 juta," katanya. (B.107)
Sumber : http://www.klik-galamedia.com/indexedisi.php?id=20090807&wartakode=20090807072240
Sumber Foto : matanews.com/2010/02/04/yogya-ba..._wp_cron
Other news
Tuliskan komentar Anda !
Member login
Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa
Atau
Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra
Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7
atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7
Online | : 194 |
Hari ini | : 1.861 |
Kemarin | : 1.007 |
Minggu kemarin | : 4.956 |
Bulan kemarin | : 48.107 |
Total | : 7.982.413 |



Online
Hari ini
Kemarin
Minggu kemarin
Bulan kemarin
Total