Selasa ,09 Juni 2026
Balai Melayu Hotel

Info Terkini

Meniupkan Harapan Seni Mendongeng

05 Agustus 2010 13:03:45

Di tengah gempuran hiburan pada media digital, mendongeng masihbisa menjadi andalan untuk menanamkan nilai moral dan membangkitkan ekspresi natural. Seorang ibu tua duduk di panggung sederhana membaca sebuah buku cerita. Beberapa anak kecil duduk di sekelilingnya mencermati ba-caannya. Yang lain menggelayuti punggung dan tangannya dengan manja. Mata polos anak-anak yang masih usia balita dan SD itu bersinar, memainkan imajinasi di benak mereka.

Pemandangan tujuh tahun yang lalu itu tak pernah terlupakan oleh Ciptanti Putri, 34 tahun. Ia terpesona oleh kesederhanaan dan kehangatan yang dibangun dalam acara mendongeng di sebuah (oko buku di Jakarta. Kesenangan yang sempat ia rasakan belasan tahun yang lalu itu hampir terlupakan. "Sebagai seorang editor kolom anak, saya biasa keliling toko buku buat cari inspirasi. Saat itulah saya lihat pemandangan itu. Itu benar-benar menyentuh, benar-benar sederhana. Kalau saya masih kecil, saya pasti juga akan memeluk ibu itu," ungkapnya dalam bincang-bincang santai di Gedung Gramedia, Jakarta Barat, Rabu (14/7).

Cippi, panggilan akrabnya, mengaku momen tersebut membangkitkan kenangan" dan nilai-nilai postif dalam kegiatan mendongeng. Sayangnya, saat itu tampaknya dongeng seperti barang kuno yang terlindas oleh televisi dan Playstation."Dengan mendongeng, anak pasti akan berimajinasi dan itu penting untuk mengembangkan kreativitas mereka. Belum lagi suasana kasih sayang dan keakraban dalam mendongeng. Terlalu banyak nilai positif dalam kegiatan mendongeng dan sayang banget kalau itu sampai terlupakan."

Kegiatan di toko Lantaran itu, muncullah ide dongeng rutin setiap minggu. Lagi pula, perusahaan tempat Cippi bekerja punya toko buku besar di Matraman, Jakarta Pusat. Saat itu, kata Cippi, di sana sama sekali tidak ada kegiatan apa pun. Baca di tempat saja masih dilarang. Apalagi di saat bersamaan, peru-saliaan tempatnya bekerja sedang mengembangkan format baru kegiatan-kegiatan untuk para konsumen mereka.

Bersama rekannya, Melvi, Cippi kebagian jatah menjadi PIC {person in charge) acara anak. Awal Juni 2003, mereka memulai kegiatan dongeng. "Awalnya ini seakan jadi acara internal, yang mengisi dongeng pun teman-teman di internal juga. Tapijustru acara mendongeng ini yang paling rutin jalan. Kaget juga, animonya makin lama kok makin besar, makin banyak yang ingin bergabung," ujar Melvi. Dukungan dari internal pun semakin kuat. Mulai ruang tetap untuk mendongeng di toko buku , tersebut hingga publikasi di media cetak nasional.

Bukan pendongeng komersial

Saat menginjak tahun ketiga, tim kecil itu kewalahan dengan respons dan dukungan yang semakin membeludak. Tidak sedikit yang datang kepada mereka menawarkan diri menjadi pendongeng profesional. "Saai itu kami tidak siap. Dulu salah satu pertimbangan kami memakai banyak pendongeng dari teman-teman adalah karena ini kan acara amal, gratisan, jadi mudah memberikan pemahaman kepada mereka untuk mau mendongeng tanpa dibayar.

Tapi kalau orang lain yang mau mendonegeng, bingung juga, bayar pakai apa, ya?" sahut-nya. Meski kelahiran Dongeng Minggu dibantu perusahaan penerbit komersial, Melvi dan Gppi menegaskan komunitas mereka murni program sukarela. "Bersyukur, sih,setelah dijelaskan, batiyak yang mengerti dan tetap bersedia ikut mengisi dongeng minggu," ujarnya lega. Praktis setelahnya, anggota komunitas Dongeng Minggu mayoritas lebih banyak dari umum dengan beragam profesi. Meski gratisan, kreativitas dan
semangat para pendongeng amatiran tersebut untuk belajar dan memberikan atraksi dongeng terbaik justru memotivasi Cippi dan Melvi mempertahankan acara Dongeng Minggu setiap bulannya di minggu pertama.

Lambat laun, komunitas Dongeng Minggu ini sudah menjadi tempatberlatih pendongeng pemula. Tak sedikit mereka yang akhirnya menjadi profesional. "Kalau ada acara di luar rutinitas Dongeng Minggu setiap bulan, kami pasti akan mengusahakan honor profesional, meski yang mengundang perusahaan kami sendiri," tegas Cippi. Kembangkan bakat Tak hanya mendongeng, Cippi mengaku mempunyai misi mengembangkan potensi anak-anak yang ketagihan datang ke Dongeng Minggu. Menurutnya, sayang sekali jika anak-anak tersebut dibiarkan saja. "Jadilah ide lomba mendongeng untuk anak-anak itu kami realisasikan di ulang tahun kedua Dongeng Minggu 2004. Ternyata responsnya cukup banyak. Ada 30 orang yang mendaftar waktu itu," ceritanya.

Cippi mengharapkan lomba dongeng itu dapat mengasah kemampuan natural anak untuk bercerita dan berekspresi. "Yang bikin kaget, temyata mereka benar-benar bagus. Cara mereka mendongeng dengan gaya anak-anak itu tidak kalah dengan kakak-kakak pendongeng mereka," timpal Melvi. (M-4) vini@mediaindonesia.com

 

Sumber : http://bataviase.co.id/node/297299

 

Sumber : www.theblipfest.com/selangkah-ke...eberang

 

 


read : 3305

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  



Other news



Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7


Profil Penulis

 Online: 218
 Hari ini: 1.978
 Kemarin : 1.007
 Minggu kemarin : 4.956
 Bulan kemarin : 48.107
  Total : 7.982.530