Selasa ,09 Juni 2026
Balai Melayu Hotel

Info Terkini

Songket

13 Agustus 2010 11:42:29

Kain tradisional khas Palembang, Sumatra  Selatan (Sumsel), berupa songket yang bahannya terbuat dari benang sutera merupakan ikon produk terkenal daerah ini, seperti kain tapis asal Lampung dan ulos dari Sumatra Utara atau batik dari Jawa. Namun, kain songket itu masih mengandalkan bahan benang sutera mayoritas harus didatangkan dari China dan Jepang. Tak puas rasanya datang ke Palembang kalau belum makan empek-empek dan membawa pula oleh-oleh kain songket, dengan variasi jenis, model dan harganya dari kelas biasa sampai kelas atas. Perajin songket pun bertumbuhan di Palembang, termasuk skala usaha kerajinan/industri rumahan (rumah tangga). Salah satunya adalah songket usaha keluarga, "Serengam Setia" yang berlokasi di Jl Ki Gede Ing Suro 32 Ilir Palembang.

Usaha Sonket keluarga ini, sekarang ini sudah bisa mandiri serta pemasarannya sampai ke luar negeri. Menurut pengelola usaha songket "Serengam Setia", Ida Mahidin (33), usaha Songket ini merupakan usaha keluarga yang dikembangkan secara turun-temurun. Awalnya merupakan usaha rumah tangga yang ditangani secara terbatas, tapi kemudian dapat dikembangkan menjadi usaha kecil pada sekitar tahun 1971 lalu oleh ayahnya, KMS H Mahidin Ahmad. Saat awal berdiri, tenaga kerja hanya ada enam orang dengan modal pertama sekitar Rp5 juta. "Pengerjaan kain Songket itu tetap dilakukan secara tradisionil sampai sekarang ini, tetapi tenaga kerjanya terus diberikan keterampilan agar kualitasnya semakin baik," ujar Ida. Kain yang dihasilkan merupakan produksi sendiri dari memintal sampai menenun songket, dan sekarang ini jumlah tenaga kerja sudah mencapai 40 orang. Dalam proses produksi, semua diawasi langsung dirinya, sehingga songket yang dihasilkan tetap berkualitas, seperti diharapkan.

Menurut dia, songket "Serengam Setia" diproduksi dalam bentuk kain atau selendang, dan saat ini sudah terkenal di dalam maupun luar negeri. Kain tenun ini terbuat dari benang sutera kombinasi benang emas yang ditenun dengan cita rasa seni yang tinggi, namun bahannya kebanyakan masih harus didatangkan dari China serta Jepang. Menurut dia, keistimewaan songket produknya adalah proses pembuatannya sangat cermat, sehingga untuk membuat satu kain dibutuhkan waktu sampai 2-3 bulan. Ida mengenang, asal muasal songket "Serengam Setia" bisa semakin dikenal masyarakat luas adalah saat kunjungan Ny Hardiyanti Indra Rukmana atau Mbak Tutut (putri mantan Presiden Soeharto alm) pada tahun 1981. Waktu itu, rombongan Mbak Tutut datang ke tempat usaha songketnya untuk melihat sekaligus membeli. Tapi songket tersebut saat itu dinilai kualitasnya belum begitu baik, karena masih sedikit luntur. Dibina PT PUSRI

Melihat kondisi itu perusahaan pupuk nasional, PT PUSRI menawarkan jasa pembinaan, pertama kalinya masih dalam bentuk pelatihan tenaga kerja serta promosi. Peluang ini digunakan "Serengam Setia" dengan mengirimkan tenaga kerja untuk dilatih yang dibiayai PT PUSRI pada tahun 1981, sehingga hasilnya sampai sekarang kualitas songket yang dihasilkan dinilai cukup bagus. Sejak adanya hubungan baik dengan PT PUSRI itu, selanjutnya pihaknya mengusulkan dapat meminjam modal usaha, dan tahun 2008 mendapatkan pinjaman sebesar Rp25 juta. Hingga saat ini, dukungan permodalan masih terus berjalan, hingga tahun 2010 ini kembali mendapatkan bantuan dana permodalan sejumlah Rp40 juta. Kesemua modal yang diberikan PT PUSRI itu, menurut Ida, tidak lain untuk meningkatkan usaha agar "Serengam Setia" bisa lebih maju lagi walaupun mengalami dampak dari kondisi krisis sekarang ini.

Usaha keluarga ini, dengan adanya binaan dari PT PUSRI selanjutnya semakin berkembang menjadi usaha kecil dan menengah (UKM) dan kini terlihat semakin maju terutama kualitas produk dan pemasarannya yang sudah mencapai luar negeri, seperti Malaysia. Hasil produksi kain songketnya bisa mencapai 30 setel per bulan. Namun saat ini, dengan kondisi terkena dampak krisis ekonomi dunia, pemasarannya sementara terbatas di dalam negeri, seperti Jakarta serta kota besar di Indonesia lainnya. Padahal sebelumnya, songketnya secara rutin dipasarkan ke Malaysia sejak tahun 2005 mengingat pemesannya cukup banyak. "Kami waktu itu rata-rata setiap bulan mengirim songket ke Malaysia sebanyak 10 paket, dengan harga antara Rp800 ribu hingga Rp5 juta per lembar," katanya.

Namun, sekarang ini pemasaran ke Malaysia sudah terhenti, karena pihaknya kesulitan mendapatkan agen di negeri jiran tersebut sehingga penagihannya sering terlambat. Kendati minat warga Malaysia untuk membeli kain songket masih banyak, tetapi pihaknya kesulitan mendapatkan agen, sehingga pengirimannya yang dilaksanakan selama ini melalui jasa paket dari PT POS Indonesia, sehingga berakibat pembayarannya sering terlambat. Tanpa keberadaan agen terpercaya di negara yang akan dipasarkan, menurut dia, akan kurang efektif menjalankan pemasaran keluar negeri itu, sehingga sementara ini terpaksa dihentikan pengirimannya. Di Jakarta, katanya, pihaknya bekerja sama dengan "Smesco Indonesia", salah satu perusahaan pemasaran dan promotor untuk pameran.

UKM Songket ini mulai bergabung dengan perusahaan itu sejak Juli 2009, sehingga pemasaran songket yang sudah dikenal masyarakat Indonesia dan mancanegara ini memiliki peluang semakin luas. Dia mengeluhkan, kendala utama yang dihadapi sekarang ini adalah dampak krisis ekonomi dunia yang berimbas pada usahanya, sehingga peminat songket menurun dari tahun sebelumnhya.

"Sekarang ini, masyarakat belum mengutamakan kain songket karena bukan merupakan kebutuhan pokok, sehingga pembelinya hanya kalangan tertentu yang terbatas dan mempunyai kecintaan dengan kerajinan daerah," ujar dia. Khusus masalah tenaga kerja untuk pembuatan songket, menurut dia, belum jadi masalah karena mereka semuanya sudah terampil dalam pengerjaan kain songket yang dibuat secara tradisional dengan memintal itu. Tenaga kerja yang ada itu, bersifat lepas, dan bila dibutuhkan terutama saat banyak pesanan, jumlah mereka bisa ditambah lagi bergantung order dan permintaan pasar yang ada.

(fb/FB/ant-Ujang Idrus)

 

Sumber : http://beritadaerah.com/artikel.php?pg=artikel_sumatra&id=19355⊂=column&page


 

Sumber Foto : http://daengadda.com/2009/04/11/cerita-seputar-songket-palembang/

 

 


read : 7605

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  



Other news



Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7


Profil Penulis

 Online: 177
 Hari ini: 2.039
 Kemarin : 1.007
 Minggu kemarin : 4.956
 Bulan kemarin : 48.107
  Total : 7.982.591