Info Terkini
Penulis Muda Ikuti Jejak Raja Ali Haji
04 Nopember 2010 10:27:01
Tanjungpinang, Kepri - Geliat sastra di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, setidak-tidaknya sejak 7 tahun terakhir, berkembang pesat. Bukan saja karena Wali Kota Suryatati A Manan seorang perempuan penyair dengan sejumlah prestasi, tapi kota yang berjuluk Kota Gurindam Negeri Pantun itu roh sastranya begitu kuat.
Pasalnya, di daerah itu terkenal dengan tokohnya Raja Ali Haji (1708-1783), yang dinobatkan sebagai Bapak Bahasa Indonesia, Pahlawan Nasional (2004) dengan karyanya yang menumental Gurindan Dua Belas (1847), Bustanul Katibin (1857), dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1859).
Kompetisi bidang sastra begitu banyak untuk anak sekolah semua tingkatan. Pemenang tidak saja mendapat hadiah lumayan besar, tapi karya-karya terbaik juga diterbitkan dalam bentuk buku dan menjadi bacaan di semua sekolah di Kota Tanjungpinang, kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Abdul Kadir Ibrahim, di sela-sela acara Temu Sastrawan Indonesia III di Kota Tanjungpinang, yang berakhir Minggu (31/10).
Bahkan, untuk memotivasi penulis-penulis muda di bidang sastra, karya-karya terbaik untuk kategori cerita pendek dan puisi, dari sastrawan Indonesia, diterbitkan dalam dua buku, yaitu Ujung Laut Pulau Marwah (Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III) dan Percakapan Lingua Franca (Antologi Puisi Temu Sastrawan Indonesia III), dan diluncurkan dalam acara yang dipenuhi puluhan karangan bunga ucapan selamat itu.
Menurut Suryatati A Manan, diluncurkannya kedua buku sastra tersebut agar selepas perhelatan akbar nasional itu muncul kembali penulis-penulis muda bidang sastra, yang sejatinya dapat memberi andil pula terhadap tumbuh-kembangnya sastra Indonesia modern.
Di samping itu, agar sastrawan yang mengikuti acara ini, dapat memetik banyak manfaat dalam berkreativitas di bidang sastra dan memberi manfaat terhadap Kota Tanjungpinang, katanya.
Suryatati kemudian mengutip penggalan puisinya: Hidup ini singkat/Kenapa harus diisi dengan menghujat/Hidup ini indah/Kenapa harus diisi dengan fitnah dan keluh kesah/Hidup ini nikmat/Kenapa harus diisi dengan dendam kesumat//.
Abdul Kadir Ibrahim berharap penerbitan dan peluncuran buku antologi puisi dan antologi cerita pendek itu dapat menjadi mutiara bagi pertumbuh-kembangan sastra Indonesia modern.
Dalam sebuah pantun ia mengatakan; Usai shalat Al-Quran dibaca/Kepala Allah merendah hati/Pertemuan sastrawan gapai ridhaNya/Karya sastra penghalus nurani.
Sumber: http://oase.kompas.com
Sumber Foto: http://rajaalihaji.com
Other news
Tuliskan komentar Anda !
Member login
Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa
Atau
Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra
Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7
atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7
Online | : 132 |
Hari ini | : 2.370 |
Kemarin | : 2.252 |
Minggu kemarin | : 10.059 |
Bulan kemarin | : 48.107 |
Total | : 7.997.789 |



Online
Hari ini
Kemarin
Minggu kemarin
Bulan kemarin
Total