Kamis ,18 Juni 2026
Balai Melayu Hotel

Info Terkini

Naskah Kuno Indonesia Banyak Diperjualbelikan

06 Nopember 2010 10:06:28

Jakarta - Naskah-naskah kuno yang menjadi bagian dari catatan sejarah Indonesia marak dijual ke luar negeri. Kebanyakan para pemiliknya lebih memikirkan uang daripada nilai penting naskah tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh Titik Pudjiastuti saat pengukuhan Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, di kampus UI Depok, Rabu (3/11). Dalam pidato pengukuhannya berjudul Naskah dan Identitas Budaya, Titik menyebutkan faktor ekonomi menjadi alasan utama pemilik atau ahli waris naskah menjual kepada pihak asing. ''Orang Indonesia itu selalu kalah dengan yang namanya uang,'' seloroh Titik.

Ia menyebutkan untuk harga serat Chentini yang diklaim pemiliknya sebagai naskah terlengkap di dunia dihargai Rp2,5 miliar. Itu pun setelah diteliti lebih lanjut, ternyata merupakan naskah salinan saja, bukan aslinya.

"Dua tahun lalu banyak terjadi pembelian naskah-naskah Melayu. Pembeli berani menawar hingga puluhan juta rupiah. Itu dilakukan oleh perorangan maupun pemerintah," jelasnya.

Malaysia merupakan salah satu negara yang paling gemar membeli naskah-naskah sejarah Indonesia. Titik menyebutkan naskah kuno dari Riau, Kutai, dan Aceh paling banyak dibeli. Naskah yang diborong berjenis naskah sastra kuno, legenda, sejarah, dan cerita.

"Malaysia tidak melakukan pencurian. Mereka mengakui bahwa naskah-naskah itu diambil dari negara lain, sebagai pertanggungjawaban akademis," lanjut Titik.

Ia menganggap penjualan naskah kuno ini bagian dari penjajahan budaya secara perlahan. Apabila hal itu terus dibiarkan, maka yang terjadi nantinya akar budaya bangsa Indonesia akan tercerabut. Generasi muda pun akan kehilangan identitas bangsa.

Senada dengan Titik, guru besar tetap FIB yang juga dikukuhkan pada hari itu Djoko Marihandono menyebutkan keterbatasan atau ketidakmampuan sejarawan membaca naskah kuno berbahasa Belanda, Prancis, Portugal dan Spanyol, menjadi kendala untuk mengungkapkan peristiwa sejarah di masa lalu. Sebaliknya orang asing menguasai naskah-naskah kuno tersebut. Padahal sumber referensi naskah-naskah kuno itu banyak ditemukan di Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional dan daerah.

"Di samping itu masyarakat sudah terlanjur menganggap buruk semua peninggalan kolonial," kata ahli sejarah kolonial dalam pidato pengukuhannya berjudul Profesional: Kajian tentang sumber sejarah dan metodologi. (*/BH/Nda/OL-04)

 

 

 

Sumber: http://www.mediaindonesia.com

 

Sumber Foto: http://m.acehkita.com


read : 4079

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  



Other news



Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7


Profil Penulis

 Online: 265
 Hari ini: 2.634
 Kemarin : 2.252
 Minggu kemarin : 10.059
 Bulan kemarin : 48.107
  Total : 7.998.053