Resensi
Lagak Wong Melayu di Jogja
21 Oktober 2010 13:55:46
Judul Buku : Lagak Wong Melayu di Jogja
Penulis : Sidik Jatmiko
Editor : Tim Penerbit Adicita Karya Nusa
Penerbit : Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Januari 2002
Tebal : xxi + 104 halaman
Ukuran : 0,4 x 17,9 cm
Buku ini merupakan tulisan dari orang Jawa tentang mahasiswa Melayu yang kuliah di Yogyakarta. Mereka adalah mahasiswa yang berasal dari daerah rumpun Melayu seperti Riau, Medan, Jambi, Palembang, dan sebagainya. Lagak para mahasiswa Melayu yang baru datang ke pusat kebudayaan Jawa itu seringkali mengundang tawa sekaligus menimbulkan rasa trenyuh.
Meskipun hanya berisi ulasan singkat tentang apa itu Melayu dan selebihnya berisi tentang cerita-cerita lucu tentang lagak mahasiswa Melayu di Yogyakarta, buku ini cukup dapat membuat tertawa dan memberi pesan pada setiap mahasiswa Melayu agar tetap waspada dan berhati-hati karena mereka tinggal di tempat yang sama sekali berbeda dengan daerah asal mereka.
Apa yang dialami oleh mahasiswa Melayu di Yogyakarta sebenarnya juga dialami oleh orang-orang lainnya meskipun tidak berasal dari Melayu, termasuk juga orang Jawa dari daerah lain. Hal ini dikarenakan karakter orang Jogja berbeda dengan karakter orang-orang dari daerah lain, misalnya dari Jawa Timur, Madura, atau Jawa Barat. Perbedaan karakter inilah yang menyebabkan orang baru di Yogyakarta dianggap memiliki lagak yang aneh-aneh.
Jangan Sombong
Apabila seseorang datang ke tempat baru tanpa ada pengalaman serta informasi yang memadai sebelumnya tentang tempat baru yang dituju itu, maka orang tersebut akan mengalami suatu “keterkejutan budaya” atau cultural shock. Keterkejutan budaya itu akan hilang seiring dengan proses belajar dan pemahaman yang dijalani pendatang tersebut terhadap tempat baru dan karakter budaya masyarakatnya. Kecerdasan dan sikap hati-hati akan membantu seberapa cepat atau tidaknya seseorang untuk beradaptasi dengan tempat baru.
Kondisi terkejut dengan budaya baru dapat dilihat dari sikap orang yang bingung, takut, hati-hati, atau bisa jadi malah sok tahu. Namun, jika melihat apa yang ditulis dalam buku ini, maka secara psikologis, siapapun orangnya, di manapun tempatnya, dengan siapapun kita berhadapan, maka sebenarnya kita diajarkan untuk tidak bersikap sombong.
Peribahasa Melayu yang menyebutkan “di mana bumi berpijak, di situ langit dijunjung”, merupakan ajaran luhur yang menganjurkan kita agar tidak berlagak dan berlaku angkuh. Jika demikian halnya, maka sukses atau tidaknya seseorang berada di negeri lain akan ditentukan oleh berhasil atau tidaknya orang itu beradaptasi dengan dirinya sendiri. Jangan-jangan malah dia sendiri yang akan mengalami keterkejutan dengan dirinya sendiri.
Yusuf Efendi
Sumber : http://melayuonline.com/ind/bookreview/read/151/lagak-wong-melayu-di-jogja
Other news
Tuliskan komentar Anda !
Member login
Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa
Atau
Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra
Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7
atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7
Online | : 258 |
Hari ini | : 2.278 |
Kemarin | : 3.455 |
Minggu kemarin | : 34.274 |
Bulan kemarin | : 134.890 |
Total | : 7.818.970 |



Online
Hari ini
Kemarin
Minggu kemarin
Bulan kemarin
Total