Kamis ,09 April 2026
Balai Melayu Hotel

Resensi

Kewirausahaan, Strategi Pemberdayaan Usaha Kecil dan Penduduk Miskin

29 Nopember 2010 15:09:43

Judul Buku : Kewirausahaan, Strategi Pemberdayaan Usaha Kecil dan Penduduk Miskin
Penulis : Drs. Zulkarnain, M.M
Penerbit : Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Penyelaras : Daryatun
Cetakan : September, 2006
Tebal : xix + 146 halaman
Ukuran : 14, 3 x 20 cm


Di zaman ketika ekonomi pasar dianut oleh hampir seluruh negara-negara besar, membincangkan atau menulis buku tentang ekonomi kerakyatan adalah sebuah keberanian. Mengapa demikian, karena konsep ekonomi kerakyatan ketika diaplikasikan dalam kenyataan membutuhkan semangat pantang menyerah dan keberanian tahan banting. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa ekonomi kerakyatan yang umumnya terwujud dalam pemberdayaan usaha kecil menengah selalu kalah bersaing dengan usaha besar dan modal yang kuat.

Ekonomi pasar (liberalisasi) selalu menang (dimenangkan) oleh modal dan penguasanya. Meskipun demikian, konsep ekonomi kerakyatan harus terus digelorakan mengingat masih banyak penduduk miskin di Indonesia yang membutuhkan pelaksanaan teori ini. Buku di hadapan Anda ini adalah salah satu contoh keberanian di atas. Penulis dengan pengalaman dan latar belakang ilmu ekonomi, kembali menyuarakan teori ekonomi kerakyatan yang dirasakan penting untuk strategi pemberdayaan usaha kecil dan penduduk miskin khususnya di Riau. Buku ini sangat penting untuk dibaca oleh mereka yang peduli pada pengentasan kemiskinan di negeri ini, baik pemerintah, pengusaha swasta, maupun kaum intelektual.

Buku ini cukup detil dan seimbang dalam membahas konsep ekonomi kerakyatan, karena penulis tidak hanya membahas konsep ekonomi rakyat semata (h. 93-105), tetapi dibahas juga tentang globalisasi dan etika bisnis (h.23-48). Penulis juga mengajak para pembaca untuk merenungkan problem kemiskinan negeri ini yang seperti benang kusut. Secara implisit penulis mengajak pembaca untuk mencarikan jalan keluar melalui teori ekonomi kerakyatan yang terejawantah dalam sistem koperasi yang di Indonesia (h. 115-142).

 

Koperasi dan Rentenir

Dr. Muhammad Hatta (1902-1980), wakil presiden Indonesia yang pertama kali mencetuskan koperasi sebagai sistem ekonomi yang dianggap tepat untuk rakyat Indonesia. Hatta aktif menggelorakan dan membimbing gerakan koperasi dan mematangkan konsep koperasi dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971). Pada Tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato di radio untuk menyambut Hari Koperasi di Indonesia. Semangat Hatta dalam gerakan koperasi ini membuatnya dianugerahi sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung (17 Juli 1953 ).

Saat ini, hampir di seluruh daerah di Indonesia telah berdiri jutaan koperasi dengan beragam model dan nama. Koperasi telah membantu rakyat Indonesia membangun perekonomian mereka. Melalui sistem simpan pinjam koperasi dengan bunga yang sangat rendah, masyarakat memanfaatkanya untuk membuat usaha mandiri dan kebutuhan ruma tangga. Koperasi menjadi sistem ekonomi kerakyatan yang cocok dengan kebudayaan masyarakat Indonesia yang mementingkan kehidupan gotong royong dan rembukan (musyawarah), baik petani, nelayan, maupun pedagang.

Sampai terjadinya reformasi, koperasi menjadi pilihan rakyat Indonesia ketika membuka atau mengembangkan usaha mereka. Hingga sekarang, masyarakat perdesaan Indonesia masih banyak yang setia menggunakan simpan pinjam ala koperasi. Para ibu-ibu Rukun Tetangga (RT) dan muda-mudi karang taruna menggunakan pola simpan pinjam untuk membantu kebutuhan ekonomi anggotanya. Hal ini sangat membanggakan karena kebudayaan gotong royong dan kebersamaan (kolektivitas) masih dipelihara oleh orang Indonesia.

Berkebalikan dengan para ibu-ibu RT dan muda-mudi karang taruna, berita menyedihkan justru datang dari ibu-ibu pedagang di pasar-pasar tradisional dan ibu-ibu di perdesaan. Sebagian dari mereka itu justru terlilit utang akibat ulah para pemberi hutangan dengan bunga mencekik, atau yang biasa disebut dengan rentenir.

Para rentenir dengan kelihaiannya merayu para ibu yang membutuhkan uang cepat tanpa mau ribet (susah). Para ibu biasanya akan tergoda rayuan rentenir karena mereka terdesak oleh masalah tertentu dan memang membutuhkan uang cepat. Meskipun bunganya mencekik (hampir seratus persen), ibu-ibu terkadang lebih senang berutang ke rentenir karena selain prosesnya cepat, cicilannya murah, juga ibu-ibu tidak perlu ke mana-mana untuk mendapat uang pinjaman.

Fenomena rentenir ini dalam taraf tertentu dirasakan sangat memilukan, karena ibu-ibu penghutang biasanya akan semakin tercekik hidupnya, akibat bunga yang tinggi dari rentenir. Sementara itu, usaha dagang ibu-ibu belum tentu berhasil.

Problem rentenir ini tentu saja menjadi tantangan para ilmuwan ekonomi kerakyatan, pemerintah, dan pengusaha untuk mencarikan solusi. Pihak-pihak tersebut dituntut untuk dapat “merayu” para ibu rumah tangga agar mau berutang ke koperasi dengan bunga yang rendah jika membutuhkan uang cepat. Bank-bank perkreditan rakyat juga dituntut untuk jemput bola dan menyederhanakan sistem pinjaman mereka, agar ibu-ibu rumah tangga mau datang ke bank.

Memang harus diakui, dalam era globalisasi ini sistem ekonomi kerakyatan mendapatkan tantangan yang sangat berat. Persaingan antarbank dan pelaku usaha terkadang berjalan dengan “licik” (baca: hanya mementingkan bisnis semata) dan tidak adil. Hal ini menyebabkan bank-bank kecil yang sebenarnya serius ingin menjalankan sistem ekonomi kerakyatan menjadi ikut-ikutan “licik”. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah melalui Komisi Pengawas Persaingan Usaha harus bersikap adil dan mendahulukan kepentingan rakyat.

Yusuf Efendi (res/37/11-10).


read : 14749

  Bagikan informasi ini ke teman Anda :  



Other news



Tuliskan komentar Anda !




Menu utama

Member login




Daftar Anggota | Lupa Password

Profil Penulis





Pembayaran

Bank Mandiri
Rekening Nomor :
137.000.3102288
Atas Nama :
Yayasan AdiCita Karya Nusa

Atau

Bank BCA
Rekening Nomor :
445.085.9732
Atas Nama :
Mahyudin Al Mudra

Konfirmasi pembayaran,
SMS ke : 0852 286 6060 7


atau lewat line Customer Servis di ( 0274 ) 377067
atau email akn@adicita.com atau adicita2727@yahoo.com
atau
Bagian Marketing Proyek
0852 286 6060 7


Profil Penulis

 Online: 252
 Hari ini: 2.339
 Kemarin : 3.455
 Minggu kemarin : 34.274
 Bulan kemarin : 134.890
  Total : 7.819.031